Radio, Songs, and Life …

Image result for radio black white

In the middle of Bogor – to – Bandung trip that afternoon, me, Di, Bim, Dal, and Gos talked and laughed until I’ve realized that we missed something. Musics. Songs. We didn’t turn on music since we left Bogor. After we turned it on, we sang it together occasionally, only if each of us knew that song . But, sometimes there are songs I’ve never heard before, maybe they too.

Enjoyed traffic toward Bandung, my mind sometimes fly so high into some thoughts. That this life sometimes so similar to how we enjoy songs played on the radio. Sometimes we know things we facing, but sometime we had no clue too. We always have choice to change that radio frequency which play our favorite songs, or just stayed there to learn some new songs. That’s all the choices. It seems like when we choose to chase something we like, job we enjoy to do, someone we adore about, the place we want to be there, or just decide to stay because we belief in God, that He place us here now for one purpose, even it still be the mysteri for us. I don’t know.

When we sang so happily because the beat of that song makes your heart feel so full, or being touched with the sad lyric, that’s how we face whatever we had to. That happy or sad come together, side by side. There is always two side of coins, isn’t it ? There is always the happy to control the sad, there is always white for the black, there is always good to overcome the bad. That’s life.

Sometimes we heard the ads between song we used to be heard, that is how the distraction works for our day. We had it all, like someone who cut our conversation with others, or our phone ringing in the middle of important meeting. There is always distractions which we have no idea how to control it. But there is always a response too, which fully be our responsibility. It’s okay. It’s gonna be alright.

Sometimes our favorite songs played consecutively, so does the-song-we-didn’t-know . Sometimes people didn’t like our favorite song, like we couldn’t always like theirs. That’s life ; shits happens everyday , people did bad things to us, people didn’t like us personally, yet we couldn’t understand them. That’s life. We had our own choices, we had our own time.

My thought stopped when our car turned left, entered the rest area and I realized that we hungry enough and we need some food to eat. Radio turned off, so did our song, seems like our days. Sometimes we need to take a rest. Maybe tired. Or something else.

Advertisements

The Inner Circle

“You know how some people, when they’re together, they somehow make you feel more hopeful? Make you feel like the world is not the insane place it really is?”

Last weekend was the nicest weekend since February 18th. Still with the same people : Ul, Gos, Dal, Di, and Bim, now we got additional-favourite-bullyable-buddies, Riz and Ci. We’ve planned to go to theme park together as we need to release our stress, our bad feeling, or (maybe) our problems and thank God it running well as we planned. We met at the station, and it’s good that I didn’t choose the wrong costume since we (six) have an-unwritten-rules to use monochrome theme costume. At least I’m not being an object to bully for wkwk.

After Gos, Di, and Bim take their time to pray and we girls have our lunch, we starting to making memories. Started with the extreme, more extreme, the what-the-hell-it-is, the scarier, the that-is-our-target-to-crash, the wet, until the so-sweet ones, we played like the-kids-who-never-growing-up-into-adult. Some photographs has been taken, more laughter has been there, but the time can’t stop itself.

I’m so happy to see them, to be with them (as always), to fulfill my promise to take them there as my thankful gift for their never-ending-support-and-love. Since my worst time ever last year, my life – my work life – is getting better now.  Not at all, but I’m so grateful for now, and hope will always be. They knew me (maybe) better than my parents did. They knew my up and always there when I’m down. They knew the time I dissapear, came to make sure that I’m okay, take few steps back when I said I need time to healing, but never too far to make sure that I can find them soon whenever I need them.

For all the time we’ve been through, I love them no matter whoever they are. I know, sometimes they talk too much and so annoying. But the way they show their care to each other, the way Gos try (so hard) to make me smile and laugh without bullying me , the way Ul sit beside me and ask “come on, what’s wrong with you, Marr?”, the way Di and Dal wink to make me say something, the way Bim say nothing as always, the way Riz and Ci ask “did I do something wrong that make you feel unhappy?” that’s make me so comfortable, and so grateful to have them as my inner circle.

Kisah Ibu Penyapu Jalan dan Setengah Kotak Bakpia

Pagi itu sama seperti pagi yang lain, rutinitas harian bangun-mandi-kerja-pulang-mandi-tidur akan kujalani lagi setelah recharge sepanjang weekend. Ketika hendak berangkat ke kantor, kulihat sekotak bakpia oleh-oleh dari Dhe yang menginap seminggu lalu di sini. Pikirku “udah seminggu dan bakpia ini belum habis, apa kasih ke orang lain aja ya sebelum kadaluarsa? Tapi ke siapa? Ga mungkin orang kantor, ini ga begitu banyak juga.” Aku membiarkan sekotak bakpia itu tetap di tempatnya dan kemudian bergegas berangkat karena memang udah hampir telat juga.

Di perjalanan aku bertemu seorang ibu yang sejak hari pertama aku ngantor di daerah Kebon Sirih ini selalu ada di spot yang sama, di sekitar salah satu bank searah dengan kantorku. Ibu itu selalu aku temui dengan aktivitas yang sama, menyapu dedaunan di sekitar lokasi itu. Sesekali ia menyapa siapapun yang lewat, dan beberapa orang kerap memberinya uang atau makanan. Awalnya aku merasa ada yang aneh, ibu ini tak jarang berbicara sendiri. Dan tak sedikit orang yang melihatnya dengan pandangan curiga. Sampai akhirnya aku menyadari ibu ini bukannya tak memperhatikan. Ibu ini tau kalau akhir-akhir ini aku kerap berangkat agak siang, melintas di tempatnya mendekati jam 8 disaat dulu aku lewat sana 30 menit sebelum ini.

“Kok tumben siang amat neng?”, tanya ibu itu dengan suara lantang sampai-sampai bapak yang berjalan di sebelahku ikut menoleh. “Iya bu, kesiangan bangunnya”, jawabku sambil bergegas pamit mempercepat langkah menyadari aku terlambat. Herannya, ibu ini tidak mengenakan jam tangan sama sekali. Bagaimana ia tau kalau aku terlambat kalau ia bahkan tidak melihat jam? Ia memperhatikan.

Hari itu berjalan cukup melelahkan. Meeting, keluhan pelanggan, urus dokumen, permintaan layanan, huft, rasanya ingin cepat kembali weekend. Aku pulang agak malam waktu itu. Sebenernya sih bukan karena kerjaannya belum selesai, hanya sungkan pulang cepat di saat yang lain masih ada yang dikerjain. Sesampainya di kosan, aku melihat kembali si bakpia itu. Dan aku berpikir “apa kasih buat ibu itu aja ya? Mau ga ya si ibu?” dan kuberanikan diri buat ngasi kue itu keesokan harinya. “Bu, ini saya ada kue, ga banyak sih tapi saya seneng kalo ibu mau terima” kataku sembari menyerahkan bungkusan bakpia itu. Si ibu terdiam beberapa saat, “makasih banyak neng Alhamdulilah mudah-mudahan lancar rezekinya ya neng” katanya sumringah. Aku meng-amin-kan dan kemudian pamit untuk berangkat ke kantor. Senyum ibu itu membuat perasaanku lega dan jadi mood booster pagi itu, sebelum kemudian menghadapi rutinitas kantor yang kadang menguras emosi juga.

Keesokan harinya, hujan gerimis mewarnai Jakarta sejak malam sebelumnya. Dari kejauhan kulihat ibu itu seolah sedang menunggu seseorang. Ketika aku lewat, ibu itu mendekatiku dan berkata “Neng, makasih banyak kuenya. Anak-anak ibu pada suka, jarang-jarang neng bisa makan kue begitu, anak-anak nitip salam nitip makasih buat neng. Semoga lancar rezekinya. Kasian neng mereka anak yatim. Kalau ada rezeki jangan lupa sama anak yatim ya neng. Biar banyak yang doain.” Aku tertegun dan ga menyangka bahwa hal yang aku kira kecil, hanya setengah kotak bakpia, menjadi begitu besar artinya bagi ibu dan anak-anaknya. Mungkin karena itu orang tuaku ga pernah bolehin kami untuk buang-buang makanan. Karena apa yang kita buang bisa jadi banyak diinginkan orang.

Kisah hari itu mengajarkanku untuk tak hentinya bersyukur. Bahkan untuk sekecil apapun berkah yang aku terima, setiap harinya. Untuk udara yang kuhirup setiap saat, untuk makanan dan minuman yang bisa kukonsumsi, untuk pekerjaan yang mungkin masih sering aku keluhkan, untuk keluarga yang walau jauh disana tapi doanya tak pernah berhenti, untuk teman-teman yang mendukung di apapun kondisiku, untuk hidup yang diberikan Tuhan untuk kujalani. Dan tak ada kebaikan yang terlalu kecil untuk dilakukan bagi siapapun, tiap hari, tiap saat. Karena suatu hari nanti ketika kita tak lagi ada, biarkan yang hidup dalam kenangan orang lain tentang kita adalah kenangan baik, tentang kebaikan.

Four Years and Still Counting

“Friends are an indispensable part of a meaningful life. They are the ones who share our burdens and multiply our blessings. A true friend sticks by us in our joys and sorrows. In good times and bad, we need friends who will pray for us, listen to us, and lend a comforting hand and an understanding ear when needed”

Berbicara tentang perjalanan kami selama empat tahun ini, up and down pasti ada. Lebih-lebih karena sebenarnya circle ini berawal dari sebelas orang ketika kami membentuk MMB. Parasenior, begitu kami menyebut pertemanan kami ketika itu. Seiring berjalannya waktu, satu per satu dari mereka pamit dari Bandung untuk meniti karir yang telah mereka pilih. Manusiawi memang dan dulu kami berjanji untuk tetap menjaga komunikasi, paling tidak untuk tetap sama-sama membesarkan MMB. Jarak kemudian menjadi barrier kami dan tak lama setelahnya, tak lagi terdengar jokes dan celotehan mereka. Tersisalah kami berenam di Bandung dan dimulailah perjalanan circle ini.

Berawal dari sebelas, berkurang menjadi enam. Gak lama kemudian, Di dan Dal pamit ke Jakarta karena kerja di sana. Jadilah aku, Gos, Ul, dan Bim tersisa berempat. Saat itu kami disibukkan dengan persiapan project Toys for Kids yang akhirnya bisa terealisasi di akhir tahun 2014. Seringkali ketika kumpul berempat, kami saling mempertanyakan gimana kabar temen-temen yang lain. Semacam kangen yang gengsi kami ucapin haha.

Di masa-masa menghilangnya Di dan Dal (yang alasan pastinya baru ku ketahui beberapa bulan terakhir ini), kegiatanku, Gos, Ul, dan Bim gak jauh-jauh dari sosialisasi & ambil mainan ke sekolah-sekolah, survei desa, atau CFDan. Dan di masa-masa itu pula bisa dibilang kami lagi kesulitan keuangan. Aku belum kerja, Gos belum terima rapelan gajinya, Ul dan Bim hemat-hemat juga banyak keperluan. Dulu kami saling bayarin dulu kalo lagi pas ga ada duit. Inget banget slogan Bersatu Kita Teguh jadi tagline selama masa sulit itu haha. Pesen minum yang paling murah, teh tawar atau air putih yang gratis. Suka ketawa kalo inget-inget waktu itu.

Di masa itu pula, banyak hal coba kami bangun untuk mewujudkan satu demi satu mimpi bersama yang kami pegang. Salah satunya berbisnis. Yah, walaupun pada akhirnya ide tersebut tak berjalan lama dan sebatas trial, setidaknya saat-saat trial snack rice krispies itu banyak meninggalkan memori bagi kami, bagiku. Mulai dari survei harga bahan bareng Ul, berburu marshmallow kemana-mana, sampe berkali-kali nyoba resep yang pas untuk rice krispies kami di rumah Gos. Eksperimen yang pada akhirnya kami nikmati sendiri haha.

Masa-masa berempat itu kemudian berakhir ketika bulan Februari aku dinyatakan lulus seleksi penerimaan karyawan di sebuah BUMN Telekomunikasi. Kalo ditanya rasanya, campur aduk. Satu sisi seneng penantian panjang itu berakhir sesuai harapan. Di sisi lain, aku memikirkan bagaimana MMB nantinya, ketika kami baru akan mulai serius lagi. Pengumuman itu keluar di saat kegiatan TFK di Desa Girimukti akan dilangsungkan. Aku inget banget, di antara mereka berlima, orang yang pertama kali aku beritau adalah Ul. Responnya kala itu sudah bisa aku tebak : “Yahhh Maarr, trus MMB gimana?”

Sejak hari itu, setiap kali kami kumpul, rasanya seperti kami ga akan ketemu lagi. Sebisa mungkin disempetin kumpul. Walau hanya makan malem bareng, walau hanya sejam-dua jam. Bahkan ketika H-1 aku berangkat pelatihan, kami berempat menghadiri anniversary organisasi riset kami. Setiap ada kesempatan untuk mengabadikan momen, maka setiap saat itu pula kami meminta siapapun yang lewat untuk mengambil foto kami. Seolah itu saat-saat terakhir kami bisa bareng. Wajar, bahkan akupun gatau apakah kami bisa seperti itu lagi ketika hari itu berakhir. Aku ga pernah tau apakah kami bisa kumpul sesering saat itu ketika aku sudah mulai kerja. Bahkan aku kerja di kota mana pun aku juga ga bisa mastiin. Sedih banget rasanya ketika pulang dari acara itu. Ketika Ul, Gos, dan Bim ngucapin sampe ketemu lagi. Maklum, sebulan pelatihan aku gak bisa berkomunikasi karena memang tidak diperkenankan.

Yang lebih mengejutkanku adalah apa yang aku dapet setelah pelatihanku berakhir. Ketika aku memperoleh kembali smartphone ku dan mendapati ratusan pesan masuk sekaligus. Yang menarik perhatianku pastinya Whatsapp group dimana ada aku, Gos, Ul, dan Bim. Grup yang dulu kami buat khusus untuk membahas rice krispies kami haha. Mereka menuliskan banyak pesan dengan tagar #HariKexxTanpaMar . Bacanya antara pengen ketawa dan terharu juga karena bisa-bisanya mereka so sweet kayak gitu haha. Tapi aku lega, seenggaknya aku tau mau dimana pun aku, se-gimana-gak-bisa-dihubunginya-aku, mereka tetep inget. Yah, walau bertahan delapan hari doang itu pesan-pesannya haha.

Seiring berjalannya waktu dan kepastian dimana aku menjalani pekerjaan di ibukota yang notabene dekat dengan Di dan Dal, semuanya berangsur membaik. Di berbagai kesempatan, aku berhasil ‘membujuk’ mereka untuk sesekali nengokin Ul, Gos, dan Bim di Bandung. Agak canggung memang awalnya waktu kami kumpul berenam lagi, tapi it’s okay lah, toh kami udah kenal deket hampir empat tahun. Termasuk part dimana tiap kami dateng ke Bandung selalu ditampung di rumah Gos, dicurhatin sama ibunya plus selalu disiapin makan yang bikin kami antara sungkan tapi enak jugak lah mayan #eh.

Susah seneng bareng selama empat tahun ini yang jadi cerita unik yang bikin ketawa setiap kali ngumpul. Kadang kalo lagi gak ada kegiatan saat weekend, kalo lagi gak memungkinkan ngumpul bareng mereka, pasti ada rasa kesepian yang mampir. Masalahku mungkin ga selesai kalo ketemu mereka, tapi ada semangat baru yang selalu dateng tiap abis ngumpul bareng. Uniknya, cara mereka bikin aku semangat tuh gak kayak kebanyakan orang lakuin. Mereka hanya menunjukkan kalo mereka yakin aku bisa, dan itu cukup bikin aku yakin kalo aku bisa. Entah gimana mereka ngelakuin itu, tapi itu selalu berhasil.

This Too Shall Pass

Minggu pagi pukul 10:00 , ketika aku terbangun kedua kalinya (yang pertama hanya untuk mematikan alarm yang entah kenapa berbunyi saat weekend begini huft), sudah ada puluhan chat Line yang masuk di smartphoneku. “Oh, ga ada japrian” pikirku. Tapi pandangan mataku kemudian tertuju pada salah satu chat room tertulis tagar #pagiinspirasi (yang sudah kuduga pasti Gos yang kirim). Kali ini medianya Youtube, gak seperti postingan sebelumnya yang berupa gambar atau tautan artikel. Kali ini dengan video. Karena penasaran, aku berselancar menuju source video tersebut, dengan tetap berlindung di balik selimutku haha mager.

Ada dua tautan video yang Gos berikan untuk kami, dan aku lebih tertarik pada yang kedua. Ketika tautan tersebut aku klik, muncul video yang diberi judul “I Was Depressed for a Long Time”. Menarik nih, kataku dalam hati. Video berdurasi 3 menit ini sebagian besar mengulas tentang mengapa orang-orang merasa depresi, sedih, dan terpuruk untuk waktu lama disaat sebenarnya tidak ada hal yang akan terus sama setiap kali terjadi.  Never think bad times will last forever. This too shall pass, begitu yang diucapkan berulang kali oleh Prince EA, yang menjadi pemateri (entah apa sebutan yang pas) pada video tersebut. Sederhana, tapi kalau mau merenung sejenak, pasti kita akan sepakat dengan kalimat tersebut untuk beberapa kondisi yang telah kita alami.

Kata-kata dalam video tersebut membuatku teringat pada masa-masa sebelum pekerjaanku sekarang. Tepatnya ketika aku menjalani kuliah Master-ku dua tahun lalu. Pada salah satu mata kuliah yang terkenal dosennya suka out of the box cenderung sulit ditebak, aku pernah berpikir untuk udahan aja kuliahnya. Maklum, dengan jadwal kuliah 8 pagi – 5 sore ala orang kantoran bikin pusing – yang sampai sekarang aku ga paham gimana aku bisa lewatin itu semua haha – sangat sedikit waktu santai yang aku punya, khususnya Senin – Jumat. Pun punya waktu Sabtu dan Minggu, rasanya udah lelah mau ngapain juga. Aku ingat mata kuliah itu ada di triwulan kedua, dan historis menyebutkan bahwa di kelas sebelumnya terjadi fenomena banyak mahasiswa yang gak lulus. Ini yang bikin tambah hufftt lagi. Gak lulus di salah satu mata kuliah sepanjang ambil program ini sama aja ngulang setahun. Bahkan beberapa kali setelah kelas si Bapak, aku nangis saking ga kuatnya hahaha ampun dah. Kata-kata yang makna nya serupa dengan “This too shall pass” kala itu aku dapat dari grup chat Rempongers, grup chatku dengan empat orang adik kesayanganku. Dan yah, antara pasrah dan gatau harus apa selain jalanin, kuliah itu kemudian berlalu dengan nilai yang gak mengecewakan. Entah bagaimana, itu menjadi pembuktian “this too shall pass” pertama yang bener-bener kurasain.

This too shall pass kedua yang kurasain adalah ketika masa pengangguran setelah lulus S2. Berat banget rasanya punya titel Master tapi belum punya kerjaan. Antara malu, pengen segera balik modal biaya kuliah, pengen ngerasain punya penghasilan sendiri, dan pastinya pengen berkarya dengan segala bekal yang didapet selama kuliah, semuanya campur aduk dan bikin tambah pusing. Belum lagi tinggal di Bandung dengan biaya bulanan dari orang tua di rumah, beban banget rasanya. Pernah berpikir akan pulang aja, tapi terlalu takut untuk ninggalin semua mimpi yang aku tau akan lebih sulit aku perjuangkan ketika aku memutuskan untuk pulang. Dengan usaha di tiap tahap tes seleksi dan kesabaran selama gak kurang dari setengah tahun, akhirnya kerjaan pertama itu aku peroleh. Sekali lagi, this too shall pass benar-benar aku buktikan.

Pekerjaan yang sekarang aku rasakan menjadi tantangan paling berat. Yang bikin aku mikir apa yang kualami saat kuliah dulu belum ada apa-apanya dibandingkan dengan yang ini. Sebagai introvert yang lebih menyukai ketenangan, tidak nyaman dengan terjadinya dinamika, mudah lelah jika harus berhadapan dengan banyak orang, pekerjaan di bidang Marketing ini menjadi tantangan tersendiri. Belum lagi target yang mungkin agak kurang rasional. Setiap hari rasanya pengen banget langsung weekend. Entah mungkin karena terbiasa cepat menemukan pola untuk solving problem di kondisi yang dihadapi sebelum-sebelumnya, kemudian sekarang menghadapi kondisi yang begitu unpredictable, aku sempat merasa bahwa aku gak bisa di bidang ini. Di akhir triwulan kedua sejak aku ada di pekerjaan yang sekarang, aku seringkali berkeluh kesah tentang pekerjaan. Bahkan tiap kali ketemu Di, Dal, dan Bim di Jakarta atau Gos dan Ul di Bandung, mereka kerap memintaku untuk menceritakan bagaimana perkembangan di kantor. Jika pada dua kali masa sulitku berhasil membuktikan “This too shall pass”, maka aku percaya untuk kondisi sekarang pun akan ada saatnya aku berkata demikian juga.

Tapi terlepas dari kejadian-kejadian itu, This Too Shall Pass yang ga ingin aku percayai adalah ketika (nantinya) itu terjadi pada circle kami berenam. Kami pernah mengalami bagaimana terpisah, dari awalnya sebelas, kemudian enam, sempat menjadi empat, hingga kembali berenam. Sebelas ketika kami membentuk Muda Mudi Berbagi, enam ketika kami memulai circle ini, empat ketika Di dan Dal mulai berkarir di Jakarta, hingga kini berenam lagi setelah kami sama-sama menyadari circle ini terlalu spesial untuk ditinggalkan.

Atau justru this too shall pass itu sebenarnya merupakan jawaban dari masa-masa ketika kami berkurang jadi empat? Ketika dulu sering kumpul bareng Gos, Ul, dan Bim, dan di berbagai kesempatan kami sering bertanya-tanya kenapa Di dan Dal jarang main ke Bandung atau kapan mereka bisa ikut kumpul lagi kayak yang sebelumnya. Dan berawal dari pindahnya aku ke Jakarta, aku paham kenapa Di dan Dal ga bisa sering-sering nengokin kami di Bandung ketika itu. Yah, semua orang punya masa-masa sulitnya masing-masing. Yang terpenting adalah gimana melewatinya. Dan ketika itu terlewati, setidaknya kami bisa jalan berenam lagi sekarang.

Tidak ada hal yang bisa berlangsung selamanya. Bahkan hidup kita pun ga bisa selamanya. Begitu juga dengan masa sulit. Tidak ada masa sulit yang tidak berakhir. This too, shall pass .

 

Life Changes, We Change, and That’s Okay

Suatu malam di penghujung pekan, sebuah notifikasi grup Line masuk ke ponselku. Gos (seperti biasa) mengirim sebuah tautan kepada kami. Tautan yang samar-samar dapat aku pastikan berisi untaian quotes seperti yang sering ia kirim. Dalam tautan tersebut tertulis 50 Sentences Will Convince Change Life. C-H-A-N-G-E.

Beberapa menit setelah kiriman tautan itu, Gos kembali muncul di grup, menanyakan apakah kami sudah membaca artikel yang ia kirim. Sepi memang grup kala itu karena menunjukkan pukul 22:50 WIB. Aku menjawab bahwa aku hanya sekilas membaca artikel tersebut, karena ‘change’ bukanlah topik yang aku sukai. Gos meyakinkanku bahwa itulah mengapa aku memerlukan artikel itu untuk dibaca. Pemaksaan halus rupanya haha.

Tautan itu memuat artikel tentang 50 kalimat yang mencoba meyakinkan pembaca bahwa perubahan itu perlu. Satu persatu poin aku baca, dan rasanya ada sejumlah resistensi dalam diri sepanjang kucermati artikel itu. Perubahan bagiku memang hal yang cukup ‘mengerikan’. Seringkali perubahan tidak bersahabat dengan kenyamanan yang selama ini aku rasakan. Dalam banyak hal.

Contoh sederhananya mulai dari teman yang mulai berubah sikapnya, keadaan yang mulai berubah dari sebelumnya, perjalanan yang berubah arahnya, dan perubahan-perubahan lain yang seringnya datang tanpa pertanda. Tak jarang perubahan itu menimbulkan konflik dalam diri. Tak nyaman rasanya. Dan seringkali sama seperti itu.

Tapi apa yang kurasakan beberapa bulan terakhir membuatku memaksa diri untuk merenung sesaat. Ketika si introvert ini mulai menghadapi dilema pekerjaan yang menurutnya bukan yang selama ini ia bayangkan. Ketika pekerjaanku saat ini mulai membuatku berpikir sejenak tentang ‘sesuaikah ini untukku?’ Duniaku tak pernah sama sejak itu. Duniaku berubah. Sedangkan aku? Pada awalnya aku belum bisa terima. Sampai akhirnya Dhe – salah satu adik kesayanganku – menenangkan segala keluhanku dengan berkata bahwa pekerjaanku saat ini boleh jadi sangat diharapkan oleh banyak orang di luar sana dan betapa orangtuaku pasti bangga pada pencapaianku saat ini. Kata-kata Dhe saat itu membuatku tersadar betapa kurang bersyukurnya aku selama ini. Sejak itu aku berkomitmen untuk mulai belajar ‘menerima dan menjalani’ apa yang telah Tuhan siapkan untukku saat ini.

Pada poin ke 36 artikel yang Gos kirim tertulis “Your greatest enemy is your endless list of rules and expectations for how life is supposed to be lived”. Bahkan hanya membaca kalimat ini pun, resistensi dalam diriku kembali muncul. Perubahan bagiku memang sulit, menakutkan, dan (seringnya) sebisa mungkin kuhindari. Perubahan bagiku mengubah tatanan sistematis yang selama ini aku bangun, entah itu tentang prinsip diri, cara melakukan sesuatu, cara pandang, maupun sikap. Tapi membaca artikel tersebut hingga poin terakhir membuatku berpikir ulang tentang makna perubahan dan bagaimana menyikapinya.

Aturan seyogyanya dibuat untuk memastikan segala sesuatu berjalan sebagaimana mestinya, dan harapan tercipta berdasarkan kondisi ideal yang kita pikir kita miliki. Ketika keadaan sekitar mulai berubah, aturan lama seringkali menjadi tidak relevan. Dalam kondisi tersebut, perubahan eksternal menjadi uncontrolable variable, sedangkan aturan yang dibuat menjadi controllable variablenya. Demikian pula dengan ekspektasi atau harapan, yang sebaiknya disesuaikan dengan kondisi pasca terjadinya perubahan. ‘Disesuaikan’ mungkin bahasa yang lebih halus versiku, ketimbang menyebut ‘diubah’. Tapi apapun bahasanya, bergeser dari kondisi existing ke kondisi yang diinginkan (atau kondisi yang diharuskan? ) akan selalu membutuhkan keberanian, sekecil apapun itu.

Viktor Frankl, yang telah mengalami begitu banyak kejadian mengerikan dan penderitaan luar biasa di kamp tahanan Nazi, sampai pada kesimpulan bahwa kebebasan terakhir manusia adalah ia bebas memilih bagaimana menyikapi setiap keadaan yang terjadi. Kita selalu punya pilihan tentang bagaimana menjalani apapun di berbagai kondisi yang kita hadapi. Berubah, beradaptasi, atau menyesuaikan diri, atau apapun istilah lainnya, merupakan satu pilihan yang perlu kita ambil ketika kita merasa keadaan di luar sana tak lagi sama dengan keadaan sebelumnya. Life changes, we change, and that’s okay

Mengenal Mereka

Dan setelah Truth or Truth effect kemarin, aku pengen nulis tentang siapa sih Gos, Ul, Di, Dal, dan Bim yang kusebut-sebut di beberapa tulisan sebelumnya. Nama singkat itu adalah panggilan akrab di antara kami, dari nama mereka yaitu Bagus (Gos), Aul (Ul), Adi (Di), Ihdal (Dal), dan Ubim (Bim). Setelah empat tahun mengenal mereka, sedikit yang bisa kusampaikan tentang mereka kutuliskan sebagai berikut :

  1. Gos, si Visioner yang Kurang Fokus
  • Gos adalah teman yang menurutku paling ekstrover di antara lima yang lain di circle ini. Dan selayaknya nature dari personality extro-intro, Gos adalah yang bikin aku cepat lelah dan kehabisan energi kalo banyak interaksi dengannya. Suka berisik gitu kalo lagi di keramaian haha suka banyak ocehnya. Gos adalah presiden kabinet kami saat di kepengurusan dulu. Selayaknya kebanyakan orang berzodiak Leo, Gos punya aura dan sense seorang leader. Kemampuan verbal dan persuasifnya bisa dengan mudah memberikan influence bagi seseorang. Gos yang kami kenal adalah pribadi yang visioner. Sejak kami sering bicara tentang kehidupan, ia selalu bisa menyampaikan mimpinya secara clear. Seolah dia sudah pernah ada di tujuannya itu sehingga ia bisa menjelaskan secara detail tentang apa yang ada di sana termasuk bagaimana akan ke sana. Sebagai seorang visioner dengan banyak hal yang ingin dicapai, Gos termasuk yang kurang fokus terutama saat tahap eksekusi. Sering kami bercandain dengan bilang wishlist nya selalu bertambah tanpa satupun yang terealisasi. Mungkin faktor extrovertnya memainkan peran di sini, yang sudah jadi rahasia umum kalau extrovert biasanya sulit fokus. Satu hal yang aku salut dari Gos adalah keberaniannya untuk menyampaikan semua mimpinya dan optimismenya bahwa semua itu mungkin diraih.
  1. Di, si Banyak Mau yang Selalu Ada
  • Aku kenal Di lebih dekat ketika Di menjadi ketua acara kompetisi eksternal kampus akhir tahun 2012. Di kami kenal sebagai yang sering banget chat mellow dan identik dengan kalimat “asalkan bareng kalian”. Di termasuk yang paling bersemangat ketika kami diskusi tentang kehidupan. Di selalu menyampaikan mimpinya tentang banyak hal, termasuk untuk bisa punya usaha sendiri sambil kerja kantoran dan kuliah S2. Di buku yang pernah aku baca, seseorang akan optimal dalam menyalurkan fokusnya pada paling banyak dua hal saja. Lebih dari itu, kadar fokus akan berkurang dan cenderung membuyarkan fokus yang lain. Kami ingat betul bagaimana Di menyampaikan keinginannya untuk menjadi entrepreneur dan mengelola bisnis sendiri, kami juga ingat keinginannya untuk sekolah lagi. Tapi dengan sama-sama pentingnya kedua hal tersebut, ditambah statusnya sebagai karyawan saat ini, memilih yang prioritas untuk dijalani menjadi hal penting yang harus ia definisikan. Namun terlepas dari itu, Di menjadi sosok yang selalu available, selalu ada untuk kami. Gak heran kalau di grup dia selalu jadi yang bertanya bagaimana kabar kami, sedang sibuk apa saat ini, sedang apa di waktu senggang kami, atau apakah kami sedang ada masalah. Di juga jadi yang selalu rutin ngajak main, ngajak liburan, dan kalo pergi tanpa dia rasanya banyak part yang hilang dari kami.
  1. Ul, si Pelupa yang Lovable
  • Kalo ada yang sering ngeselin di chat karena mikirnya lama, Ul lah yang paling sering jadi sasaran empuk haha. Apalagi kalo lemotnya kumat pas chat sama Bim, habis udah dibully itu sih. Belum lagi kebiasaan lupanya. Daya ingatnya kurang bisa diandalkan, apalagi untuk hal-hal yang sepintas lalu. Di antara kami berlima, Ul adalah yang paling fashionable dalam segala suasana. Ga peduli mau hiking atau camping, Ul tetap tampil dengan outfit trendy yang kadang bikin kami penasaran gimana bisa dia tracking sejauh 5 km dengan medan yang lumayan hanya dengan sandal di saat kami pake sepatu kets aja udah sakit-sakit kakinya haha. Ul bagiku adalah sosok yang akan sangat mudah disukai orang karena komunikasi interpersonalnya sangat mumpuni. Kalo inget lagi kejadian yang udah-udah, rasanya ga pernah kebayang gimana bisa aku dan Ul ada di circle pertemanan yang sama, terlepas dari kami rekan satu organisasi. Orang yang belum kenal Ul pasti ngira dia jutek, karena memang ekspresinya sepintas menunjukkan itu. Sebagai seorang extrovert, Ul tergolong paradox karena ia tipe yang tertutup. Ul termasuk yang jarang bercerita tentang pribadinya maupun masalahnya. Ul juga tipe cewe yang sangat mandiri. Semasih dia bisa lakuin sendiri, pasti dilakuinnya sendiri. Terlepas dari ambiguitas personality nya, sekali lagi, Ul punya sesuatu yang bikin dia jadi sosok yang lovable banget, sosok ideal untuk jadi seorang teman baik.
  1. Dal, si Konsisten yang Kurang Percaya Diri
  • Entah gimana si-yang-paling-muda ini bisa jadi bagian dari circle kami. Dal adalah yang paling berubah signifikan dari yang pertama kali kami kenal. Entah karena dulu kami belum kenal deket atau gimana, yang pasti kami selalu bilang Dal yang sekarang telah berubah. Dulu, diantara dua rekan setimnya saat lomba debat, Dal yang paling diam. Bahkan dia yang paling jarang merespon SMSku saat aku jadi pendamping tim mereka. Dal yang sekarang selalu bisa bikin suasana jadi rame dengan jokes nya yang out of the box. Jangan coba-coba sembunyiin informasi dari Dal, dia bahkan bisa tau lebih dulu dari orang yang bersangkutan haha update banget sama berita-berita di sosmed. Sebagai personal, Dal juga punya clear vision tentang apa yang ingin dia capai. Dan dalam perjalanan mencapai tujuan tersebut, dia punya fokus dan konsistensi yang harus diacungi jempol. Seberapapun dinamika yang terjadi, dia akan konsisten pada apa yang udah dia tetapin. Hanya saja terkadang dia bisa jadi gak percaya dengan kemampuannya. Dia selalu bilang kalo dia gak percaya diri dengan kemampuan komunikasinya dan terang aja langsung kami tanggapi sinis haha mengingat gimana bercandaan-bercandaannya selama ini yang sangat memerlukan permainan kata-kata. Walau Dal seringkali berisik dengan jokes-jokesnya itu, tapi di saat serius, Dal jadi teman tuker pikiran yang oke banget.
  1. Bim, si Misterius yang Pantang Menyerah
  • Bim menurutku pribadi paling rumit untuk dipahami dari mereka berlima. Sebagai sesama introvert aku bisa memaklumi itu karena aku pun tergolong orang yang rumit. Tapi Bim ini special case dan kayaknya hanya satu temanku yang punya tipe seperti ini. Dengan sosok pendiamnya, Bim tergolong paradox juga seperti Ul karena ia justru terlibat di banyak organisasi selain organisasi riset kami. Bim paling dekat dengan Ul, mungkin karena mereka adalah teman sekelas ketika kuliah dulu. Bim termasuk yang sangat misterius karena banyak aktivitasnya yang tidak kami ketahui yang pada akhirnya ketahuan setelah effort kepo kami di sosmed #eh. Bim juga ahli menggunakan kode-kode implisit bahkan untuk keperluan simpel kayak mau makan bareng atau sekadar nongkrong. Si-yang-gak-bisa-makan-makanan-pedes ini juga moody parah dan suka bikin bingung kalo udah kumat. Tapi terlepas dari itu,  saat kuliah Bim terkenal sebagai mahasiswa dengan segudang prestasi dari banyak bidang. Bim punya semangat pantang menyerah yang mengantarkan ia pada pencapaian-pencapaian di tiap lomba yang diikuti. Tentang hal itu, aku inget banget Bim pernah bilang “orang hanya liat seberapa sering aku berhasil, tanpa tau aku gagal lebih sering”

Itulah Gos, Di, Ul, Dal, dan Bim, lima orang unik yang (tampaknya) akan sering aku tulis kisahnya di tagar #pagiinspirasi ini . Kenapa? Karena setiap hal yang kami perdebatkan satu sama lain selalu menarik untuk dibahas. Dan suatu saat ketika kami sudah melangkah jauh, tulisan yang tertinggal di sini akan menjadi checkpoint kami untuk melihat seperti apa kami dulu, sekarang, dan nanti.

Truth or Truth : Awal dari Flashback untuk Future

Selepas selebrasi late surprise untuk ultah Gos yang ke 25, perbincangan tentang kehidupan dimulai kembali. Sudah lama rasanya kami tidak secara intens diskusi dan update tentang perkembangan yang terjadi pada kami dan hari-hari kami. Dan cara kali ini pun ga biasa. Kami membiarkan arah putaran pulpen untuk menentukan siapa yang akan menjawab apa via Truth or Truth.

Pertanyaan demi pertanyaan bergiliran dilontarkan dan dijawab. Mulai dari yang sederhana hingga yang sulit dijawab. Bukan karena tidak tau, tapi kadang jawaban atas pertanyaan tentang sesuatu tidak bisa dijabarkan dengan kalimat tapi hanya bisa dirasakan oleh siapa yang merasakan. Sejumlah pertanyaan flashback hingga masa yang akan datang silih berganti dan jawabannya pun membuatku menyadari betapa beruntungnya aku ada di antara teman-teman terhebatku itu.

Seperti pertanyaan Dal pada Gos tentang apa yang membuatnya bertahan di circle kami sekarang, pertanyaan menggelitik Gos tentang kenakalan paling parah yang pernah Di lakuin, pertanyaan Ul  tentang sisi positif dan negatif dari kami masing-masing menurut Dal, atau pertanyaanku tentang apa yang akan Ul sampaikan pada kami jika seandainya hari ini adalah hari terakhir kami semua dapat bertemu. Seandainya Bim bisa join di permainan kemarin, pastinya akan banyak pertanyaan yang ia dapat mengingat selama ini dia yang paling misterius di antara kami haha 😀

Setiap jawaban, baik itu yang berkaitan dengan personal maupun tentang circle kami, membuatku lebih mengenal Di, Dal, Ul, dan Gos, bahkan Bim, termasuk perspektif mereka tentang banyak hal. Selama ini aku pikir aku cukup tau tentang mereka, tapi ternyata tidak sebanyak itu. Ada sisi lain dari sosok masing-masing yang baru dapat aku pahami setelah permainan kemarin. Dan ada perasaan yang tak tergambarkan ketika kami bisa saling jujur tentang apa yang kami rasakan tentang pertemanan kami selama ini.

Pertemanan kami dimulai sejak awal 2011 ketika kami pertama kalinya bekerja sama sebagai panitia acara kompetisi internal kampus. Aku bergabung setelah Gos mengirim SMS invitation untuk join di kepanitiaan itu (padahal  saat itu aku belum kenal Gos). Bersama Di dan Ul, kami berempat pun akhirnya menjadi bagian dari kepanitiaan yang diketuai Gos, dan di sana pertama kalinya kami mengenal Dal sebagai adik angkatan yang menjadi peserta lomba. Bim, yang mana adalah teman sekelas Ul, juga ikut di kompetisi itu sebagai peserta. Di sana pertama kali kami berada di lingkungan yang sama, yang kemudian berlanjut ketika kami sama-sama menjadi pengurus organisasi riset di kampus.

Circle ini menjadi semakin erat ketika memasuki akhir kepengurusan di organisasi tersebut. Kami mulai sering bercerita tentang mimpi-mimpi kami setelah masa kuliah selesai. Satu persatu kemudian lulus, dan kami tak ingin kehilangan momen yang pernah kami rasakan ketika masih di kepengurusan dulu. Mulailah kami menemukan apa yang bisa membuat kami untuk tetap bersama melalui Muda Mudi Berbagi yang kami rintis bersama lima kawan kami lainnya. Banyak dinamika sejak status mahasiswa kami habis masa berlakunya. Mengutip yang sering disampaikan Gos, bahwa tidak semua kapal berlabuh di pelabuhan yang sama, kami mulai mendefinisikan ulang cara kami mencapai mimpi-mimpi kami.

Bagiku, circle ini spesial karena tak banyak bisa kutemukan orang-orang yang memahamiku sepenuhnya. Sejauh perjalananku selama ini, begitu banyak yang datang dan begitu cepatnya mereka pergi. Tapi di sini, aku tak pernah merasa ditinggalkan. Walau kami tak selalu dapat bertemu, tapi aku bisa merasakan kalau mereka selalu ada. They don’t accept me as I am ; they help me accept myself as I am. Itu lebih dari sekadar cukup dan aku tak bisa meminta lebih dari itu untuk pertemanan kami ini. Mereka telah menyentuh kehidupanku dan memberi banyak perubahan positif padaku dan cara pandangku. Ul dan Gos juga punya cara pandang sendiri tentang circle ini. Menurut Ul, circle ini berbeda dari kebanyakan circle lain karena cara kami memaknai sesuatu lebih dewasa seiring berjalannya waktu. No more drama. Sedangkan Gos, ketika ditanya tentang kenapa ia tetap bertahan di circle ini, menyimpulkan bahwa perjalanan kami selama ini terlalu precious untuk ia lepaskan.

Truth or Truth semalam menyadarkan kami bahwa perjalanan kami meninggalkan banyak jejak untuk kami kenang, tentang masa lalu maupun tentang yang akan datang. Punya mereka yang menemani perjalanan selama setidaknya empat tahun terakhir ini menjadi salah satu hal yang paling berharga yang tak hentinya aku syukuri dan kuharap akan selamanya begini. Aku teringat pada penutup jawaban Ul atas pertanyaanku kemarin : “semoga kita semua bisa tetap saling menjaga”. Yah, setidaknya kami masih punya satu sama lain 🙂

Nobody can Play Your Role Better than You

Suatu pagi, setahun lalu ketika masa depan masih terasa sangat jauh dan jalan menuju kesana seolah belum juga nampak, Gos membuat ponsel berdering sesaat. Sebuah notifikasi pesan instan muncul dengan bertuliskan “Never change your personality for sake of others. Be yourself. Nobody can play your role better than you. You are the best at who you.” Tagar #pagiinspirasi pun tertulis di akhir kalimat tersebut. Sejak saat itu, entah bagaimana, tagar #pagiinspirasi – yang paling sering dikirim oleh Gos – menjadi sarapan bagi jiwa kami yang disibukkan dengan jutaan mimpi yang coba kami bangun.

Ketika itu, aku ingat, kehidupan kami tak lagi sama dengan bulan-bulan sebelumnya saat kami lulus kuliah. Sebagai anak muda dengan segala mimpi yang telah kami bangun sebelumnya, realita kadang tak sejalan dengan apa yang kami pikir akan kami alami. Kami tau kemana kami akan menuju, setidaknya itu yang paling kami tau saat itu. Idealisme yang kami yakini saat itu, keyakinan kami tentang tujuan akhir kami nanti, membawa kami pada satu pemikiran bahwa apapun yang ingin kami capai nantinya tak akan mengubah kami menjadi kami yang lain. Kami akan tetap menjadi pribadi yang bebas, bebas untuk berpikir dan bertindak menuju destinasi yang telah kami tentukan. Semua terasa sangat mungkin saat itu.

Setahun berlalu, quotes itu kembali muncul ketika aku menemukan kumpulan capture pesan instan di grup kami terdahulu. Menengok sedikit ke belakang, banyak hal ternyata yang terjadi hanya dalam kurun waktu satu tahun. Perubahan status dari ‘mahasiswa’ menjadi ‘belum kerja’ kemudian akhirnya ‘punya penghasilan’, perubahan dari tadinya mau jajan masih pake uang orang tua jadi udah bisa pake duit sendiri. Menyenangkan? Tentunya. Tapi apakah ini yang menjadi persinggahan terakhir kami? Belum tentu. Bahkan mungkin, tentu saja bukan.

Aku dan Dal kini bekerja di perusahaan yang birokrasinya cukup rigid, Di meniti karir medianya di sebuah rumah produksi, Gos dan Ul bahkan bekerja di satu kantor start up yang sama, dan Bim sedang part time sembari menunggu kepastian beasiswa masternya. Banyak yang bilang bahwa posisiku sangat menguntungkan saat ini. Menjadi bagian dari perusahaan telekomunikasi terbesar di negeri ini, yang bahkan tak sempat terpikirkan ketika aku kuliah dulu. Aku masih ingat, setahun lalu ketika kami berkumpul untuk bercerita tentang mimpi kami, mereka mendengarku bercerita tentang keinginanku untuk menjadi pengajar. Tak hanya aku yang saat ini menjalani hal berbeda, Gos yang kami tau sangat ingin berkecimpung di dunia sosial sebagai sociopreneur, saat ini baru saja bergabung dengan sebuah start up game developer. Dua contoh yang cukup menjelaskan bahwa tujuan dan jalan yang kami pilih untuk mencapainya tidak selalu beririsan secara langsung.

Lalu apakah itu berarti kami melupakan mimpi kami? Tentu tidak. Terkadang jalan memutar memberikan perspektif lain dalam perjalanan kita, yang memperkaya pemahaman dan pengalaman untuk kita ceritakan nanti. Tak masalah jalan mana yang ingin dan akan kita pilih, sepanjang tujuan kita, mimpi kita tetap disana. Dan tak masalah ketika kita tidak melihat mimpi kita tetap di tempat semula, asalkan ia bergerak naik, perlahan terbang ke atas, dan membuat kita harus sedikit melompat untuk menggapainya kembali. Khawatir tidak cukup tinggi untuk itu? There are some kind people who always be here to lift us up.  We just need to define our dream, choose a role, play that game, and believe someday we’ll win it. Because nobody can play your role better than you.