Sepenggal Kisah dari ToysforKids [5]

Hari  yang ditunggu pun tiba. Minggu, 22 Februari 2015, hari pelaksanaan Muda Mudi Berbagi Toys for Kids yang kedua ini diadakan di Desa Girimukti, Kecamatan Saguling, Kabupaten Bandung Barat. Perlu waktu 1,5 jam untuk mencapai desa tersebut dari kota Bandung, jadi kami berangkat pagi-pagi karena acara akan dimulai pukul 9. Walaupun ngaret dari jadwal yang sudah disusun, tapi perjalanan menuju desa berjalan lancar dan kami selamat sampai tujuan. Seperti yang sudah kami duga sebelumnya, perjalanan menggunakan bargas akan menimbulkan kesan tersendiri bagi teman-teman MMB ketika itu. Tim MMB TFK yang berangkat hari itu berjumlah 25 orang ; aku, Tias, Cia, Daka, Aul, Rizka, Dhea, Bagus, Atika, Ubim, Ayu, Btari, Bara, Asih, Azka, Nisa, Silmy, Anggi, Iyus, Widdy, Irsyad, Yuyu, Della, Acid, dan Ulfah. Aku bareng Rizka berangkat naik bargas bareng Dhea dan Bara. Dan seperti yang sudah seharusnya, berisik banget hahaa 😀

10626157_10204022039966468_2750499311303759919_o     IMG_20150222_084144

Ketika kami tiba di kantor desa, suasana nya sudah ramai. Walaupun acara dimulai terlambat dari rundown, tapi secara keseluruhan berjalan lancar. Kehadiran beberapa orangtua siswa ketika itu memang membuat ruangan semakin riweuh, tapi tawa canda anak-anak itu membuat lelah kami tak berarti lagi. Beberapa anak terlihat menangis, dan dengan sigap rekan-rekan yang bertugas menjadi pendamping kelompok menenangkan mereka. Sejumlah 103 anak kami undang untuk ikut dalam acara hari itu, dan mereka tergabung dalam delapan kelompok. Kelompok 1 didampingi Dhea dan Bara, Kelompok 2 dengan Asih dan Azka, Kelompok 3 bareng Rizka dan Iyus, Kelompok 4 ada Bagus dan Della, di Kelompok 5 ada Acid dan Nisa, Kelompok 6 heboh bareng Irsyad dan Ulfah, di Kelompok 7 ada Anggi dan Silmy, dan terakhir Kelompok 8 didampingi Widdy dan Atika.

1424703016153

Acara berjalan sangat interaktif dipandu Aul dan Daka. Belum lagi ketika Ubim, Ayu, dan Yuyu menyusup diantara keramaian kala itu untuk mengabadikan momen-momen menyenangkan lewat foto dan video. Btari selaku ketua acara juga terlihat berbincang dengan bapak petugas desa. Di ruang perlengkapan terlihat Cia dan Tias menyiapkan properti games dan peralatan lain yang dibutuhin setiap saat. Dan aku? Dimana aku? Aku bertugas jadi operator sepanjang hari itu.

Acara demi acara berlalu. Mulai dari sambutan ketua acara, sambutan dari pihak desa, perkenalan dan menampilkan yel-yel, games lempar bola, menonton video, membuat mainan, bernyanyi bersama, pengumuman pemenang, hingga membagikan mainan. Senang rasanya melihat adik-adik itu aktif di setiap sesi. Berani berpendapat, berani tampil. Kreativitas mereka terlihat ketika mereka membuat mainan dari kulit jagung. Aku mengamati kelompok 3 ketika itu dan beberapa di antara adik-adik itu memilih sendiri model boneka seperti apa yang akan mereka buat, hingga warna rambut dan pakaian si boneka. Ketika sesi menulis cita-cita pun kami dibuat sedikit terhibur sekaligus miris. Senang rasanya ketika melihat mereka berani bermimpi untuk menjadi polisi, dokter, guru, bahkan artis. Namun miris ketika ada yang menulis ingin menjadi robot bahkan harimau. Mungkin ini dampak tontonan yang kurang sesuai untuk anak-anak seusia mereka 😦 Ketika mendengar ‘Terimakasih’ setelah mereka menerima mainan dari kami, gak ada yang lebih mengharukan dari itu. Beberapa anak bahkan terlihat masih bermain di sekitar kantor desa ketika acara sudah berakhir, bermain dengan boneka yang kami berikan.1424772380190

MMB ToysforKids hari itu, bagiku, terasa seperti perpisahan. Bukan berarti aku akan meninggalkan MMB, bukan, dan gak akan pernah. Aku hanya punya hal lain yang harus aku lakukan, yang berarti aku gak akan bisa sebebas dulu terlibat di sini. Bukan berarti aku gak sedih, aku sedih, banget. Rumit rasanya ketika senang dan sedih datang bersamaan. Duduk bersama ketika makan siang, mengucapkan apa yang ingin kami ucapkan saat evaluasi, foto bersama rekan-rekan yang lain, perjalanan pulang dengan obrolan yang entah kemana dan gimana,hari itu benar-benar hari yang berkesan dan gak terlupakan. Senang rasanya ada di tim ini bersama mereka. Semoga di ToysforKids selanjutnya kami bisa berbagi lebih banyak dan melihat senyum anak-anak yang lebih banyak lagi. Muda Mudi Berbagi, Yang Muda Yang Berbagi ! Toys for Kids, We Share We Play ! 😀

 

10991442_10204022030686236_6555234935948165698_o

10355462_10204022034326327_2963257301420896233_o1424607255644

Advertisements

Sepenggal Kisah dari ToysforKids [4]

ToysforKids 1 pada bulan Desember 2014 kemudian berlanjut pada bulan Februari 2015. Setelah menjadikan adik-adik panti asuhan sebagai Happiness Target kami pada event pertama, kini saatnya kami memilih desa sebagai tujuan selanjutnya. Dan sudah jadi tugasku, Tias, dan Cia sebagai divisi operasional desa untuk mencari desa mana yang cocok untuk kami jadikan target. Awalnya sulit, karena tidak satupun diantara kami bertiga yang merupakan warga asli Bandung. Sampai akhirnya perjalanan panjang membuat kami menemukan satu desa yang sesuai.

Siang itu, Kamis 29 Januari 2015, kami bersama Daka berniat untuk survei ke daerah UjungBerung, namun karena dirasa kurang sesuai, kami kemudian memutuskan untuk beranjak ke daerah Padalarang. Cuaca panas terik bukan halangan, kami sempat mampir ke Kota Baru Parahyangan karena beberapa diantara kami akan sholat waktu itu.  Setelah perbincangan dengan bapak penjual siomay, kami memutuskan untuk survei ke desa Girimukti yang kamipun gak tau itu dimana. Bermodalkan bertanya pada penduduk sekitar, kami menyusuri beberapa desa sebelum akhirnya tiba di Girimukti.

Perhentian pertama adalah kantor desa Bojong Haleuang. Dengan bantuan Daka yang fasih berbahasa Sunda, kami mendapati bahwa desa tersebut berada di Kecamatan Saguling, Kabupaten Bandung Barat. Kecamatan Saguling sendiri merupakan kecamatan baru hasil pemekaran dan ada lima desa lain yang berada dalam wilayah kecamatan Saguling. Girimukti adalah salah satu diantaranya. Kami kemudian pamit setelah memperoleh petunjuk jalan menuju desa Girimukti.

Perjalanannya lumayan berat, tapi seru. Kami melewati beberapa desa dengan kondisi jalan yang rusak, melewati lokasi galian C yang mana banyak truk melintas, melewati lapangan tembak milik Kopassus, tanjakan yang cukup terjal yang gak jarang membuat kami kesulitan mengendalikan laju dan keseimbangan kendaraan kami. Tapi di balik semua tantangan tersebut, kami juga bersyukur karena pemandangan alam yang disuguhkan luar biasa indahnya. Hamparan sawah hijau nan luas, bariasan bukit yang tak henti membuat kami berdecak kagum, dan udara segar yang tak selalu bisa kami temukan di perkotaan.Tak lama, kami menemukan kantor desa Girimukti. Disambut oleh beberapa pegawai kantor tersebut, kami menyampaikan maksud kedatangan kami, untuk survei sekiranya desa tersebut cocok untuk kami jadikan target kegiatan MMB ToysforKids selanjutnya. Berbincang dengan Pak Utang, kami mendapat informasi bahwa diantara lima desa lainnya di Kecamatan Saguling, Girimukti adalah yang lokasinya ditengah-tengah sehingga akses menuju perkotaan lebih sulit bagi penduduk desa Girimukti. Bukan hanya karena jalan darat yang rusak berat, tapi adanya perairan yang berada di ujung desa Girimukti, dimana kita perlu menyeberang dengan menggunakan perahu yang mereka sebut bargas. Kami juga bertanya tentang mata pencaharian penduduk sekitar dan mengetahui kebanyakan dari mereka adalah buruh tani dan hasil bumi yang banyak terdapat di desa tersebut adalah jagung. Sepanjang perjalanan desa itupun kami melihat hamparan kebun jagung dan beberapa penduduk disana terlihat sedang menjemur jagung hasil panen.

SeIMG_20150129_154410telah menanyakan beberapa informasi lainnya seperti jumlah anak dan sekolah di desa tersebut, kami kemudian pamit. Pak Utang menyarankan kami untuk menyeberang dengan bargas ketimbang kembali dengan melewati jalan sebelumnya karena alasan jarak dan kondisi jalan. Belum lagi cuaca yang kala itu sangat mendung dan menyiratkan akan turun hujan tak lama lagi. Kami pun menuruti saran tersebut dan ……………. Part paling seru selama perjalanan itu adalah menyeberang perairan dengan bargas. Perjalanan jauh kala itu pun terbayarkan dengan pengalaman seru sepanjang hari. Tak lupa kami mengambil beberapa dokumentasi foto untuk laporan saat rapat.

Saat rapat, kami merekomendasikan desa tersebut yang kami rasa sesuai untuk dijadikan target TFK selanjutnya. Belum lagi kenyataan bahwa kulit jagung disana dianggap sebagai sampah, yang padahal bisa dijadikan sesuatu yang punya nilai guna. Akhirnya diputuskanlah bahwa TFK 2 akan diselenggarakan di desa tersebut, dan dimulailah rangkaian TFK sebagaimana yang kami lakukan pada TFK 1.

1423972808292Kesibukan dimulai kembali. Mengunjungi beberapa sekolah, seperti SDPN Sabang, SD Soka, dan SD Taruna Bakti untuk mencari Happiness Agents, melakukan sosialisasi di CFD Dago, pengumpulan mainan, hingga penghitungan dan membungkus mainan tersebut sebelum kami bagikan ke Happiness Target. Banyak kejadian lucu dan berkesan selama proses tersebut. Mulai dari rasa syukur dan senang ketika mendapati drop box mainan yang kami letakkan di beberapa sekolah selalu penuh setiap harinya, bermain HIMG_20150217_140956appiness Ring di CFD bersama adik-adik yang kebetulan berkunjung, rumitnya mengangkut mainan yang jumlahnya banyak dengan menggunakan motor, pusingnya mengelompokkan dan menghitung mainan tiap sekolah, hingga riweuhnya suasana membungkus mainan tersebut. Tapi setiap proses yang dinikmati akan memberikan pengalaman yang berkesan dan gak terlupakan.

 

IMG_20150217_145146 IMG_20150217_203647 IMG_20150220_153851

 

Divisi operasional desa kembali mengunjungi Girimukti pada Senin 9 Februari 2015, kali ini ditemani D
aka dan Bagus. Kami berangkat melewati jalur desa Pangauban dan menyeberang dengan barg1423474037644as. Ternyata lumayan bisa menghemat waktu perjalanan jika kami melewati jalur itu. Berbincang kembali dengan Pak Utang, kami menyampaikan maksud kedatangan kami membawa surat izin mengadakan kegiatan di desa Girimukti. Kami menjelaskan bahwa konten acaranya nanti adalah bermain, membuat mainan bersama dari bahan jagung, dan membagikan mainan untuk adik-adik di desa tersebut. Kami juga diberi kesempatan mengunjungi ladang jagung bersama Pak Lan, salah satu petugas desa. Ketika akan pamit, bapak kepala desa Girimukti telah kembali dari rapat dan berbincang dengan kami. Beliau menyatakan dukungannya atas niat kami mengadakan acara di desa tersebut. Tak lama setelah itu, kami pamit karena cuaca yang sepertinya akan hujan. Kami kembali melewati jalur menuju Kota Baru Parahyangan. Hujan yang cukup menyulitkan pandangan dan membuat jalan jadi licin menjadi tantangan sepanjang hari itu. kami memutuskan untuk mampir di Kota Baru Parahyangan karena beberapa di antara kami akan sholat. Setelah sholat pun hujan tak kunjung berhenti. Daka memberitahu bahwa di sana terdapat sebuah pusat iptek. Kamipun akhirnya mengunjungi tempat tersebut, dan alhasil kami serasa kembali ke masa sekolah dimana sains jadi hal yang menyenangkan.

Seminggu setelah hari itu, tepatnya Rabu, 18 Februari 2015, kami kembali ke Girimukti untuk memastikan persiapan acara hari Minggu  22 Februari 2015 berjalan baik. Ditemani Daka, Aul dan Della, kami memulai perjalanan yang kami gak pernah sadari akan jadi perjalanan paling panjang yang pernah kami lalui. Urusan kami di kantor desa sebenarnya sudah selesai sekitar pukul 1 siang, tapi kami memutuskan untuk pulang melewati jalur desa Jati, walaupun Pak Utang udah bilang jalur lewat sana jauh dan jalannya rusak. Dan benar saja. Kami kira gak akan separah itu. Tanjakan yang penuh batu, jalan rusak sepanjang perjalanan, jalur sepi masuk hutan, jalan licin akibat hujan, ketemu jalan besar tapi masuk jalan kecil lagi. Udah gak karuan rasanya capek banget naik motor lama kayak gitu. Tapi kami menemukan satu pemandangan yang bagus banget ketika kami melewati bendungan Saguling. Saat menjelang magrib, akhirnya kami menemukan jalan pulang yang sesungguhnya. Empat jam memutar sebelum kembali ke jalan yang bener. What a day ! 😀

1424363670473 1424363623767

Sepenggal Kisah dari ToysforKids [3]

Minggu, 14 Desember 2014, menjadi hari yang begitu kami tunggu. Ya, hari pelaksanaan Muda Mudi Berbagi edisi Toys for Kids. Dengan segala persiapan sejak sehari sebelumnya, mulai dari pemilihan mainan yang akan disumbangkan, membungkus rapi mainan tersebut dengan kertas bergambar sesuai gender, menyiapkan snack untuk adek-adek di Panti, dan semua persiapan teknis maupun non teknis lainnya, kami siap untuk berbagi kebahagiaan hari itu. Kadang terbersit sedikit rasa khawatir jika acara tersebut kurang bisa menarik antusiasme mereka, tapi kami mencoba semampu kami untuk melakukan apa yang harus kami lakukan sesuai instruksi divisi acara.

B4y1FxHCAAEa0xx

Aku ingat pertama kali datang ke panti itu sekitar satu setengah bulan yang lalu, saat survei bersama Adi, Tias, Dhea, dan Rizka. Disambut dengan begitu hangat oleh ibu pengurus panti, berbincang dengan beberapa adek-adek di sana, bahkan sempat mengajarkan matematika walaupun hanya sebentar. Ketika aku dan Tias sedang berbincang dengan tiga adek laki-laki, salah satu dari mereka bertanya, “Kak, kita mau mainnya jam berapa? Acaranya jam berapa?” Aku dan Tias hanya bisa menjelaskan kalo kita gak main hari itu, tapi suatu hari nanti pasti. Dan hari itu datang tanggal 14 Desember kemarin.

Setelah jam makan siang, kami memulai acara. Terasa agak canggung awalnya, tapi suasana menjadi lebih cair saat taglineWe Share We Play” diperagakan oleh kami dan diikuti oleh adek-adek itu. Usia mereka beragam. Ada yang masih balita, usia SD, SMP, bahkan SMK. Semua ikut bermain tanpa melihat usianya. Bahkan yang usianya lebih tua terlihat mampu mengarahkan adek-adeknya dalam beberapa games yang kami mainkan saat itu. Semua bergembira bersama.

B4zCW8UCcAIWyEX

Setelah memainkan 5 games berbeda, Atika dan Aul dari divisi Acara menjelaskan makna dari setiap permainan itu. Tujuannya agar adek-adek mengetahui bahwa belajarpun juga bisa dilakukan dengan bermain. Mulai dari melatih fokus mereka akan instruksi hingga melatih kekompakkan mereka sebagai sebuah tim, terlebih lagi sebagai saudara yang tinggal seatap. Setelah games dan share the meaning berakhir, dilakukan penyerahan hadiah kepada adek teraktif di setiap kelompok. Tak lupa juga penyerahan mainan secara simbolis kepada ibu pengurus panti dan snack untuk semua adek-adek panti. Foto bersama menutup perjumpaan kami siang itu.

20141214_144613

Lega adalah kata yang mampu mewakili perasaanku (dan mungkin kami semua) ketika acara itu berakhir. Setidaknya upaya kami sebulan terakhir terbayarkan ketika kami melihat senyum mereka siang itu. Setidaknya pilot project dari ToysforKids berjalan dengan lancar. Kami bersyukur bahwa masih banyak orang yang peduli dengan menjadi Happiness Agents kami, sebutan untuk para donatur mainan pada project ini. Kami juga bersyukur bahwa apa yang telah kami cita-citakan sejak Muda Mudi Berbagi MealforKids berakhir awal tahun 2014 yang lalu, mengadakan acara berbagi yang lain berupa mainan bisa terealisasi. Kami bersyukur di tengah semua yang kami alami sepanjang masa-masa persiapan acara, segalanya berjalan dengan baik pada waktunya. Semoga project lanjutan ToysforKids di panti maupun desa lainnya setelah ini berjalan dengan lancar. Semoga senyum-senyum bahagia dari wajah adek-adek saat membuka kado mainan itu dapat kami lihat di project berikutnya. Semoga 🙂

Muda Mudi Berbagi #ToysforKids

Muda Mudi Berbagi #ToysforKids

 

Sepenggal Kisah dari ToysforKids [2]

Hari Jumat itu, saat periode pengumpulan mainan di SD berakhir, kami berkunjung untuk mengucapkan terimakasih atas kerjasama yang sangat baik dari pihak sekolah dan mengambil kembali box Toys for Kids di sekolah itu. Tak kurang dari 200 mainan kami peroleh dari SD favorit se-Jawa Barat itu, itupun belum termasuk mainan yang ingin disumbangkan oleh para orangtua murid yang kebetulan melihat banner kami siang itu. Kami belajar begitu banyak dari sana, setidaknya sebagai strategi untuk pengumpulan mainan selanjutnya. Dan hari itu, kami berkesempatan berjumpa lagi dengan teman kecil kami, Balqis, Maharani, Kezia, Safa, dan teman lainnya, Kafka.

Mereka masih ingat kami, ketika kami sengaja menyambangi kelas mereka untuk melihat-lihat. “Kakaaakkk”, teriak yang satu dan memanggil temannya yang lain. Kami ngobrol banyak dan main bareng. Hhmmmm lebih tepatnya mereka ingin bermain dengan kami sebelum mereka bener-bener pulang. Lucu ketika melihat mereka dengan segala daya imajinatifnya berperan sebagai kupu-kupu, Elsa Frozen, bahkan berpura-pura sedang fashion show.

Ketika sedang rehat, Dhea, salah satu dari kami, hendak berbelanja ke kantin dan adek-adek itu bersedia mengantar. Ketika kembali, kami mendapati yang lebih banyak belanja justru mereka. Saat kutanya, Kafka dengan polosnya menjawab “Iya kakak itu yang beliin. Aku belinya satu aja, Balqis tuh yang belanja banyak. Padahal udah kubilang kasian kakaknya kalo kita belanjanya banyak, kasian uangnya habis nanti.” Dan saat aku bertanya sudahkah mereka berterimakasih, adek itu menjawab “Sudah kak, sudah tiga kali malah.” Aku hanya bisa tertawa kecil dan memberikan toss tanda setuju.

Hampir seminggu bekerjasama dengan sekolah itu membuat aku belajar banyak hal. Ketika melihat celengan terisi penuh yang disumbangkan oleh seorang anak kelas 4 SD, aku belajar tentang keikhlasan berbagi. Ketika melihat seorang anak laki-laki yang tanpa ragu menyumbangkan bola yang baru saja dimainkannya, aku belajar tentang membantu tak perlu menunggu waktu. Ketika melihat seorang anak mampu berpikir bahwa mungkin saja yang dilakukannya memberatkan orang lain, aku belajar bahwa pentingnya melihat ke dalam diri kita dan memikirkan orang lain. Dan ketika aku melihat senyum ceria adek-adek di sana ketika kami ajak bermain, aku belajar bahwa mainan seperti apapun yang dimiliki, keberadaan teman bermain akan melengkapi kebahagiaan itu.  Yah, aku dan kami semua belajar banyak, dari anak-anak .

Sepenggal Kisah dari #ToysforKids [1]

“Siapa yang mau bantu temen-temennya di panti asuhan dan desa terpencil?”, pertanyaan yang selalu aku lontarkan saat sosialisasi kegiatan sosial Muda Mudi Berbagi edisi #ToysforKids , terutama untuk anak SD. Dan yang menyenangkan adalah ketika melihat antusiasme mereka yang hampir di setiap kelas seluruh anak mengacungkan tangannya. Apa artinya? Mereka punya kemauan untuk berbagi apa yang mereka punya, untuk teman-temannya yang mungkin tidak seberuntung mereka. Toys for Kids sendiri merupakan project kami yang bertujuan menyalurkan mainan bekas layak pakai dari pelajar SD, SMP, dan SMA untuk anak-anak panti asuhan dan desa terpencil di wilayah Bandung.

1417406655520

Tak sedikit pula yang mampu menebak maksud kedatangan kami ke kelas mereka, ketika kami menanyakan beberapa pertanyaan sederhana tentang mainan mereka. “Pasti mau disumbangin deh”, bisik mereka tapi cukup keras untuk bisa aku dengar. Tingkah lugu anak-anak memang tak henti membuat kami tersenyum di setiap kami datang ke kelas mereka. Memang ada beberapa tanggapan seperti tak peduli, tapi kami bersyukur karena lebih banyak yang punya semangat untuk berbagi. “Aku punya banyak kak, ditaruh di gudang”, kata seorang anak laki-laki. Ibu guru di kelasnya pun membantu dengan berkata, “Tuh, daripada rusak ditaruh di gudang lebih baik disumbang untuk temen-temennya.” Dalam hati aku berkata “Oke, aku bener-bener menikmati apa yang aku lakuin sekarang.”

Lain lagi cerita kami kemarin pagi. Kunjungan ke SD paling favorit di kota Bandung ini meninggalkan sejuta kesan yang gak terlupakan bagiku dan dua orang rekanku, Aul & Btari. Ketika kami datang, kami menata drop box dan x-banner, meminta izin kepada bagian kesiswaan untuk sosialisasi sesuai kesepakatan saat pengajuan proposal dulu, dan dimulailah cerita itu. Semua berjalan seperti sosialisasi di SD sebelumnya, sampai kami berkenalan dengan teman-teman kecil kami yang baru, Balqis, Maharani, Olive, Kezia, dan beberapa temannya yang lain. Mereka terlihat begitu menikmati harinya di sekolah, penuh semangat, bahkan Kezia terlihat sangat aktif memperkenalkan teman-temannya kepada kami.

IMG_20141209_092219

Mereka mulai bercerita tentang hari-hari mereka, dan kami juga tak henti bertanya. Mereka tertarik pada proposal yang kami bawa. Balqis duduk di sebelahku dan mulai membaca, walaupun agak kesulitan karena ada beberapa kata bahasa Inggris yang tidak ia mengerti. Maklum, mereka masih duduk di kelas 2 SD. Aku mulai bercerita tentang kegiatan berbagi mainan ini. Pertanyaan Balqis setelah itu membuatku tak sanggup menjawab. “Kakak bikin acara ini disuruh sama siapa?”

Entah gimana cara jawabnya supaya dia dapat mengerti. Aku hanya bilang “Nolongin temen-temen itu gak perlu nunggu disuruh siapa.” Balqis mengangguk seperti dia telah mengerti, dan kemudian melanjutkan bermain dengan Kezia dan Maharani. Raut ceria tak pernah lepas dari wajah mereka. Waktu masuk kelas membuat kami berpisah sejenak. Tak lupa, Olive berkata bahwa dia sudah melihat drop box yang kami letakkan di dekat piket satpam depan sekolah mereka.

Saat kami berjalan melewati kelas mereka saat sosialisasi telah berakhir, mereka menghampiri dan memeluk kami satu per satu. “Kakak mau kemana?” tanya mereka. Ketika kami bilang kami mau pamit, Olive tiba-tiba mencium tangan kami bertiga. Oh God, what a sweet girl :’)

Cerita tak berakhir di sana. Ketika kami berbincang dengan salah satu bagian Kesiswaaan sekolah, kami menemukan hal yang membuat kami begitu terharu. Bapak guru itu menunjukkan sebuah celengan berbentuk beruang yang terisi penuh. “Anak itu bilang dia mau nyumbang ini lengkap dengan isinya.” Kami bertiga terdiam dan saling bertukar pandang, gak nyangka anak SD bisa seikhlas itu menunjukkan rasa ingin berbaginya. “Entah sudah berapa lama dia ngumpulin uang ini, katanya untuk anak panti aja. Semoga berkah ya rezeki untuk anak pantinya”, kata bapak itu menambahkan. Setelah berbincang sejenak, kami pun pamit.

Saat kami akan pulang, kami melihat beberapa anak berkerumun di drop box #ToysforKids. Betapa terkejutnya kami ketika melihat sudah ada beberapa mainan yang ada di dalam box itu. Kami teringat kata-kata bapak guru tadi yang bilang kalo beliau udah sosialisasi ke kelas yang diajar kemarin. Dan hasilnya sangat mengharukan. Tak sedikit mainan yang disumbangkan itu berukuran besar. Betapa luar biasa hati anak yang menyumbangkan mainan-mainan itu. Bahkan ketika kami tinggal sebentar untuk istirahat, jumlah mainan itu terus bertambah. Ketika kami akan membawa mainan itu, seorang anak laki-laki yang akan pulang sehabis bermain bola berhenti sejenak dan membaca x-banner kami yang bertuliskan “Sumbangkan Mainanmu Di Sini. Mainan Akan Kami Salurkan Kepada 1000 Anak di Panti Asuhan dan Desa Terpencil”. Tak lama setelah itu dia berkata, “Permisi, saya mau nyumbang kak.” Dia meletakkan bola yang baru saja dimainkannya ke dalam drop box, kemudian pulang sambil tersenyum setelah kami mengucapkan terimakasih.

IMG_20141209_090116Pengalaman ini menunjukkan bahwa kita bisa belajar banyak dari anak-anak. Dari kepolosannya, keluguannya, sifat penyayangnya, dan yang pasti adalah keinginannya untuk berbagi dan membantu sesama. Semoga kelak mereka mampu menyebarkan sisi-sisi positif dalam diri mereka dan menjadi penggerak perubahan ke arah yang lebih baik bagi negara ini.

 

Semua Mainan Memiliki Educational Value, Asalkan …..

“Semua anak-anak bermain. Ini adalah bagian penting dalam tumbuh kembang mereka. Melalui bermain, anak-anak akan merasakan kegembiraan, menjelajah dunia mereka, dan mengembangkan pengetahuan serta skill mereka di dunia sosial. Mainan merupakan bagian tidak terpisahkan dari aktivitas bermain di semua usia dan dapat membantu pertumbuhan intelektual, menstimulasi kreativitas, dan meningkatkan interaksi serta pembelajaran sosial mereka. Pengalaman dengan mainan dimulai segera sesaat setelah kelahiran mereka dan berlanjut pada masa kanak-kanak, namun cara seorang anak menggunakan mainannya akan bervariasi berdasarkan usia, tingkat perkembangan, intelektualitas, dan kemampuan fisik mereka.”

Begitulah sepenggal paparan pembuka pada Intergovernmental Forum on Chemical Safety (IFCS) Forum tahun 2006 silam. Terlepas dari segala perbedaan demografi dan geografi, mainan akan selalu menjadi bagian tidak terpisahkan dari anak-anak. Begitu banyak peranan mainan dalam membantu anak-anak melewati masa tumbuh kembangnya. Professor Trawick-Smith menyebutkan bahwa anak-anak menggunakan mainan dalam tiga area, yaitu untuk proses berpikir/belajar/problem-solving, interaksi sosial, dan kreativitas. Mainan edukatif, begitu yang biasa diistilahkan untuk menyebut mainan yang punya manfaat menambah pengetahuan anak-anak, menjadi kajian yang banyak dibahas para pakar terkait pola bermain anak. Seorang pakar pertumbuhan anak, Dra. Mayke S. Tedjasaputra, M.Si, mengatakan bahwa mainan edukatif akan memberi beberapa manfaat pada anak seperti membantu mengenalkan warna dan bentuk, melatih konsentrasi, mengenalkan hukum sebab akibat, melatih kemampuan gerak, dan melatih kemampuan berbahasa.

Mainan yang tepat di saat yang tepat tidak hanya menyenangkan, tetapi juga mengedukasi anak-anak. Sebenarnya, seluruh mainan dapat dikatakan memiliki educational value, namun beberapa mainan cenderung memiliki educational value yang lebih dibandingkan jenis mainan lainnya. Dilansir pada situs http://mums.bodyandsoul.com, mainan yang menawarkan pengalaman yang tepat pada tingkat usia yang sesuai akan selalu menjadi mainan edukatif yang paling efektif. Untuk itu, mengetahui kecenderungan, kebiasaan, dan kemampuan anak berdasarkan usia akan menjadi hal penting dalam menentukan mainan seperti apa yang akan memberikan educational value yang tepat. Berikut adalah gambaran mainan yang sesuai untuk beberapa usia anak :

  1. Usia 0 – 1 tahun, dengan kemampuan dasar hand-eye-coordination, anak usia ini sedang dalam tahap belajar untuk mengikuti pergerakan dan suara, serta belajar menggenggam sesuatu. Untuk merespon hal tersebut, mainan yang tepat antara lain gambar-gambar dengan berbagai warna, mainan yang digantung, music box, dan mainan dengan tekstur lembut.
  2. Usia 1 – 3 tahun, dengan kemampuan dasar gross & fine motor skills, anak usia ini akan secara banyak melakukan gerakan tubuh (gross motor skills) dan menirukan mainan serta objek lainnya dengan lebih baik (fine motor skills). mereka belajar tentang bentuk dan ukuran, belajar mengenali rupa hewan dan suaranya. Untuk merespon hal tersebut, mainan yang tepat antara lain puzzle, bola, boneka, dan play-dough.
  3. Usia 3 – 5 tahun, dengan kemampuan dasar counting, scoring, measuring, comparing, dan learning, anak-anak usia ini sedang dalam mode “problem-solving and competition”. Tahap ini juga merupakan tahap penting dalam membentuk imajinasi anak. Untuk merespon hal tersebut, mainan yang tepat adalah puzzle, boardgame, sepeda, bola, building blocks, serta situational toys (permainan profesi, seperti dokter-dokteran, penjual, pemadam kebakaran, dst)

 

Pendapat tersebut selaras dengan pendapat Carrie Lupoli, seorang konsultan pendidikan dan orang tua. Dalam workshop Joy of Learning pertengahan tahun 2013 lalu, Carrie berpendapat bahwa anak-anak sebaiknya mendapatkan mainan yang tepat sesuai perkembangan usianya. Hal tersebut karena ketika anak bermain, ada banyak hal yang bisa dilatih mulai dari fisik maupun emosionalnya. Usia 0 – 5 tahun merupakan masa-masa penting, dimana otak anak berkembang pesat sehingga mainan yang tepat akan dapat merangsang kemampuan anak dengan optimal.

Samantha Atherton, seorang psikolog pendidikan Sydney, berpendapat bahwa yang terpenting seringkali bukan mainannya, tetapi proses bermainnya. Mainan sifatnya insidental. Bahkan mainan edukatif pun seringkali punya keterbatasan, mainan tersebut hanya mengajarkan satu skill tertentu. Jadi setiap mainan pada dasarnya punya educational value, hanya jika value itu yang ingin dimunculkan pada anak sesuai usianya. Yang lebih penting dari semuanya adalah bagaimana anak melalui proses bermainnya. Senada dengan pendapat tersebut, seorang psikolog anak, Vera Itabiliana, menyebutkan bahwa keberadaan orang-orang terdekat anak (misalnya keluarga dan teman-teman sebayanya) akan membantu anak menikmati permainan yang sedang mereka mainkan. Suasana menyenangkan itu juga penting bagi proses bermain pada anak.

 

 

Referensi :

Intergovernmental Forum on Chemical Safety, Fifth Sesion – Forum V (25 – 29 September 2006)

http://www.naeyc.org/content/what-research-says-toys-and-play

Pentingnya Memberi Anak Mainan Edukatif

http://mums.bodyandsoul.com.au/kids+health/health/toys+that+teach+our+kids+how+to+learn,8973

http://wolipop.detik.com/read/2013/06/14/151827/2273690/857/pentingnya-memilih-mainan-yang-tepat-sesuai-usia-anak

www.joannejacobs.com

Classic Toys di Tengah Era Digital Toys

Mainan adalah salah satu ‘harta’ berharga milik anak-anak. Ketika kita kecil dulu, seringkali kita pergi ke rumah tetangga sebaya kita dengan membawa mainan yang kita punya. Boneka, mobil-mobilan, mainan peralatan masak memasak, bahkan perangkat dokter-dokteran. Begitu pula ketika kita menjadi ‘tuan rumah’ kegiatan bermain. LEGO, puzzle, maupun balok-balok kayu berwarna sudah menjadi pemandangan yang tidak asing. Ketika itu terjadi sekitar sepuluh tahun yang lalu, apakah hal yang sama masih dialami oleh anak-anak masa sekarang? Di tengah meningkatnya pemahaman masyarakan tentang teknologi, apakah cara bermain anak juga mengalami pergeseran? Bagaimana dengan classic toys yang pernah berjaya di era nya dalam menghadapi gempuran digital toys yang makin marak?

Data dari The NPD Group, sebuah perusahaan informasi global, pada bulan Juni 2014 menunjukkan penggunaan tablet PC pada anak usia 2 – 12 tahun meningkat sekitar 10%, dari 38% menjadi 48% pada tahun 2014. Kepemilikan tablet PC pada anak usia 2 – 12 tahun tersebut juga meningkat dari 50 menjadi 59% dalam setahun terakhir. Data tersebut menunjukkan bahwa anak-anak tidak hanya sekadar menggunakan, tapi juga merupakan ‘pemilik sah’ mainan digital tersebut. Kendati demikian, bukan berarti mainan klasik seperti puzzle, boneka, mobil-mobilan, atau balok kayu kehilangan tempat di hati anak-anak. Sekitar 37% orangtua menyatakan bahwa waktu bermain yang dihabiskan anak-anak mereka dengan teknologi lebih sedikit dibandingkan waktu bermain yang dihabiskan dengan mainan-mainan klasik.

Walaupun kehadiran mainan digital seperti PlayStation, Nintendo, Xbox, maupun berupa tablet PC kian gencar menjadi pilihan yang tersedia bagi anak, survei National Retail Federation (NRF) tahun 2013 menunjukkan bahwa mainan klasik masih menempati peringkat teratas mainan pilihan anak-anak, baik laki-laki maupun perempuan. Untuk kategori Top Toys for Boys, LEGO menduduki peringkat pertama, diikuti dengan video games, generic cars & trucks, Hot Wheels, Xbox One, PlayStation 4, the Skylanders video game, remote controlled vehicle, action figure, sepeda, dan Teenage Mutant Ninja Turtles. Sedangkan untuk anak-anak perempuan, boneka Barbie masih menjadi primadona di peringkat teratas, disusul oleh generic dolls, Monster High dolls, Disney princesses, tablet PC, American Girl, Lalaloopsy, Furby, LEGO, Elmo, Hello Kitty, My Little Pony, dan PlayStation 4.

  Menurut Mr John Ungermand, Senior Director Emerging Market, bermain Lego memiliki beberapa manfaat, antara lain untuk mengasah imajinasi, kreativitas, dan memicu pemainnya untuk bergembira sambil belajar. Sedangkan Barbie, menurut Jia-Li Fong, Marketing Manager Mattel Asia Tenggara, telah lama menjadi mainan favorit anak perempuan di seluruh dunia dan hingga saat ini Barbie menyediakan lebih dari 150 macam jenis profesi yang memungkinkan anak-anak dapat bermain dan berimajinasi untuk menjadi apapun yang mereka inginkan.

Jika survei itu dilakukan di Amerika, bagaimana dengan Indonesia? Mainan klasik seperti dakon, kelereng, LEGO, dan puzzle masih memperlihatkan eksistensinya. Pada tahun 2013, tercatat penjualan mainan-mainan jenis mencapai Rp 60 miliar. Setiap tahunnya, terdapat peningkatan penjualan mencapai 10 – 15%. Menurut dara dari Asosiasi Penggiat Mainan Edukatif dan Tradisional Indonesia (APMETI), terdapat sebanyak 24 pelaku usaha mainan jenis ini yang tergabung di dalamnya. Setiap bulannya masing-masing pelaku usaha dapat menjual sekitar 6000 unit yang sebagian besar menargetkan sekolah usia dini atau PAUD sebagai target konsumennya dengan harapan anak-anak usia tersebut dapat mengasah pengetahuan dan kreativitasnya lewat permainan edukatif, seperti LEGO atau puzzle.

 

Referensi :

https://www.npd.com/wps/portal/npd/us/news/press-releases/kids-tablet-play-and-household-ownership-increases-reports-npd/

 http://www.nbcsandiego.com/entertainment/the-scene/NRF-2013-Top-Toys-for-Kids-Holiday-Survey-232952141.html#ixzz3IUf8OdOU

 http://old.jawaban.com/index.php/money/detail/id/11/news/140416140429/limit/0/Usaha-Mainan-Edukasi-Mendidik-Sekaligus-Menguntungkan.html

http://wartakota.tribunnews.com/2014/01/23/5-manfaat-bermain-dengan-lego

http://www.the-marketeers.com/archives/barbie%E2%80%99s-day-out-usung-pentingnya-imajinasi-anakanak.html#.VGRUTTQizKo

 

Sharing Happiness through Toys

Bermain boleh jadi merupakan aktivitas yang paling kita senangi ketika kita kecil dulu. Bahkan sebagian orang menganggap bahwa bermain adalah ‘tugas utama’ seorang anak hingga usia tertentu. Anggapan tersebut tidaklah salah. Pada kenyataannya, bermain diakui sebagai salah satu sarana efektif bagi anak untuk mengembangkan dirinya pada usia-usia tersebut. Menurut pakar, seperti yang dikutip dalam www.neraca.co.id, bermain melalui mainan merupakan sarana stimulasi bagi kemampuan anak, sarana untuk mengasah keterampilan anak dalam mengobservasi dan mempraktikkan kemmapuan yang dimilikinya, serta dapa membangun fungsi tubuh anak agar dapat berkembang lebih baik. Kecerdasan dan fungsi tubuh anak bisa dibangun lewat aktivitas bermain.

Hasil penelitian Martha Farah, Direktur Center for Neuroscience and Society di University of Pennsylvania menunjukkan bahwa stimulasi kognitif anak akan memiliki dampak signifikan jika sang anak distimulasi menggunakan buku, mainan yang mendidik, dan alat musik yang nyata.Dengan mainan yang dimilikinya, anak-anak dapat merasa bahagia yang kemudian akan menstimulasi syaraf-syaraf otak untuk saling terhubung sehingga membentuk sebuah memori baru. Sebuah memori indah yang akan membuat jiwa anak menjadi lebih sehat. Pendapat tersebut dibuktikan dalam Global Kids Study tahun 2013, dimana bermain menduduki peringkat ketiga sebagai faktor yang menyebabkan anak merasa bahagia.

Bagaimana dengan Indonesia? Dari World Happiness Report 2013 yang dibuat berdasarkan evaluasi United Nations Sustainable Development Solution Network, Indonesia menempati peringkat 76 dari 156 negara yang dievaluasi. Posisi ini jauh berada di bawah Singapura (urutan 30), Thailand (36), Malaysia (56), dan Vietnam (63). Walaupun laporan tersebut tidak menyebutkan secara spesifik untuk anak-anak, namun hasil tersebut dapat menjadi gambaran seberapa bahagia masyarakat Indonesia saat ini.

Dikaitkan dengan anak-anak, kami melalui Muda Mudi Berbagi ingin menjadi bagian dari upaya peningkatan happiness anak-anak Indonesia. Melalui project terbaru kami, Muda Mudi Berbagi edisi Toys for Kids, kami berupaya untuk berbagi mainan untuk adik-adik yang kurang mampu, agar mereka juga dapat merasakan kebahagiaan yang sama dengan teman-temannya yang lebih beruntung. Mainan-mainan yang akan disalurkan nantinya akan berasal dari anak-anak lain yang bersedia menyumbangkan mainan yang dimilikinya untuk diberikan kepada mereka yang membutuhkan. Melalui program ini, kami berharap agar tidak hanya mereka yang kami bantu yang merasakan kebahagiaan itu, namun kami juga berupaya untuk meningkatkan kadar empati di kalangan youth sebagai pihak yang menyalurkan donasi.

Untuk informasi lebih lanjut, bisa follow dan mention akun twitter @MudaMudiBerbagi . Yang muda yang berbagi, Semangat Berbagi ! 🙂

 

1414991992016

 

1415507635331                     1415507632431

 

Hitam Putih Gadget Bagi Anak-Anak

Di era teknologi dimana informasi dapat diakses secara mudah dan cepat, begitu banyak peluang sekaligus ancaman yang ada di balik kemudahan tersebut. Hadirnya internet hampir pasti menjadi enabler paling penting dalam beberapa aspek penting dalam kehidupan semua orang, baik dalam pendidikan, pekerjaan,  bahkan hubungan personal dan sosial.  International Telecommunications Union (ITU) mengungkapkan bahwa hingga akhir tahun 2014 nanti, jumlah pengguna internet di seluruh dunia diprediksi akan mencapai 3 miliar. Dua pertiganya berasal dari negara-negara berkembang (sumber: tekno.kompas.com, 2014). Indonesia, menurut Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemeninfo) menyumbangkan jumlah pengguna internet sebanyak 82 juta hingga bulan Mei 2014 (sumber: kominfo.go.id, 2014).

Tingginya jumlah pengguna internet di seluruh dunia tidak terlepas dari bermunculannya perangkat yang digunakan untuk mengakses internet secara mudah, seperti laptop, smartphone, tablet, atau sekadar featured phone. Bahkan tidak hanya orang dewasa, anak usia remaja bahkan balita saat ini juga sudah sangat akrab dengan gadget-gadget seperti itu. Di Indonesia, 80 persen pengguna internet (dan secara otomatis beberapa gadget seperti yang telah disebutkan) berada pada rentang usia 15 – 19 tahun. Umumnya, gadget-gadget tersebut digunakan untuk keperluan mencari informasi, terhubung dengan teman (lama dan baru), dan hiburan. Pencarian informasi yang dilakukan sering didorong oleh tugas-tugas sekolah, sedangkan penggunaan media sosial dan konten hiburan didorong oleh kebutuhan pribadi.

Seperti hampir semua hal di dunia yang tidak terlepas dari dualitas, penggunaan gadget juga memiliki sisi baik dan buruk. Di balik semua kemudahan yang ditawarkan, terdapat sisi gelap yang sebaiknya ditanggapi dengan lebih serius, khususnya untuk perkembangan anak-anak. Dr. Sigman dalam konferensi Royal College of Paediatrics and Child Health (RCPCH) di Glaslow menyatakan bahwa terdapat beberapa dampak buruk yang serius pada anak-anak yang menatap layar gadgetnya dalam jangka waktu lama. Hormon dopamine yang menimbulkan rasa nyaman dan ketagihan, serupa dengan kecanduan alkohol, akan diproduksi tubuh ketika seseorang menggunakan gadgetnya. Temuan ini diperoleh dengan mengobservasi anak-anak usia 11 tahun yang menghabiskan 6 jam sehari berinteraksi dengan 5 layar gadget berbeda, seperti televisi, komputer, smartphone, tablet, maupun PSP. Penggunaan gadget yang berlebihan pada anak-anak akan meningkatkan risiko terkena Diabetes tipe 2 dan penyakit kardiovaskular, karena kurangnya aktivitas gerak pada anak (sumber : tanyadok.com, 2014).

Riset yang diprakarsai Abertawe Bro Morgannwg University (ABMU) Health Board menemukan fakta bahwa 64 persen dari 204 responden anak berusia 7 – 18 tahun menderita sakit punggung dan yang mengejutkan, gadget menjadi pemicu utama penyakit tersebut. Hasil tersebut serupa dengan temua British Chiropractic Association yang membuktikan bahwa 45 persen anak menderita sakit tulang punggung saat berusia 11 tahun. Penggunaan gadget secara berlebihan membatasi kemampuan gerak anak sehingga mengganggu perkembangan kesehatan otot dan tulang anak. Bahkan, penggunaan gadget juga berpotensi untuk menurunkan kemampuan anak untuk berkonsentrasi (sumber : health.kompas.com, 2013).

Boldsky melansir tujuh daftar dampak penggunaan gadget secara berlebihan terhadap kesehatan, salah satunya gangguan tidur. Menggunakan gadget, baik untuk bermain games maupun chatting dengan teman membuat anak-anak mengalami gangguan tidur. Untuk mencegah gangguan tidur tersebut menjadi permanen, larangan untuk memainkan gadget sebelum tidur pada anak hingga usia tertentu sangat diperlukan. Tak hanya itu, dalam jangka panjang, radiasi yang dikeluarkan gadget menjadi penyebab penyakit mematikan seperti kanker (sumber : suara.com, 2014).

Melihat dampak jangka panjang yang menghantui anak-anak sebagai akibat dari penggunaan gadget yang berlebihan, perhatian khusus dari orang tua akan sangat membantu untuk meminimalisasi hal tersebut. Pembatasan waktu saat menonton TV atau menggunakan gadget, terutama untuk anak-anak usia di bawah 7 tahun, sangat disarankan. Hal ini karena aktivitas fisik secara outdoor pada usia tersebut akan membantu anak-anak untuk mengenal alam sekitarnya dan mempererat hubungan mereka dengan lingkungan sosialnya.

 

 

Referensi :

http://www.tanyadok.com/berita/dampak-buruk-teknologi-bagi-anak

http://kominfo.go.id/index.php/content/detail/3834/Siaran+Pers+No.+17-PIH-KOMINFO-2-2014+tentang+Riset+Kominfo+dan+UNICEF+Mengenai+Perilaku+Anak+dan+Remaja+Dalam+Menggunakan+Internet+/0/siaran_pers#.VDI9gWcafKo

http://kominfo.go.id/index.php/content/detail/3980/Kemkominfo%3A+Pengguna+Internet+di+Indonesia+Capai+82+Juta/0/berita_satker#.VDJGCWcafKo

http://suara.com/lifestyle/2014/04/05/173106/11-efek-buruk-gadget-bagi-kesehatan/

http://health.kompas.com/read/2013/11/16/0942202/Gadget.Bom.Waktu.Kesehatan.Anak

http://tekno.kompas.com/read/2014/05/08/1114312/tahun.ini.pengguna.internet.capai.3.miliar

http://pokeyournose.com

http://trauma-recovery.net

 

 

Belajar dari Belanda tentang Anak-Anak

Pada pertengahan tahun 2013, United Nations International Children’s Emergency Fund (UNICEF) merilis daftar sepuluh negara dengan indeks kebahagiaan anak tertinggi di dunia. Laporan bertajuk The Child Well-Being in Rich Contries : A comparative Overview tersebut merupakan laporan kedua mengenai hal yang sama sejak dirilisnya laporan pertama pada 2007. Studi ini mengukur perkembangan anak yang dilihat dari lima dimensi meliputi kesejahteraan materi, kesehatan dan keselamatan, pendidikan, perilaku dan risiko, serta lingkungan. Dari 29 negara industri, sepuluh negara dengan tingkat kebahagiaan anak yang tertinggi adalah sebagai berikut :

  1. Belanda
  2. Norwegia
  3. Islandia
  4. Finlandia
  5. Swedia
  6. Jerman
  7. Luxemburg
  8. Swiss
  9. Belgia
  10. Irlandia

Sejak laporan pertama dirilis, Belanda selalu menempati urutan pertama sebagai negara dengan tingkat kebahagiaan anak-anak tertinggi di dunia. Selain itu, Belanda juga memiliki peringkat yang bagus dalam hal persentase anak-anak yang menikmati sarapan setiap hari dengan persentase lebih dari 80%. Seperti yang kita ketahui, sarapan pagi sangat penting bagi tumbuh kembang anak-anak.

Berdasarkan ulasan pada www.findingdutchland.com , diketahui beberapa fakta yang relevan sebagai faktor-faktor pendorong kebahagiaan anak-anak di Belanda. Beberapa di antaranya adalah sebagai berikut :

  1. Orang tua di Belanda merupakan orang-orang paling bahagia di dunia

Laporan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang bertajuk “World Happiness Report” menempatkan Belanda pada urutan empat negara paling bahagia di dunia. Hal ini tentu menjadi fakta yang tidak mengejutkan, ketika orang tua yang bahagia menghasilkan anak-anak yang bahagia pula.

  1. Para ibu di Belanda tidak mengalami depresi

Kesehatan para ibu hamil, baik kesehatan lahir maupun batin, akan berdampak pada anak-anaknya kelak, termasuk keseimbangan dalam menjalani hidup sehari-hari. Studi yang dilakukan Ellen de Bruin membandingkan work-life balance antara para wanita di Belanda dan Amerika. Hasilnya, para wanita di Belanda lebih kecil kemungkinannya mengalami stres dan depresi karena mereka memiliki kebebasan personal dalam memilih pasangan, agama, dan gaya hidup yang diinginkan, berbeda dengan para wanita Amerika yang begitu mudahnya menjadi depresi walaupun hanya untuk masalah fashion.

 

  1. Para ayah di Belanda menghabiskan lebih banyak waktunya dengan sang anak

Artikel New York Times menyebutkan bahwa terdapat satu kecenderungan yang telah menjadi budaya di Belanda, yaitu bekeja paruh waktu (part time). Hal ini didukung dengan peraturan pemerintah Belanda pada tahun 1996 yang memberikan kesamaan status antara pekerj part time dengan pekerja full time untuk mewujudkan work life balance sebagai karyawan dan anggota masyarakat. Peraturan ini mampu memberikan kesempatan bagi para ayah untuk menghabiskan lebih banyak waktu bersama sang anak.

  1. Anak-anak Belanda tidak merasa tertekan karena jarang memiliki pekerjaan rumah (PR) sehingga waktu untuk bermain sepulang sekolah cenderung lebih banyak

Di Belanda, anak usia sekolah dasar (di bawah 10 tahun) sangat jarang mendapat PR yang rumit. Kalaupun diberikan, maka PR tersebut umumnya sederhana dan diutamakan yang mendorong anak-anak untuk menikmati proses pembelajaran mereka. Pengalaman menyenangkan yang mereka peroleh di sekolah juga akan terbawa pada suasana hati mereka ketika berada di rumah.

  1. Anak-anak di Belanda menikmati sarapan setiap hari

Tidak hanya sekadar sarapan, orang-orang Belanda terbiasa dengan menu sarapan sehat yang sudah diterapkan sejak mereka kecil. Dengan membiasakan sarapan pada anak-anaknya, orang tua di Belanda mengharapkan prestasi anaknya di sekolah akan semakin membaik dan terhindar dari permasalahan perilaku. Selain itu, sarapan sebelum pergi beraktivitas di luar rumah memberikan mereka waktu untuk mempererat rasa kekeluargaan antaranggota keluarga.

 

Faktor-faktor tersebut terlihat sederhana dan sangat mudah dilakukan. Yah, walaupun kondisi tiap negara pasti berbeda, tapi pendekatan-pendekatan tersebut bisa menjadi pilihan. Seandainya hal tersebut diterapkan juga di Indonesia, bisakah suatu saat nanti anak-anak Indonesia juga menjadi salah satu yang paling bahagia di dunia? We’ll see 🙂

 

 

Referensi :

http://www.dutchdailynews.com/dutch-kids-ranked-happiest-in-the-world/

The 8 Secrets of Dutch Kids, the Happiest Kids in the World