Teruntuk Mahasiswa Tingkat Akhir . . .

Skripsi bagi sebagian besar (atau bahkan semua) mahasiswa tingkat akhir menjadi sesuatu yang terdengar, terlihat, dan terasa mengerikan. Berdasarkan pengalaman dan pengamatanku selama kuliah dulu, skripsi bisa mengubah pandangan kita tentang apa yang kita bisa lakukan dan apa yang kita pikir bisa kita lakukan. Gak sedikit aku temukan teman-temanku yang pada saat kuliah di kelas tampak sangat memukau dengan nilai yang sempurna, agak tertatih menyelesaikan tugas akhirnya. Dan di sisi lain, mereka yang banyak main bahkan lulus lebih cepat dari yang bisa dibayangkan. Well, itu memang bukan indikator yang tepat untuk mengetahui seperti apa dan harus bagaimana menghadapi tugas akhir. Selama kita tau yang harus kita lakukan secara benar, semuanya akan berjalan sebagaimana mestinya. Berikut tips yang bisa aku berikan, semoga cukup membantu.

  • Memilih topik

Untuk jurusan manajemen yang aku tekuni, empat pilar manajemen seperti keuangan, operasional, pemasaran, dan sumber daya manusia menjadi bidang bahasan skripsi. Ada banyak alasan mengapa mahasiswa lebih memilih bidang yang satu dibandingkan bidang lainnya, dan uniknya, pemilihan tersebut tidak jarang mengabaikan faktor kemampuan yang (seharusnya) mereka ketahui tentang dirinya. Dan di sinilah letak ‘ajaib’nya skripsi. Ketika faktor-faktor eksternal ikut terlibat, apa yang kita tahu jadi tampak tidak begitu penting.

Banyak dari teman-temanku yang memilih topik keuangan dengan alasan lebih cepat pengerjaannya karena tidak perlu mengumpulkan data primer. Bagiku, yang mengambil mata kuliah keuangan selama tiga semester berturut-turut, aku tidak pernah sepenuhnya paham tentang bagaimana mengimplementasikan ilmu-ilmu tersebut ke dalam tugas akhir. Dan aku sangat salut pada mereka yang mau mengambil risiko untuk itu. Sebagian teman-temanku yang lain menolak untuk membahas topik SDM karena takut terganjal izin di perusahaan tempat mereka akan melakukan penelitian. Aku rasa itu alasan yang rasional, mengingat kita memiliki batas waktu kelulusan, entah yang kita tentukan sendiri sebagai target personal maupun yang telah kampus tentukan. Bagi mereka yang menyukai fleksibilitas dan cukup menguasai pengolahan data kuantitatif, topik pemasaran seringkali menjadi pilihan. Tersedianya banyak data yang dapat dengan mudah diakses melalui internet dan kemungkinan responden yang mudah dijangkau menjadi dua alasan utama mengapa begitu banyak mahasiswa (termasuk aku) yang memilih bidang ini sebagai topik tugas akhir.

Terlepas dari faktor-faktor eksternal dan faktor kemampuan yang kita punya, saranku adalah pilih topik yang kita senangi. Mungkin ini terdengar klasik, tapi mengerjakan apa yang kita senangi akan terasa lebih ringan, walaupun sesungguhnya gak ada yang ringan jika kita bahas skripsi. Tapi setidaknya, mengerjakan apa yang kita sukai akan mendorong kita untuk menyelesaikannya sesegera dan sebaik mungkin. Bukankah rasanya menyiksa jika kita harus bermain dengan waktu (dan uang) untuk hal yang kita sendiri tidak menyukainya.

  • Mencari data

Ini kelihatannya mudah, tapi untuk yang kurang biasa melakukannya, ini bisa jadi tahap yang bikin stres. Mengumpulkan data dari hasil riset terdahulu, website perusahaan, maupun review dari para profesional memang memerlukan ketelitian dan kesabaran yang tidak sedikit. Bahkan ketika kita menemukan suatu data yang sesuai, kita sebaiknya melakukan validasi dengan memastikan bahwa sumber data itu benar-benar dapat dipercaya. Jangan sampai nanti ketika skripsi kita sudah rampung dan siap disidangkan, kita masih ragu dengan validitas data yang kita miliki.

Pada tahap ini, ‘kegigihan’ kita dalam mencari data sangat diperlukan. Jangan terlalu cepat menyerah kalo kita belum nemu data yang kita inginkan dengan hanya menggunakan satu keyword saja. Cari dengan menggunakan kombinasi keyword lainnya. Kalo gak nemu dalam bahasa Indonesia, carilah dengan versi English nya. Tips lainnya, jangan buru-buru menutup halaman web yang kita pikir hasilnya tidak sesuai dengan data yang ingin kita cari. Bisa jadi data lain yang kita temukan dapat menjadi alternatif yang bisa digunakan jika data yang kita inginkan memang tidak tersedia. Tak ada rotan, akar pun jadi 😉

  •  Teori dan penelitian terdahulu

Dari semua bagian pada skripsi, ini yang menurutku paling utama untuk diberi perhatian. Pada jenjang S1 kita tidak dituntut untuk menemukan teori baru, kita masih diperbolehkan untuk melakukan replikasi penelitian sepanjang itu tidak melanggar etika penulisan, misalnya dengan mengutip sesuai kaidah penulisan. Dengan ketentuan tersebut, kita hanya perlu menemukan model penelitian yang sama atau mendekati sama dengan apa yang ingin kita teliti. Tentu ini agak kurang relevan jika kita membahas penelitian yang sifatnya eksploratori, namun untuk deskriptif dan kausal, ini akan sangat membantu.

Kebanyakan mahasiswa men’dewa’kan judul, yang penting ketemu judul yang pas. Sebagian besar dari mereka tidak menyadari bahwa judul itu hanya puncak gunung es, sedangkan dasarnya yang lebih luas lagi adalah teori yang dipake sebagai landasan di penelitian itu. Tidak sedikit dari teman-temanku yang sudah begitu yakinnya dengan kelengkapan data Bab 1 mereka harus mundur kembali karena kesulitan menemukan teori yang sesuai untuk Bab 2 nya. Untuk menghindari kesalahan yang sama, usahakan ketika kita akan menentukan judul yang fix, kita sudah menemukan setidaknya satu teori yang relevan dan sesuai, entah itu dari jurnal maupun buku teks. Jangan sampai ketika usaha kita sudah maksimal dalam mencari data untuk latar belakang penelitian, semuanya jadi sia-sia hanya karena ternyata teorinya belum banyak dibahas.

Tanpa mengecilkan keinginan teman-teman untuk menemukan hal baru melalui penelitian atau skripsi yang dikerjakan, aku hanya ingin mengutip dan menggarisbawahi apa yang dikatakan seorang dosen padaku, bahwa kualitas tugas akhir tidak hanya bergantung pada seberapa baru temuannya atau seberapa rumit penyelesaiannya, tapi seberapa mampu kita menginterpretasikan hasil penelitian kita nantinya.

  • Pengumpulan data primer

Bagi mahasiswa yang memilih topik pemasaran, operasional, dan SDM dengan pengumpulan data primer melalui kuesioner, tahap pengumpulan data tersebut bisa jadi memakan waktu, tergantung dari jumlah responden yang diperlukan. Mudahnya seperti ini, ketika populasi penelitian diketahui, kita bisa menggunakan rumus Slovin dan sampel yang dibutuhkan paling banyak sebesar 100 orang. Sedangkan bagi mereka yang populasi penelitiannya tidak diketahui, penghitungan sampel biasanya mengarah pada jumlah sampel sekitar 385 sampel atau sering dibulatkan menjadi 400 orang. Bahkan untuk beberapa penelitian dengan model yang kompleks, jumlah respondennya bisa lebih banyak lagi. Dengan keterbatasan waktu yang kita miliki, menyebarkan kuesioner dalam jumlah besar bisa jadi pekerjaan yang melelahkan.

Thanks for they who have created internet and all of the features. Internet sangat membantu kita dalam hal ini. Kita bisa dengan mudah membuat kuesioner secara online dan mengirimkan linknya melalui beberapa media, baik itu chatting maupun social media. Untuk lebih ampuhnya, menemukan calon responden melalui social media (misalnya Twitter) dapat dilakukan dengan memanfaatkan menu ‘Search’. Kita hanya perlu mengetik keyword kriteria responden yang kita inginkan dan dalam hitungan detik, akun-akun yang terkait akan muncul. Beruntunglah kalian para kepo-ers karena tahap ini pasti akan terasa lebih mudah bagi kalian. Hahaa 😀

  • Memahami cara mengolah data

Mengolah data untuk menemukan hasil penelitian kita menjadi bagian yang sangat krusial sebelum akhirnya menentukan kesimpulan dan saran. Banyak dari mahasiswa kesulitan pada tahap ini, khususnya mereka yang memilih tipe penelitian kuantitatif.  Bisa jadi karena cara mengolah data tidak diajarkan di kelas atau software statistik yang dipilih tidak umum digunakan. Kedua alasan tersebut sebenarnya menjadi kurang tepat untuk dijadikan kambing hitam dalam masalah kesulitan mengolah data. Saat ini telah banyak tersedia tutorial pengolahan data statistik, mulai yang gratis hingga berbayar, di internet. Bahkan tidak jarang kita temukan lembaga-lembaga statistik yang menyediakan jasa konsultasi pengolahan data, walaupun kita harus merelakan sekian ratus ribu uang saku kita untuk memperoleh hasil secara cepat.

Tapi dibanding kedua cara tersebut, ada cara yang tidak kalah efektif. Kita cukup menemukan teman yang memiliki kesamaan cara pengolahan data dengan kita dan memahami betul cara pengolahan data sehingga kita bisa belajar dengannya. Tidak hanya dengan teman seangkatan, senior maupun junior juga bisa menjadi alternatif, selama kita yakin mereka kompeten. Disinilah indahnya mengerjakan skripsi. Kita bisa menemukan teman baru, entah yang senasib atau tidak, yang secara mengejutkan walaupun baru kenal tapi mau membantu. Aku merasakan sendiri pengalaman itu, dan semoga kalian juga sama.

Skripsi mungkin saja memberikan pengalaman yang berbeda-beda bagi setiap mahasiswa. Tapi satu hal yang pasti adalah skripsi yang kita kerjakan akan menjadi masterpiece kita yang melekat sampai kapanpun. Skripsi adalah karya terakhir kita sebagai mahasiswa di jenjang S1 dan akan menjadi sesuatu yang akan kita ingat, entah secara baik atau buruk. Aku hanya membahas hal-hal teknis pada tulisan ini, aku tidak membahas bagaimana seharusnya menghadapi dosen pembimbing, karena hal tersebut di luar kendali kita.  Tidak pernah ada skripsi yang mudah. Dan jika ada banyak dari teman-teman kita yang seolah tanpa beban mengerjakan tugas akhirnya, kita tidak bisa berkesimpulan bahwa skripsi mereka mudah. Mereka hanya tau celah untuk mengatasi kesulitan-kesulitan yang mereka hadapi. Dan jika mereka bisa, kalian juga bisa.

Aku jadi teringat quote dari seorang teman : “Sebaik-baiknya skripsi adalah skripsi yang selesai”. Well, semangat dan selamat berjuang, mahasiswa tingkat akhir. May God always be with you 🙂

Advertisements

Then, Why Worry ?

Pernahkah kalian merasa kalian terlalu mengkhawatirkan sesuatu yang belum terjadi, atau bahkan mungkin tidak akan pernah terjadi? Pernahkah kalian ada pada situasi ketika lampu kamar sudah dimatikan dan selimut sudah menghangatkan badan kalian, tapi pikiran kalian mengembara entah kemana dan satu persatu kekhawatiran (tentang apapun) muncul? Pernahkah kalian terbangun di tengah malam dan sulit tidur kembali karena hal-hal kecil yang memenuhi pikiran kalian? Aku yakin semua jawabannya iya. Akupun demikian.

what-if

Khawatir menjadi hal yang manusiawi bagi semua orang, bahkan mungkin sejak kita masih anak-anak. Sewaktu aku ada di bangku sekolah dasar, aku mengkhawatirkan pekerjaan rumah yang tidak bisa kuselesaikan, bahkan aku masih ingat malam-malam dimana aku mendapati diriku tidur larut karena takut keesokkan harinya guru menunjukku untuk mengerjakan soal itu di depan kelas. Kekhawatiran yang berbeda muncul saat di bangku perkuliahan. Menjalani masa studi jauh dari orang tua menimbulkan banyak kekhawatiran dan itu menyesakkan. Aku mengkhawatirkan apakah aku cukup mampu hidup mandiri, apakah aku akan punya teman yang bisa memahamiku. Tiap malam sepanjang masa perkuliahan itu aku juga tak pernah berhenti memikirkan apakah aku akan cukup membanggakan orangtuaku ketika ini semua selesai. Bahkan ketika aku menjalani masa perkuliahan masterku, kekhawatiran yang lebih besar muncul. Apakah setelah perkuliahan tersebut aku mampu memperoleh pekerjaan yang baik? Apakah kelak aku punya kehidupan yang berkecukupan, keluarga yang bahagia, karir yang cemerlang, dan mampu menjadi berkat bagi orang-orang di sekelilingku?

Seperti banyak kutipan yang kubaca, sebagian besar hal buruk yang kita khawatirkan sebenarnya tidak pernah terjadi. Aku coba untuk percaya itu, tapi pemikiran yang sama muncul berulang kali. Ada satu saat dimana diskusi dengan teman-temanku yang luar biasa membuatku (dan mungkin kami semua) menjadi lebih yakin, menjadi percaya bahwa yang aku (dan kami masing-masing) jalani adalah hal yang tepat. Tetapi ada lebih banyak waktu dimana aku dan diriku sendiri saling berbincang dan saling mempertanyakan segudang kekhawatiran itu.

Di satu sisi aku terkadang merasa bahwa begitu menyedihkannya meragukan diriku sendiri atas apa yang bisa aku lakukan saat ini atau nanti. Tapi di sisi satunya, aku merasa sedikit beruntung masih punya rasa khawatir itu. Setidaknya dengan adanya kekhawatiran itu, aku mencoba menggali apa yang bisa aku lakukan dan aku selalu terkejut dengan hasilnya. Aku belajar bahwa ada hal-hal yang belum datang tapi harus diantisipasi. Aku belajar bahwa yang membatasi diri kita sesungguhnya adalah diri kita sendiri. Yang membuat kita tidak bisa adalah karena diri kita sendiri berkata ‘tidak mungkin’. Aku belajar bahwa menaklukkan kekhawatiran tidak cukup hanya dengan yakin, tapi perlu usaha keras dan motivasi yang tak pernah habis.

Masa penyusunan tesis memberikan pemahaman yang cukup dapat kumengerti tentang hal ini. Di program master yang aku jalani, dimana kami diberikan tenggat waktu hanya tiga bulan untuk menyelesaikan tesis, ada begitu banyak yang kami khawatirkan. Kekhawatiranku yang pertama adalah aku tidak punya waktu dan kemampuan yang cukup untuk menyelesaikan tesis sesuai tenggat waktu. Jika hal itu terjadi, artinya aku tidak mampu menyelesaikan studi tepat waktu dan aku harus membayar kembali biaya pendidikan yang tidak sedikit. Sebagai mahasiswa murni tanpa penghasilan, hal itu hanya akan menambah beban finansial kedua orangtuaku.

Secara mengejutkan, kekhawatiran itu justru berganti rupa menjadi motivasiku untuk dapat mengerjakan tugas akhirku dengan baik. Aku cukup ahli pada awalnya. Mendownload dan membaca puluhan jurnal, berselancar di internet mengumpulkan data sekunder, mempelajari bagaimana data itu akan dianalisis. Beberapa kali aku mendapati diriku terjaga sepanjang malam untuk memastikan bahwa aku berada di jalur yang benar sesuai timeline yang telah aku buat dengan cermat. Sampai akhirnya pada seminar proposal tesis, aku diminta untuk menambah jumlah responden yang terbilang tidak sedikit. Kekhawatiranku saat itu hanya, apakah aku punya cukup waktu untuk mengumpulkan data primer sebanyak itu dalam waktu sebulan? Tidak ada jalan untuk kembali dan aku mencoba menjalani semampuku. Tuhan mengirimkan orang-orang baik yang dengan senang hati menawarkan bantuan padaku dan aku bersyukur untuk itu. Aku bahkan mampu mengumpulkan seluruh data yang kuperlukan sebelum waktu yang aku tetapkan. Kekhawatiranku yang ketiga muncul pada saat aku jatuh sakit dan diharuskan istirahat total selama hampir dua minggu di saat tenggat waktu pengumpulan tugas akhir tinggal menghitung hari. Kali ini, dosen pembimbingku menjadi orang yang menjawab kekhawatiran tersebut. Beliau tau sekeras apa aku sudah mencoba untuk menyelesaikannya dan tak sedikit bantuan yang beliau berikan untukku. Bahkan, atas nilai yang luar biasa yang aku raih saat sidang tesis itu, beliau punya peran yang amat besar.

Setelah ini semua selesai, aku menyempatkan diri untuk menengok ke belakang, ke hari dimana semua kekhawatiran tentang masa kuliah ini berawal. Aku banyak belajar bahwa tidak apa kita merasa khawatir, asalkan kita tidak pernah kehilangan keyakinan kita pada apa yang bisa kita lakukan. Tidak apa kita punya banyak kekhawatiran, asalkan kita punya lebih banyak semangat dan usaha yang tak henti.

Aku tau aku masih punya banyak kekhawatiran pasca kelulusanku. Pekerjaan, masa depan, pasangan, dan berbagai kekhawatiran lainnya. Pada waktunya nanti, aku akan belajar lebih banyak lagi tentang bagaimana mengatasi setiap kekhawatiran itu. When you have a problem and you can (or even you can’t) do anything about it, then why worry ? 🙂

 why-worry

Lima Rintangan Sikap — Masalah

Dalam bukunya yang berjudul “Difference Maker”, John C. Maxwell menyebutkan ada lima rintangan sikap yang dihadapi manusia, yaitu patah semangat, perubahan, masalah, rasa takut, dan kegagalan. Masalah sebenarnya dari manusia adalah terkadang manusia salah mendefinisikan masalah mereka dan menganggap bahwa masalah adalah pertanda akhir dari segalanya. Sebagian pendapat tersebut bisa jadi benar, tapi membenarkan seluruhnya menunjukkan bahwa kita tidak memiliki keinginan untuk belajar. Maxwell memberikan cara unik untuk mendefinisikan apa itu masalah :

P (redictors)    : membantu kita untuk memprediksi dan  membentuk masa depan

R (eminder)     : sebagai pengingat bahwa kita tidak bisa sukses sendirian

O (pportunities): kesempatan untuk memperoleh yang lebih baik

B (lessings)     : membuka jalan lain yang lebih baik dari yang pernah kita bayangkan

L (essons)        : memberikan pelajaran untuk menghadapi tantangan baru lainnya

E (verywhere) : menyadarkan kita bahwa tidak ada satupun yang luput dari kesulitan

M (essages)     : sebagai pesan penanda dari sebuah kesulitan yang lebih besar

S (olvable)       : mengingatkan kita bahwa selalu ada solusi untuk setiap permasalahan

 prob

Ada sebuah ilustrasi unik yang terdapat dalam bagian Masalah pada buku tersebut. Seorang ayah sedang mencoba menjelaskan cara memandang sebuah masalah untuk anak perempuannya yang bertanya tentang hal tersebut. Alih-alih memberikan wejangan berjam-jam atau kata-kata motivasi yang menyejukkan, sang ayah malah pergi ke dapur dan ingin sang anak mengamati yang ia lakukan. Sang ayah memanaskan wadah berisi air dan menunggu air tersebut mendidih. Setelah air telah cukup mendidih, sang ayah mengambil tiga benda, yaitu wortel, telur, dan bubuk kopi, yang kemudian dimasukkan ke masing-masing wadah. Sang ayah berkata “Masalah bisa saja melemahkan yang kuat, menguatkan yang lemah, atau memberikan manfaat baru bagi siapapun yang mengalaminya.”

Air mendidih bisa membuat lunak wortel yang keras, sama seperti masalah yang kerap membuat nyali dan keyakinan kita yang awalnya teguh menjadi ciut. Air mendidih juga mampu membuat telur yang awalnya rapuh ketika jatuh, menjadi lebih keras dan tetap tidak berubah bentuk setelah jatuh, sama seperti masalah yang terkadang membuat kita mampu lebih tegar, lebih yakin setelah pembelajaran yang kita dapat dari kesulitan tersebut. Dan di sisi lainnya, bubuk kopi yang diberikan air mendidih dapat menjadi sebuah minuman yang dapat kita nikmati, sama seperti masalah yang terkadang mampu memberikan manfaat yang positif di balik sisi gelapnya.

Cara kita memandang masalah terkadang menjadi masalah sebenarnya. Berhenti membanding-bandingkan masalah kita dengan masalah orang lain akan cukup membantu kita untuk tidak terus meratapi kesulitan yang kita alami. Sebagian dari kita juga kerap membesar-besarkan masalah yang kita hadapi, seolah dunia akan berakhir di penghujung masalah tersebut. Dengan meresapi definisi masalah yang coba diungkapkan oleh Maxwell, setidaknya kita bisa menyadari bahwa dalam setiap hal yang kita anggap negatif, selalu ada pembelajaran untuk membawa kita ke sisi positif yang terkadang tidak pernah kita duga sebelumnya. Kita hanya perlu memahaminya.

 

 

[A – Z] Phlegmatis yang Damai

Menyenangkan rasanya jika kita dikelilingi oleh teman-teman yang mau mendengarkan keluh kesah kita tanpa mengeluh, memberikan solusi tanpa menghakimi. Rasanya damai ketika ada banyak orang Phlegmatis, yang mau bersabar menghadapi orang-orang yang terlalu banyak bicara, tetap tenang di saat orang lain kebingungan, yang mementingkan keseimbangan dalam menjalani kehidupan. Seorang Phlegmatis yang Damai adalah sosok seorang teman yang ideal. Bagaimana kita mengenali seorang Phlegmatis yang Damai?

Tidak sulit untuk menemukan seorang Phlegmatis dalam sebuah kelompok pertemanan. Temukan orang yang hanya diam mendengarkan dengan serius ketika seseorang bahkan sudah hampir 30 menit berbicara tanpa henti. Temukan orang yang menanggapi sesuatu dengan tenang dan santai, seolah semuanya memang baik-baik saja. Orang Phlegmatis yang Damai merupakan sosok menyenangkan karena kemampuan alamiahnya untuk memahami apa yang orang lain rasakan. Mereka dikenal karena kerendahan hati dan rasa simpati yang dirasa tulus oleh orang lain. Orang Phlegmatis tidak pernah tergesa-gesa dan tidak pernah merasa terganggu oleh situasi yang mungkin mengganggu orang lain. Mereka jarang memulai sesuatu dengan harapan yang besar dan menjadi tipe orang yang paling mudah menghadapi ketidakpastian dalam hidupnya.

pd1

Poin plusnya adalah orang-orang ini terlahir sebagai penengah dalam situasi konflik. Ketika tipe kepribadian lain menanggapi konflik dengan memberontak, tipe Phlegmatis akan tetap menjaga perdamaian dengan mengajukan diri sebagai pihak penengah. Ketika orang lain sibuk berdebat, orang Phlegmatis akan memberikan pandangan objektifnya dengan tenang. Tipe kepribadian ini adalah tipe yang memiliki banyak teman karena karakternya yang menyenangkan dan tipe teman seperti ini sangat dibutuhkan oleh tipe Sanguinis, Melankolis, dan Koleris. Salah satu alasan utama mengapa tipe Phlegmatis memiliki banyak teman adalah karena mereka pendengar yang baik. Mereka lebih suka diam daripada berbicara, sampai waktunya tepat bagi mereka untuk menyampaikan pendapatnya. Dalam organisasi, tipe Phlegmatis tergolong mudah menyesuaikan diri dengan siapapun dan memiliki bakat admistrasi yang tidak dapat dianggap remeh.

pd

Seperti halnya tipe kepribadian lain, orang Phlegmatis juga memiliki beberapa hal penting untuk diperhatikan terkait kebiasaan dan karakternya. Dengan kebiasaan diamnya, orang Phlegmatis seolah ‘tidak ada’ dalam kelompoknya. Ketidakmampuan dalam menunjukkan antusiasmenya lama kelamaan akan menjadi masalah tersendiri bagi mereka. Untuk itu, penting bagi mereka untuk berusaha membangkitkan semangatnya. Dimulai dari hal kecil, dengan berani mengungkapkan pemikirannya dan hal-hal yang menjadi ketertarikannya. Orang Phlegmatis juga tergolong orang yang resisten terhadap perubahan, berbeda dengan Koleris yang menyukai tantangan baru sebagai dampak dari adanya perubahan. Dalam kasus ini, pertemanan antara Phlegmatis yang Damai dengan Koleris yang Kuat akan saling melengkapi. Selain itu, sebagian besar orang Phlegmatis nampak tidak memiliki pendirian dan tidak tegas. Salah satu alasan kebimbangan seorang Phlegmatis dalam mengambil keputusan adalah mereka ingin memastikan bahwa tidak satupun orang yang merasa tersakiti oleh keputusan yang nantinya mereka ambil. Oleh karena itu, para Phlegmatis perlu melatih diri dalam membuat keputusan dan bersedia menerima tanggung jawab. Mereka juga perlu belajar untuk berani berkata ‘tidak’ untuk hal-hal tertentu dan menyadari bahwa tidak selamanya mereka dapat menyenangkan hati semua orang.

 

Referensi :

Littauer, F. (1996). Personality Plus. Jakarta : Binarupa Aksara

[A – Z] Koleris yang Kuat

Dalam sebuah tim, peran pemimpin akan menentukan keberhasilan tim tersebut. Orang dengan tipe kepribadian Koleris yang Kuat memiliki naluri alamiah untuk menjadi seorang pemimpin. Karakter-karakternya membuat orang berpikir bahwa orang Koleris memang terlahir untuk menjadi seorang pemimpin. Bagaimana kita mengenali orang Koleris yang Kuat?

Membuat keputusan mungkin menjadi hal yang sulit bagi sebagian besar orang, tapi tidak bagi para Koleris. Mereka mampu memecahkan masalah dalam waktu singkat dengan cara yang tegas. Mereka benar-benar tahu apa yang harus dilakukan di masa-masa sulit. Pantang menyerah seolah menjadi identitas lain dari para Koleris. Ketika mengetahui ada yang salah dengan kerja timnya, para Koleris dengan sigap akan membenahi kesalahan tersebut, sehingga tujuan tim dapat tercapai sesuai rencana. Kemampuan alaminya dalam mengorganisir sesuatu meyakinkan semua orang bahwa para Koleris memang seolah terlahir sebagai pemimpin.

Business people diverse human resources team leader

Poin plusnya adalah orang-orang Koleris tergolong orang yang sangat berorientasi pada target. Membuat perencanaan hingga mengeksekusi setiap detail rencana tersebut dengan pembagian tugas yang tepat dalam tim membantu para Koleris untuk meraih target timnya. Di saat tipe kepribadian menganggap bahwa kompetisi adalah sesuatu yang bisa memunculkan konflik, seorang Koleris justru menganggap bahwa kompetisi adalah salah satu cara untuk mengembangkan dirinya. Bahkan tanpa adanya tantangan baru, orang-orang ini merasa ada suatu kebosanan dalam menjalani tugasnya. Koleris yang Kuat semakin lengkap sebagai organisator dengan kemampuannya mendelegasikan tugas dalam timnya. Ketika mereka mengetahui ada tugas yang harus diselesaikan, seketika para Koleris dapat memutuskan orang yang tepat untuk diberikan tugas tersebut.

Beberapa hal yang harus diperhatikan oleh para Koleris adalah kondisi dimana mereka selalu menganggap dirinya selalu benar. Dalam kehidupan sosialnya, hal ini (bagi para Koleris) tidak terlalu menjadi soal karena mereka merupakan tipe kepribadian yang merasa tidak memerlukan teman. Pembicaraan santai ataupun mendengar keluh kesah orang lain bukan hal yang disukai oleh Koleris karena pada dasarnya mereka hanya akan melakukan hal-hal yang menurut mereka memiliki tujuan yang jelas. Tapi yang harus dipahami oleh para Koleris adalah perlunya menjaga hubungan baik dengan orang lain, apalagi anggota tim kerjanya. Ketika para Koleris memang memiliki kemampuan mendelegasikan tugas namun di sisi lain hubungan personalnya dengan anggota tim tidak berjalan baik, pengerjaan tugas tersebut tentu berpotensi tidak optimal. Bukan berarti mencampuradukkan personal dengan profesionalisme, tapi akan lebih menyenangkan jika memiliki tim yang nyaman bekerja karena terjalin hubungan baik antaranggota tim sehingga tujuan organisasi akan mampu tercapai dengan baik.

Permasalahan lain dari para Koleris adalah mereka tidak tahu bagaimana menangani orang lain. Hal ini merupakan imbas dari karakter mereka yang selalu berorientasi dengan hasil, bukan pada orang. Mereka mungkin mampu mendelegasikan tugas, tapi untuk memahami apa yang dipikirkan dan dirasakan oleh anggota timnya akan menjadi hal sulit bagi mereka. Kuncinya adalah para Koleris perlu melatih kesabaran dan menyadari bahwa tidak semua orang dapat ‘disentuh’ dengan pendekatan yang sama. Para Koleris terbiasa langsung mendebat ketika ada yang menyampaikan sesuatu yang mungkin tidak sesuai dengan apa yang diyakininya. Hal ini juga harus disadari betul bahwa ada kalanya mendengarkan pendapat dan pemikiran orang lain perlu dilakukan untuk memperkaya pemahaman dan wawasan bersama. Para Koleris perlu menyadari bahwa pembahasan dalam lingkup sosial akan berbeda dengan pembahasan dalam lingkup pekerjaan sehingga kemampuan memilah kedua hal ini juga perlu dipelajari untuk kemudian diterapkan dalam kehidupannya.

kk1

Referensi :

Littauer, F. (1996). Personality Plus. Jakarta : Binarupa Aksara

[A – Z] Melankolis yang Sempurna

Dalam keseharian yang penuh kesibukan dan stres dalam menghadapi hari buruk di sekolah, kampus, maupun tempat kerja, kehadiran para Melankolis yang Sempurna akan sangat dibutuhkan. Naluri alamiah orang-orang ini dalam memahami cara untuk melakukan sesuatu dengan terorganisir dan sistematis seringkali membantu mereka dan sekelilingnya untuk menghindari masalah sebelum masalah tersebut benar-benar terjadi. Bagaimana kita dapat mengenali si Melankolis yang Sempurna?

Orang Melankolis yang Sempurna ditandai dengan kepribadiannya yang mendalam dan analitis. Jika para Sanguinis berkepribadian ekstrovert dan selalu berbicara, maka para Melankolis memiliki kepribadian sebaliknya, yaitu introvert dan senantiasa mendengarkan dan menganalisis kebenaran dari setiap yang diucapkan orang lain. Orang dengan kepribadian tipe Melankolis adalah orang-orang yang memiliki naluri berpikir, merencanakan, mencipta, dan menemukan. Rutinitas yang dianggap membosankan oleh para Sanguinis justru menjadi hal yang selalu dilakukan dengan tekun oleh para Melankolis yang memiliki tujuan untuk menyelesaikan apa yang telah dimulai. Orang Melankolis adalah orang-orang yang serius dalam menetapkan tujuan jangka panjang secara detail dengan kumpulan rencana yang telah disusun dengan rapi sebelumnya. Tak heran, diantara semua tipe kepribadian, tipe Melankolis adalah tipe yang menyukai daftar, diagram, grafik, dan hal lain yang dapat membantunya dalam merangkum serta menganalisis setiap detail rencana yang mereka buat. Bagi mereka, tools tersebut adalah bagian dari kehidupan.

ms

Poin plusnya adalah orang-orang dengan tipe ini menganut semboyan “Kalau itu layak dlakukan, itu layak dilakukan dengan benar”. Ketika sebuah tim dipimpin oleh orang Melankolis, maka kualitas akan selalu menjadi prioritas dibanding kuantitas dan pekerjaan akan diselesaikan dengan benar serta tepat waktu. Orang Melankolis juga dikenal sebagai pribadi yang sangat memperhatikan orang lain, peka terhadap keperluan orang lain, dan memiliki rasa belas kasihan yang mendalam. Tak heran jika teman Melankolis kita akan sangat terbawa dengan curhat kita. Mereka tidak jarang ikut bersedih ketika kita tertimpa kesulitan. Orang Melankolis dapat menjadi pendengar sekaligus penasihat yang baik karena mereka memiliki kemampuan yang baik dalam melihat ke dalam hati seseorang. Mereka bersedia mendengarkan masalah orang lain, menganalisisnya, dan menemukan solusi dari permasalahan tersebut. Bagi orang Melankolis, memiliki idealisme, tujuan, dan menjalani segalanya secara teratur adalah hal yang wajib.

ms1

Ada beberapa hal penting yang harus menjadi pertimbangan para Melankolis. Tipe ini adalah tipe yang mudah tertekan. Ketika sesuatu berjalan tidak sesuai dengan prediksi dan rencana yang telah disusun, seketika para Melankolis akan merasa dunia nyaris berakhir dan kesedihan sangat terlihat di wajahnya. Perlu diingat bahwa tidak seorang pun yang menyukai orang yang berwajah muram. Oleh karena itu, pertemanan antara Melankolis dan Sanguinis akan terlihat saling melengkapi dalam kasus semacam ini. Aura positif yang disebarkan oleh para Sanguinis akan mampu membangkitkan keyakinan para Melankolis untuk memulai kembali rencana yang telah disusunnya. Kecenderungan orang Melankolis yang mudah sakit hati juga menjadi masalah tersendiri bagi mereka. Oleh karena itu, para Melankolis harus terbiasa untuk tidak terlalu berfokus pada diri mereka sendiri, menyadari bahwa kritik yang disampaikan orang lain adalah sesuatu yang perlu dianalisis kembali secara objektif dan menjadi masukan bagi mereka ke depannya.

Orang Melankolis dikenal sebagai orang yang perfeksionis dan seringkali mengajukan tuntutan yang tidak realistis kepada orang lain sehingga seringkali orang di sekelilingnya tidak mampu mengikuti pemikiran dan tuntutan tersebut. Perlu diingat bahwa tidak semua orang memiliki kemampuan yang sama seperti dirinya. Oleh karena itu, penting bagi para Melankolis untuk sedikit mengendurkan standar mereka ketika mulai bekerja dalam sebuah tim. Dan yang harus menjadi catatan yang perlu diingat oleh para Melankolis adalah bahwa tidak semuanya dalam kehidupan ini dapat berjalan sempurna, jadi tidak perlu menganggap terlalu serius semua yang terjadi dan jalanilah dengan lebih santai.

 

Referensi :

Littauer, F. (1996). Personality Plus. Jakarta : Binarupa Aksara

[A – Z] Sanguinis yang Populer

Dunia tanpa Sanguinis Populer mungkin akan tampak sangat membosankan. Tidak akan kita temukan pertolongan kegembiraan di masa sulit, pertolongan humor ketika ada beban berat di pundak dan hati kita, atau antusiasme, energi, dan kreativitas yang tak pernah habis. Pertanyaan pentingnya adalah “Bagaimana kita bisa menemukan si Sanguinis Populer?”

Cara termudah dan paling sederhana dalam mengenali kepribadian tipe ini adalah dengan menemukan orang yang paling keras dan tak hentinya berbicara dalam kelompok. Kebiasaan naluriah dari seorang Sanguinis adalah ‘bercerita’. Ketika ada sedikit saja kesempatan bicara, hal tersebut akan dimanfaatkan semaksimal mungkin (bahkan cenderung melebihi kapasitas). Hal tersebut tidak terlepas dari keinginan bawaan dari setiap Sanguinis, yaitu menjadi pusat perhatian. Dengan keahlian komunikasi dan kepribadiannya yang menyenangkan, cerita-cerita yang diungkapkan orang-orang ini akan mampu memukau para pendengarnya. Tak heran, di setiap acara kelompok, Sanguinis tak hentinya menceritakan hal-hal yang bisa menjadikannya center of attention bagi sekelilingnya.

sp

Jangan pernah meminta para Sanguinis untuk menghafal angka atau nama, hal tersebut akan tampak sulit (dan membosankan) bagi mereka. Keahlian para Sanguinis adalah mengingat kejadian unik yang penuh warna, yang akan menjadi materi cerita mereka sehingga pendengar pun merasa seakan ‘terbawa’ pada serunya pengalaman tersebut. Terkenal dengan keluguan dan kepolosannya seperti seorang anak kecil, Sanguinis tidak ragu menceritakan kelemahan mereka dengan cara yang ‘elegan’ sehingga pendengar tidak akan merasa hal tersebut sebagai sebuah aib, justru menjadi hal menyenangkan untuk diperhatikan.

Poin plusnya, orang Sanguinis adalah orang yang memiliki antusiasme dan optimisme tinggi sehingga motivasinya untuk meraih tujuan menjadikannya karakter orang yang disukai, khususnya dalam pekerjaan tim. Pemikiran-pemikiran yang out of the box biasanya muncul dari tipe kepribadian ini. Hal tersebut tidak terlepas dari rasa ingin tahu yang amat besar dari seorang Sanguinis. Otak mereka yang selalu mencari gagasan baru dan menarik menjadikannya sebagai orang yang kreatif dan inovatif. Tentu, hal tersebut ditunjang oleh imajinasi mereka yang melebihi orang-orang pada umumnya. Tak hanya itu, mudahnya para Sanguinis dalam berteman menjadi salah satu kunci sukses mereka. Dengan berinteraksi di banyak kelompok pertemanan, seringkali para Sanguinis ‘mengumpulkan’ ide-ide yang mungkin untuk satu kelompok, menggabungkannya dengan ide dari kelompok lain, dan terciptalah sebuah pemikiran yang bahkan tidak terpikir sebelumnya oleh para Melankolis, Koleris, atau Phlegmatis.

sp1

Ada beberapa catatan penting bagi para Sanguinis yang harus diperhatikan. Orang-orang ini terkadang dianggap terlalu banyak berbicara dan cenderung bukan tipe pendengar. Bagi para Melankolis dan Phlegmatis, hal ini mungkin tidak terlalu menjadi soal karena kedua tipe ini memang tipe pendengar (walaupun mungkin mereka tetap berpikir bahwa Sanguinis begitu banyak menggunakan kalimat-kalimat yang berlebihan), namun bagi para Koleris, obrolan semacam itu akan dianggap sebagai ‘upaya menarik perhatian yang kampungan’. Oleh sebab itu, penting bagi Sanguinis menyadari siapa yang menjadi pendengar mereka dan mempelajari tanda-tanda kebosanan yang terlihat dari raut wajah atau gerak gerik pendengarnya. Tak hanya berbicara (terlalu) banyak, para Sanguinis juga tak jarang menyela pembicaraan orang lain dan memasukkan pemikiran yang dimilikinya. Penting untuk diingat bahwa menyela pembicaraan dapat dianggap perilaku yang tidak sopan, oleh karena itu para Sanguinis disarankan untuk menahan diri dan mendengarkan sampai seseorang benar-benar selesai menyampaikan apa yang ingin disampaikan sebelum akhirnya menanggapi hal tersebut. Dengan begitu, suasana menyenangkan dalam kelompok dapat tercipta dan para Sanguinis dapat membawa lebih banyak keceriaan dengan cerita-cerita menariknya.

 

Referensi :

Littauer, F. (1996). Personality Plus. Jakarta : Binarupa Aksara

Pemilihan Presiden 2014 [Review]

Indonesia baru saja selesai menggelar Pemilihan Presiden (Pilpres) yang ke-4 pasca Orde Baru. Seperti gelaran-gelaran Pilpres sebelumnya, tensi politik tentu sangat terasa pada Pilpres kali ini. Pilpres kali ini juga menjadi Pilpres ketiga dimana masyarakat Indonesia (yang secara hukum telah memiliki hak suara) dapat memilih pemimpin bangsa secara langsug setelah sebelumnya Bapak Susilo Bambang Yudhoyono terpilih untuk dua periode (10 tahun) yang lalu. Yang menarik adalah Pilpres kali ini hanya diikuti oleh dua pasangan Calon Presiden (Capres) dan Calon Wakil Presiden (Cawapres), yaitu pasangan nomor urut 1 : Bapak Prabowo Subianto – Bapak Hatta Rajasa , dan pasangan nomor urut 2 : Bapak Joko Widodo (Jokowi)-Bapak Jusuf Kalla (JK). Sejak dideklarasikannya kedua pasangan Capres-Cawapres ini, Indonesia seolah kemudian terbelah menjadi dua ‘kubu’ yang masing-masing mendukung salah satu pasangan calon.

nomor urut

Mungkin untuk sebagian anak muda (youth), politik bukan menjadi hal yang krusial untuk  diperbincangkan. Bahkan, sebagian menganggap politik hanya untuk orang tua. Tapi berbeda situasinya dengan Pilpres kali ini. Kalangan youth turut menyumbangkan opini, kreativitas, dan partisipasi aktifnya dalam Pilpres 2014 ini. Melalui social media, baik Twitter, Facebook, maupun social media lainnya, kalangan youth menyuarakan pendapatnya tentang Capres-Cawapres favoritnya. Bahkan tidak sedikit yang dengan kreatif membuat video dukungan untuk pasangan calon tertentu. Ari Dwipayana, pengamat politik Universitas Gajah Mada bahkan menyatakan bahwa anak muda adalah penentu kemenangan pada pemilu 2014 ( sumber : http://ugm.ac.id/en/berita/8381-generasi.muda.penentu.kemenangan.pemilu.2014 ). Survei Kompas sebelum pelaksanaan Pilpres menunjukkan bahwa 92.8% anak muda (yang tergolong pemilih pemula dengan rentang usia 17 – 22 tahun) menyatakan bahwa mereka pasti akan menyalurkan hak suaranya pada Pilpres 2014 ( sumber : http://nasional.kompas.com/read/2014/04/08/1946582/Antusiasme.Pemilih.Muda ).

Masa kampanye Capres-Cawapres pada 13 Juni hingga 4 Juli 2014 menjadi masa yang membawa begitu banyak dinamika politik. Kampanye hitam (black campaign) makin merebak, khususnya di social media. Saling serang opini, saling melempar tudingan demi tudingan. Entah pihak mana yang benar atau salah, masyarakat mungkin tidak tahu secara pasti. Yang kami tahu, politik mungkin menganggap itu hal yang biasa, tapi untuk demokrasi, itu bukan hal yang punya nilai etika.

Kedua pasangan calon, khususnya Capres, mungkin punya track record yang sama-sama membuat masyarakat harus putar otak untuk lebih memilih yang mana. Bapak Prabowo Subianto adalah mantan Danjen Kopassus yang menjabat di era Presiden Soeharto. Salah satu ‘masa lalu’ Prabowo yang dianggap kelam oleh banyak orang adalah kasus penculikan sejumlah aktivis LSM tahun 1998 yang menjurus pada pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM). Kasus itulah yang Ketua Dewan Pembina Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) ini dicopot dari jabatannya sebagai Danjen Kopassus. Di kubu seberang, Bapak Jokowi adalah mantan Walikota Solo periode 2005 – 2010 , yang kemudian terpilih kembali pada periode berikutnya. Namun, belum usai menjalankan mandat warga Solo, Bapak Jokowi ‘malah’ hijrah ke Jakarta dan mencalonkan diri sebagai Gubernur DKI Jakarta. Melalui Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) dua putaran pada tahun 2012, Bapak Jokowi kemudian menjadi orang nomor satu di ibukota. Dan belum tuntas memenuhi janji-janji perubahan untuk Jakarta, Bapak Jokowi kembali melakukan manuver dengan ‘meninggalkan’ daerah yang dipimpinnya karena diusung sebagai Capres pada Pilpres 2014 ini. Sebagian masyarakat mengkhawatirkan nantinya Bapak Jokowi terlalu ‘manut’ pada keputusan atau arahan dari partai yang mengusungnya, seolah tidak memiliki pendirian sebagai seorang pemimpin. Pengalaman masa lalu kedua Capres tersebut menjadi bahan dalam black campaign selama masa kampanye. Bahkan tidak hanya itu, salah satu Capres juga diserang isu Suku, Agama, Ras, dan Antargolongan (SARA).

Masa kampanye yang lalu juga menarik jika dilihat dari sisi keterlibatan public figure, khususnya para artis yang mendukung pasangan calon tertentu. Kreativitas kemudian mencuat dari keterlibatan para seniman tersebut. Seperti yang kita ketahui, beberapa waktu lalu muncul jingle yang mendukung pasangan Prabowo – Hatta yang dibawakan oleh Ahmad Dhani, dan beberapa jebolan ajang pencarian bakat menyanyi dengan menyadur irama lagu “We Will Rock You” dari band legendaris dunia, Quenn dan mengganti kalimat tersebut dengan “Prabowo Hatta”. Jingle ini kemudian menuai kontroversi terkait dua hal, yaitu kostum yang dikenakan Dhani yang dianggap serupa dengan seragam komandan elite Nazi Schutzstaffel (SS) dan perihal hak cipta karena penggunaan lagu tersebut tidak mendapat izin resmi dari pihak Quenn. Tak hanya itu, tim dari pasangan nomor urut 1 juga memiliki jingle dengan irama lagu “Garuda di Dadaku” milik band Netral. Dari kubu Jokowi, ada lagu “Salam Dua Jari” yang melibatkan sejumlah artis dan mengedepankan lirik yang mudah diingat dan sekaligus menjadi tajuk konser yang digelar di akhir masa kampanye. Terlepas dari apapun penilaian masyarakat yang menuju pada sentimen tertentu, menurut saya diciptakannya lagu atau jingle seperti itu membuat nuansa kampanye Pilpres tahun ini menjadi makin semarak dalam artian bahwa kampanye kali ini tidak hanya bersifat statis dengan pamflet, spanduk, atau baliho, tapi juga bisa dinamis dengan sentuhan kreativitas.

0        0 (1)

Debat Capres-Cawapres menjadi hal yang ditunggu masyarakat sebagai ajang untuk mengetahui seperti apa visi misi calon pemimpin negara ini. Dalam rentang 9 Juni – 5 Juli 2014, lima kali ajang debat digelar dengan tema berbeda yaitu :

  1. Pembangunan Demokrasi, Pemerintahan yang Bersih, dan Kepastian Hukum (9 Juni)
  2. Pembangunan Ekonomi dan Kesejahteraan Sosial (15 Juni)
  3. Politik Internal dan Ketahanan Nasional (22 Juni)
  4. Pembangunan Sumber Daya Manusia dan IPTEK (29 Juni)
  5. Pangan, Energi, dan Lingkungan (5 Juli)

images

Ketika masa kampanye berlalu dan hari pencoblosan tiba, kita harus bersyukur karena proses pemilihan tersebut berjalan damai tanpa gesekan berarti di masyarakat. Tentunya dalam hal ini kita perlu berterimakasih dengan kesigapan pemerintahan Bapak SBY dalam mengantisipasi kemungkinan-kemungkinan buruk yang terjadi. Namun hal unik yang terjadi pada 9 Juli tersebut adalah beberapa jam setelah waktu pencoblosan berakhir dan beberapa lembaga survei mulai merilis hasil hitung cepat (quick count), kedua pasangan calon sama-sama mengklaim bahwa pihaknya memenangkan Pilpres tahun ini. Ini kejadian pertama kalinya pada pemilihan kepala negara di Indonesia (atau jangan-jangan pertama di dunia). Tercatat sebelas lembaga survei melakukan quick count, dimana tujuh lembaga survei menyatakan pasangan nomor urut 2 unggul, yaitu Populi Center, CSIS, Litbang Kompas, Indikator Politik Indonesia, Lingkaran Suvei Indonesia, Radio Republik Indonesia, dan Saiful Mujani Research Center, sementara itu empat lembaga survei, yaitu Puskaptis, Indonesia Research Center, Lembaga Survei Nasional, dan Jaringan Suara Indonesia menyatakan keunggulan pasangan nomor urut 1 (sumber : http://politik.kompasiana.com/2014/07/17/hasil-quick-count-smrc-paling-mendekati-real-count-664670.html). Tak hanya melibatkan lembaga survei, media pun menyiarkan pemberitaan yang bagi sebagian masyarakat menjadi hal yang membingungkan. Beberapa stasiun televisi yang memang kepemilikannya dipegang oleh politisi partai peserta Pemilu sama-sama menampilkan hasil survei yang memenangkan pasangan yang diusung oleh partainya. Kendati demikian, kedua kubu akhirnya sepakat untuk menunggu hasil real count yang akan diumumkan oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) pada 22 Juli.

14055486171417141019

Ketika hari pengumuman tiba, peristiwa unik kembali terjadi. Secara mengejutkan, Bapak Prabowo menyampaikan pidato pernyataan politiknya yang intinya mengungkapkan bahwa pasangan tersebut menolak hasil rekapitulasi yang dilakukan KPU serta menyatakan bahwa mereka menarik diri dari proses yang sedang berlangsung. Alasannya antara lain adanya sejumlah proses pelaksanaan Pilpres yang bermasalah, tidak demokratis, dan bertentangan dengan Undang-Undang Dasar 1945 (UUD 1945), rekomendasi Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) tentang penyimpangan tersebut diabaikan KPU, serta telah terjadi kecurangan yang masif dan terstruktur (sumber : http://nasional.kompas.com/read/2014/07/22/14431281/Lima.Alasan.Prabowo.Tolak.Pilpres).  Multitafsir terhadap penyataan ‘menarik diri dari proses yang sedang berlangsung’ tersebut menjadi pembahasan para pengamat. Menarik diri dikatakan tidak sama dengan mengundurkan diri, sedangkan di Undang-Undang kata yang digunakan adalah ‘mengundurkan diri’ sehingga belum dapat dipastikan apakah nantinya pasangan tersebut akan dijatuhkan sanksi pidana atau tidak. ‘proses yang sedang berlangsung’ juga menjadi perdebatan, apakah yang dimaksud hanya sekadar proses rekapitulasi suara atau proses Pilpres secara keseluruhan. Pernyataan Bapak Prabowo tersebut sempat membuat gejolak pada bursa saham dengan anjloknya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sebesar hampir 2%. Namun KPU tidak bergeming dan tetap mengumumkan hasil rekapitulasi suara sekitar pukul 20.00.

images (1)

Berdasarkan hasil rekapitulasi suara KPU, Jokowi-JK memperoleh suara sebanyak 70.997.833 atau 53,15% dan Prabowo-Hatta memperoleh suara sebanyak 62.576.444 atau 46,85% (sumber : http://nasional.kompas.com/read/2014/07/22/22493031/Jubir.Jokowi-JK.Ini.Kemenangan.Rakyat).  Artinya, Bapak Jokowi dan Bapak JK secara sah dinyatakan sebagai Presiden dan Wakil Presiden Indonesia terpilih untuk periode 2014 – 2019.

Jokowi-JK-di-Pinisi-Hati-Buana-Setia

Pilpres kali ini memang diwarnai banyak peristiwa unik dan beberapa permasalahan teknis lainnya. Harapan ke depannya, penyelenggaraan pemilu apapun, baik pilpres maupun pilkada, dapat dilakukan dengan baik, baik persiapan, pelaksanaan, maupun pascapelaksanaan. Semoga penyelenggaraan Pilpres tahun ini memberikan pembelajaran demokrasi dan politik yang baik untuk segenap bangsa Indonesia.

Terlepas dari permasalahan yang terjadi sepanjang penyelenggaraan Pilpres tahun ini, masyarakat Indonesia memiliki pemimpin baru dan masyarakat menanti perubahan ke arah lebih baik yang dijanjikan oleh pasangan calon tersebut pada saat masa kampanye dulu. Harapan pasti selalu ada, tapi tidak hanya berada di pundak para pemimpin kita. Sebagai warga negara, kita berkewajiban untuk turut mengawal setiap kebijakan yang dibuat oleh pemimpin kita. Walaupun mungkin kita bukan pendukung pasangan yang terpilih tersebut, tapi kita tetap harus mendukung pasangan tersebut dalam menjalankan roda pemerintahan selama lima tahun ke depan. Seperti yang diungkapkan Bapak Jokowi pada deklarasi kemenangannya setelah pengumuman KPU, setelah ini lupakan nomor 1, lupakan nomor 2, hanya ada nomor 3 : Persatuan Indonesia.

Ingin Sukses? Milikilah Teman Baik

Semua orang pasti ingin sukses. Sukses dalam pendidikannya, karirnya, usahanya, keluarganya, maupun kehidupan sosialnya. Kesuksesan juga kerap menjadi identitas yang diburu semua orang, untuk menunjukkan bahwa dirinya mampu, untuk menjadikannya ‘terpandang’ di masyarakat, untuk menjadi inspirasi bagi orang banyak. Banyak cara yang dapat dilakukan untuk menjadi salah satu dari orang yang sukses. Ada yang diperoleh secara instan, ada pula yang memerlukan waktu lama. Ada yang diperoleh karena peran orang ‘besar’ di balik itu, ada yang susah payah dirintis sendiri. Apapun itu, kesuksesan punya makna dan tujuan tersendiri bagi masing-masing orang.

Wisnubroto Widarso dalam bukunya yang berjudul “13 Kiat Hidup Sukses” menguraikan cara-cara untuk menjadikan diri kita pribadi yang sukses untuk kemudian menyukseskan hidup kita. Dari ketigabelas kiat tersebut, kiat nomor 9 [Mempunyai Sahabat] menjadi menarik untuk dibahas. Manusia memiliki kodrat tidak hanya sebagai makhluk individu, tapi juga makhluk sosial. Tidak terbayangkan jika kita tidak memiliki teman untuk berinteraksi, berdiskusi, maupun menceritakan keluh kesah kita. Bahkan Robert Kiyosaki, sang pakar pemasaran jaringan dan penulis buku international best seller, “Rich Dad Poor Dad” mengatakan bahwa untuk dapat berpindah kuadran (memutuskan untuk beralih dari tipe karyawan menjadi tipe pengusaha), kita tidak dapat melakukannya sendiri. Pada dasarnya, kita tidak bisa menjalani hidup ini tanpa sosok seorang teman.

Aku sendiri belum menjadi seseorang yang sukses, aku masih berstatus mahasiswa saat ini. Tapi aku beruntung selama menjalani perkuliahan, aku berproses dan menemukan beberapa teman yang ‘luar biasa’. Aku belajar bahwa teman baik itu bukan hanya sekadar teman yang selalu ada di apapun kondisi kita. Teman baik yang aku temui selama di sini adalah mereka yang mampu membuat aku yakin kalo aku bisa, orang-orang yang mampu memunculkan kembali semangat untuk lebih berhasil lagi setelah ini. Walaupun kami semua belum begitu yakin dengan apa yang kami jalani masing-masing saat ini, tapi mereka dengan sudut pandang mereka mampu saling menguatkan rasa percaya diri yang lain.

Agaknya benar apa yang dijabarkan Wisnubroto dalam bukunya tersebut. Tanpa sahabat, kita mungkin sulit untuk menjadi pribadi yang sukses. Aku melihatnya dari dua sisi, yaitu sisi saat kita menuju sukses dan sisi saat kita telah sukses. Ketika kita dalam kondisi merencanakan jalan kita untuk menjadi sukses, masukan dari sahabat sangat bermanfaat. Ketika ada yang mengingatkan kita tentang apa yang kita bisa dan mampu lakukan, mengingatkan kita agar ada di jalur yang sesuai, mengingatkan kita bahwa mereka akan selalu mendukung dan selalu ada untuk membantu kita mewujudkan kisah sukses kita, tidak ada yang lebih berarti dari itu. Sahabat sudah seperti keluarga kedua bagi kita. Ketika kita ada di titik pesimistis terhadap apa yang ingin kita wujudkan, mereka hadir untuk menguatkan kita. Dan ketika semua yang kita upayakan telah berhasil terwujud, sahabat akan turut bergembira untuk kita dan bersama kita. Kita pun sama. Untuk apa semua kesuksesan yang kita capai jika kita merasa ‘sendirian’, jika kita tidak punya orang-orang untuk berbagi kebahagiaan dari kesuksesan itu.

Sebelas Aspek Berpikir Positif

Berpikir positif punya banyak manfaat bagi kesehatan, baik jasmani maupun rohani. Tak hanya itu, berpikir positif mampu memberikan kedamaian dan kebahagiaan bagi kita dalam menjalani kehidupan kita sehari-hari. Ada sebelas aspek berpikir positif yang diuraikan oleh John Dami Mukese yang dikutip dalam buku Menyongsong Nafas Terakhir dengan Senyum milik Prof. Hiro Tugiman (2014), antara lain :

Positive-Thinking

1. Berpikir Lurus

Berpikir lurus berarti dalam mencapai tujuan yang positif, segala rencana dan sarana yang digunakan pun harus positif. Misalkan kita ingin membuat suatu kegiatan sosial, maka dalam perencanaan, baik penggalian dana maupun persiapan sarana yang akan digunakan juga harus bebas dari hal-hal yang negatif. Jangan sampai kita ingin membuat kegiatan dengan maksud yang mulia tapi dilakukan dengan cara yang kurang baik.

2. Berpikir Benar

Berpikir benar berarti bahwa dalam berusaha kita harus memperjuangkan sesuatu yang benar. Kebenaran itu bersifat universal, yang artinya berlaku untuk semua orang. Maka dari itu, dalam bertindak, seseorang harus mempertimbangkan apakah yang dilakukan tersebut telah sesuai dengan kebenaran yang berlaku secara universal. Jangan sampai apa yang kita lakukan justru memberikan dampak negatif bagi sebagian orang, hanya karena kebenaran yang kita yakini tersebut bukanlah kebenaran yang sifatnya universal.

3. Berpikir Adil

Berpikir adil berarti seseorang yang berpikir positif memiliki kemampuan untuk menjaga keseimbangan, mampu berpikir harmonis. Pandai memilah permasalahan dan menempatkannya secara proporsional. Dengan mampu berpikir adil, seseorang tidak akan memiliki niat untuk merugikan salah satu pihak hanya demi menguntungkan pihak yang lainnya. Demi keadilan, seseorang tidak akan memihak dan hanya akan berdiri pada asas kebenaran.

4. Berpikir Jujur

Berpikir jujur berarti apa yang dipikirkan, diucapkan, dan dilakukan harus sesuai. Misalnya, kita melakukan penggalian dana untuk kegiatan sosial, maka dengan berpikir jujur, dana tersebut akan benar-benar kita gunakan untuk kegiatan sosial, bukan untuk kepentingan diri sendiri atau kepentingan lainnya. Kejujuran adalah jaminan kita untuk mendapat kepercayaan, dan kepercayaan adalah modal utama dalam membangun kehidupan.

5. Berpikir Objektif

Objektif berarti menurut apa adanya. Orang yang berpikir objektif adalah orang yang mampu memberi nilai yang tepat pada seseorang atau sesuaru menurut kebenaran nyata yang ada pada orang atau sesuatu itu. Dalam memberikan penilaian, ia tidak terpengaruh oleh pandangan atau perasaannya yang subjektif.

6. Berpikir Optimistis

Berpikir optimistis berarti kemampuan untuk berpikir bahwa apapun yang baik di dunia ini selalu tersedia jalan dan jawabannya. Orang yang berpikir optimistis selalu berpikir tentang kemungkinan-kemungkinan yang bisa terjadi dan yakin pasti ada jalan untuk mencapai apa yang positif yang dicita-citakannya.

7. Berpikir Kreatif

Kreatif berarti kaya cara, banyak akal, dan inovatif. Orang yang mampu berpikir kreatif akan jeli memanfaatkan peluang yang ada, kendati terasa mustahil, untuk mewujudkan apa yang menjadi tujuannya. Dengan memiliki kemampuan untuk berpikir kreatif, seseorang tidak akan takut dalam menghadapi risiko yang mungkin muncul dalam prosesnya mencapai tujuan. Kreativitas dianggap sebagai aset paling positif dalam diri manusia yang menjadikan seseorang kaya makna atau kaya arti.

8. Berpikir Terbuka

Orang yang mampu berpikir terbuka adalah orang yang memiliki wawasan yang luas. Ia mampu mengakomodasi berbagai pendapat, pandangan, maupun ideologi, menampungnya, dan berupaya memperkaya pengetahuan maupun hidupnya dan hidup sesamanya. Orang yang berpikir terbuka adalah orang yang mampu melihat perbedaan-perbedaan sebagai realitas yang melekat erat dengan keberadaan manusia.

9. Berpikir Sederhana

Sederhana di sini berarti apa yang dipikirkan mampu dicerna  dan dipahami dengan mudah oleh orang lain. Orang yang berpikir sederhana adalah orang yang mampu melahirkan ide-ide yang dipahami oleh orang lain dan mengomunikasikannya secara gamblang.

10. Berpikir Membangun

Orang yang mampu berpikir membangun adaah orang yang memiliki kecenderungan untuk melihat lebih banyak hal yang baik atau positif dalam diri seseorang atau sesuatu, untuk diangkat dan dimanfaatkan guna membangun atau menyempurnaan orang atau hal yang bersangkutan.

11. Berpikir dengan Landasan Iman

Berpikir dengan landasan iman merupakan satu kekuatan religius yang perlu dimiliki oleh orang yang mengaku dirinya beriman kepada Tuhan Yang Maha Esa. Berpikir dengan landasan iman berarti senantiasa menyelaraskan cara berpikirnya dengan jalan yang diizinkan oleh Tuhan.

 

Referensi :

Tugiman, H. (2014). Menyongsong Nafas Terakhir dengan Senyum. Yogyakarta : Kanisius