Kisah Ibu Penyapu Jalan dan Setengah Kotak Bakpia

Pagi itu sama seperti pagi yang lain, rutinitas harian bangun-mandi-kerja-pulang-mandi-tidur akan kujalani lagi setelah recharge sepanjang weekend. Ketika hendak berangkat ke kantor, kulihat sekotak bakpia oleh-oleh dari Dhe yang menginap seminggu lalu di sini. Pikirku “udah seminggu dan bakpia ini belum habis, apa kasih ke orang lain aja ya sebelum kadaluarsa? Tapi ke siapa? Ga mungkin orang kantor, ini ga begitu banyak juga.” Aku membiarkan sekotak bakpia itu tetap di tempatnya dan kemudian bergegas berangkat karena memang udah hampir telat juga.

Di perjalanan aku bertemu seorang ibu yang sejak hari pertama aku ngantor di daerah Kebon Sirih ini selalu ada di spot yang sama, di sekitar salah satu bank searah dengan kantorku. Ibu itu selalu aku temui dengan aktivitas yang sama, menyapu dedaunan di sekitar lokasi itu. Sesekali ia menyapa siapapun yang lewat, dan beberapa orang kerap memberinya uang atau makanan. Awalnya aku merasa ada yang aneh, ibu ini tak jarang berbicara sendiri. Dan tak sedikit orang yang melihatnya dengan pandangan curiga. Sampai akhirnya aku menyadari ibu ini bukannya tak memperhatikan. Ibu ini tau kalau akhir-akhir ini aku kerap berangkat agak siang, melintas di tempatnya mendekati jam 8 disaat dulu aku lewat sana 30 menit sebelum ini.

“Kok tumben siang amat neng?”, tanya ibu itu dengan suara lantang sampai-sampai bapak yang berjalan di sebelahku ikut menoleh. “Iya bu, kesiangan bangunnya”, jawabku sambil bergegas pamit mempercepat langkah menyadari aku terlambat. Herannya, ibu ini tidak mengenakan jam tangan sama sekali. Bagaimana ia tau kalau aku terlambat kalau ia bahkan tidak melihat jam? Ia memperhatikan.

Hari itu berjalan cukup melelahkan. Meeting, keluhan pelanggan, urus dokumen, permintaan layanan, huft, rasanya ingin cepat kembali weekend. Aku pulang agak malam waktu itu. Sebenernya sih bukan karena kerjaannya belum selesai, hanya sungkan pulang cepat di saat yang lain masih ada yang dikerjain. Sesampainya di kosan, aku melihat kembali si bakpia itu. Dan aku berpikir “apa kasih buat ibu itu aja ya? Mau ga ya si ibu?” dan kuberanikan diri buat ngasi kue itu keesokan harinya. “Bu, ini saya ada kue, ga banyak sih tapi saya seneng kalo ibu mau terima” kataku sembari menyerahkan bungkusan bakpia itu. Si ibu terdiam beberapa saat, “makasih banyak neng Alhamdulilah mudah-mudahan lancar rezekinya ya neng” katanya sumringah. Aku meng-amin-kan dan kemudian pamit untuk berangkat ke kantor. Senyum ibu itu membuat perasaanku lega dan jadi mood booster pagi itu, sebelum kemudian menghadapi rutinitas kantor yang kadang menguras emosi juga.

Keesokan harinya, hujan gerimis mewarnai Jakarta sejak malam sebelumnya. Dari kejauhan kulihat ibu itu seolah sedang menunggu seseorang. Ketika aku lewat, ibu itu mendekatiku dan berkata “Neng, makasih banyak kuenya. Anak-anak ibu pada suka, jarang-jarang neng bisa makan kue begitu, anak-anak nitip salam nitip makasih buat neng. Semoga lancar rezekinya. Kasian neng mereka anak yatim. Kalau ada rezeki jangan lupa sama anak yatim ya neng. Biar banyak yang doain.” Aku tertegun dan ga menyangka bahwa hal yang aku kira kecil, hanya setengah kotak bakpia, menjadi begitu besar artinya bagi ibu dan anak-anaknya. Mungkin karena itu orang tuaku ga pernah bolehin kami untuk buang-buang makanan. Karena apa yang kita buang bisa jadi banyak diinginkan orang.

Kisah hari itu mengajarkanku untuk tak hentinya bersyukur. Bahkan untuk sekecil apapun berkah yang aku terima, setiap harinya. Untuk udara yang kuhirup setiap saat, untuk makanan dan minuman yang bisa kukonsumsi, untuk pekerjaan yang mungkin masih sering aku keluhkan, untuk keluarga yang walau jauh disana tapi doanya tak pernah berhenti, untuk teman-teman yang mendukung di apapun kondisiku, untuk hidup yang diberikan Tuhan untuk kujalani. Dan tak ada kebaikan yang terlalu kecil untuk dilakukan bagi siapapun, tiap hari, tiap saat. Karena suatu hari nanti ketika kita tak lagi ada, biarkan yang hidup dalam kenangan orang lain tentang kita adalah kenangan baik, tentang kebaikan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s