We Always Have Our Own Sky

Orang bijak berkata bahwa melihat ke atas memberimu motivasi dan melihat ke bawah membawamu untuk mengucap syukur. Hidup agaknya seringkali menyerupai perlombaan saat ini. Setiap orang saling mendahului untuk berkata “aku sudah punya …..” atau “aku sudah meraih …….” , sah-sah saja. Setiap orang punya tujuannya masing-masing dan menjadi sebuah kebanggaan ketika sampai di titik tersebut. Tapi hidup tak selamanya hanya tentang ‘aku’, tentang ‘kita’. Hidup masih punya tokoh lain yang dinamakan ‘mereka’.

Pernah merasa ada tapi seperti tak ada? Pernah melihat “mereka” dielu-elukan sedangkan ‘kita’ dilirikpun tidak? Pernah merasa bahwa “mereka” seperti jauh lebih bernilai dibanding “kita”? Atau pernahkah merasa bahwa pencapaian “mereka” jauh lebih menarik dibandingkan pencapaian “kita” sendiri? Sebagian orang akan merasa termotivasi ketika ia melihat ke atas, sebagian yang lain justru merasa rendah diri. Apa yang salah?

Atau case lain, pernah merasa bahwa ada ‘mereka’ yang tidak seberuntung kita? Kita bisa makan paling tidak dua kali sehari, bisa tidur di kamar yang nyaman, tercukupi kebutuhan air bersihnya, terpenuhi kebutuhan sehari-harinya lewat pekerjaan yang didambakan banyak orang, pernahkah membayangkan menjadi ‘mereka’? Pernahkah merasa bahwa ada begitu banyak ‘mereka’ yang tidak seberuntung kita memiliki keluarga yang menyayangi tanpa syarat atau teman yang mendukung tanpa perlu banyak hitung? Sebagian orang akan merasa bersyukur, sebagian yang lain cenderung tak peduli. Apa yang salah?

Komparasi antara satu variabel dengan variabel lain memang seringkali menjadi hal termudah untuk dilakukan ketika pertanyaannya “mana yang lebih ….. ?” Ketika variabel ‘aku’ atau ‘kita’ posisinya lebih baik dibanding variabel ‘mereka’, seringkali kita merasa begitu bangga bahwa kita lebih. Atau sebaliknya, ketika variabel ‘aku’ atau ‘kita’ posisinya tidak sebaik ‘mereka’, seringkali kita merasa begitu terpuruk, seolah dunia akan berakhir segera, seolah kita kalah dan tak ada nilainya. Bagi sebagian orang, mungkin.

Dan selayaknya perhitungan aljabar matematis, variabel yang berbeda tidak bisa dikomparasi secara langsung. 3X tidak bisa dikatakan lebih besar dari 2Y , ketika X dan Y belum ditemukan nilainya. Jika X adalah variabel ‘aku’ atau ‘kita’ , dan Y adalah ‘mereka’ , masihkah berusaha untuk membandingkan keduanya di case-case nyata yang dihadapi ? Masihkah komparasi itu adil bagi diri kita masing-masing?

When someone tell you how they really want to be “you”, be grateful that you’re already good enough, at least for some people. But when they tell you “what a messed life that you have”, be grateful too because you’ve learned that there is always another sky above the sky. And we always have our own sky.

“Memories Need to be Shared”, They Said

Sore di Sabtu itu, Di datang menjemputku dan kami berkeliling sejenak. Seperti biasa, kami sulit menentukan akan kemana, dan akhirnya berujung pada makan es krim di sebuah kedai yang terkenal dengan es krim tradisionalnya di bilangan Monas. Sempet ketawa liat ibu penjualnya yang galak, kami akhirnya duduk lesehan di depan sebuah toko karena kedai itu tak cukup menampung semua pengunjung. Di mulai bercerita tentang kuliah Magisternya yang dimulai di awal minggu itu. Tentang kesulitannya mengatur waktu di sela-sela kesibukannya di kantor, hingga kekhawatirannya tentang perjalanan kuliahnya. Seandainya di sana ada Dal, ceritanya mungkin bisa lebih seru. Terutama di part Di cerita tentang teman-teman sekelasnya hha.

Tak terasa es krim itu cepat sekali habis dan kami beranjak ke second place. Kali ini kedai kopi di dekat kosanku di daerah Kebon Sirih (kemudian aku mikir niat juga ini anak jauh-jauh dari Depok ke sini buat ngobrol doang). Di sana kami banyak diskusi tentang metode studi kasus yang jadi santapan wajib kuliah S2. Mulai dari caranya sampai istilah-istilah yang bikin aku sedikit nostalgia tahun 2014 ketika aku ada di posisi yang sama dengan di saat ini. Masa-masa kuliah yang menyiksa tapi aku bersyukur bisa melewatinya. Tak lama setelah perbincangan serius itu berakhir, Di mulai bertanya tentang blog ku ini. Tentang materi-materi yang kutulis dan cerita yang kuposting. Di kemudian berkata bahwa Dal juga menulis hal yang sama dengan apa yang kutulis setelah pertemuan bersama kami di Bandung akhir bulan Agustus lalu. Akupun teringat bahwa mereka punya blog yang dibuat sekitar dua tahun lalu. Sepulang dari pertemuan dengan Di, aku pun browsing tentang blog mereka itu.

Postingan pertama mereka menjadi menarik untuk kubaca. Dengan judul “Memories Need to be Shared”, tulisan itu bercerita tentang pengalaman mereka setelah menonton sebuah film. Yang menarik adalah cara mereka menginterpretasikan esensi dari film tersebut, yang membuatku juga berpikir hal itu masuk akal. Bahwa dunia akan jauh lebih indah dengan adanya berbagai memori yang berasal dari pengalaman buruk dan baik.

Hari-hari kita penuh dengan serangkaian kejadian, entah yang terjadi pada kita, karena kita, pada orang lain, maupun karena orang lain. Serangkaian kejadian itu kemudian menjadi pengalaman, yang oleh sebagian orang dianggap menyenangkan dan sebagian yang lain menganggapnya menyakitkan. Bagiku, pengalaman menyenangkan akan menjadi cerita yang dapat dengan mudah untuk disampaikan, dan pengalaman menyakitkan akan menjadi cerita yang aku simpan. Yang aku simpan sampai aku memahami bahwa pengalaman itulah yang suatu hari nanti menjadikan aku lebih baik dan pada saat yang tepat akan jadi cerita yang sama menyenangkannya.

Pada tulisan Di dan Dal itu, aku menemukan sebuah kutipan sederhana tapi bermakna : “the worst part of holding the memories is not the pain. It’s the loneliness of it”. Aku membenarkan kata-kata itu. Semua yang terjadi, baik atau buruk, benar atau salah, menyenangkan atau tidak, semuanya layak untuk disampaikan kembali. Entah untuk dicontoh atau mencegah orang lain melakukan hal yang sama. Dan bagiku, setiap orang punya perspektif sendiri tentang bagaimana memaknai sebuah cerita, sebuah memori. Dan ketika itu semua tertulis, mendiskusikannya kembali akan memberikan tambahan perspektif baru, yang memperkaya cerita itu sehingga menyenangkan bagi setiap yang membaca.

Get to Know US

mudamudiberbagi

Anak muda menghabiskan waktu dengan berkumpul bersama teman, jalan-jalan, atau nonton, mungkin sudah biasa. Tetapi anak muda yang berusaha untuk menjadi solusi dari masalah yang ada di sekitar – seperti yang memang sudah seharusnya demikian – adalah yang dibutuhkan bangsa Indonesia saat ini. Hingga saat ini, telah banyak bermunculan gerakan maupun komunitas sosial yang diinisiasi dan dijalankan oleh anak muda, baik yang berfokus pada bidang pendidikan, mengentaskan masalah kelaparan, maupun yang mengarah pada pemberdayaan masyarakat. Di antara sekian banyak komunitas tersebut, Muda Mudi Berbagi (MMB) mencoba menempatkan diri sebagai salah satu komunitas yang berupaya mengatasi permasalahan, khususnya yang terkait dengan anak-anak.

Logo Muda Mudi BerbagiLogo Muda Mudi Berbagi

MMB terbentuk pada bulan Juli 2013, dengan slogan “Yang Muda, Yang Berbagi”. MMB memiliki visi “Menumbuhkan empati pada anak muda melalui kegiatan berbagi dalam rangka mengentaskan permasalahan sosial pada anak”. Dalam mencapai visi tersebut, MMB memiliki misi sebagai berikut :
1. Menyelenggarakan kegiatan berlandaskan faktor…

View original post 62 more words

Lima Rintangan Sikap — Masalah

Dalam bukunya yang berjudul “Difference Maker”, John C. Maxwell menyebutkan ada lima rintangan sikap yang dihadapi manusia, yaitu patah semangat, perubahan, masalah, rasa takut, dan kegagalan. Masalah sebenarnya dari manusia adalah terkadang manusia salah mendefinisikan masalah mereka dan menganggap bahwa masalah adalah pertanda akhir dari segalanya. Sebagian pendapat tersebut bisa jadi benar, tapi membenarkan seluruhnya menunjukkan bahwa kita tidak memiliki keinginan untuk belajar. Maxwell memberikan cara unik untuk mendefinisikan apa itu masalah :

P (redictors)    : membantu kita untuk memprediksi dan  membentuk masa depan

R (eminder)     : sebagai pengingat bahwa kita tidak bisa sukses sendirian

O (pportunities): kesempatan untuk memperoleh yang lebih baik

B (lessings)     : membuka jalan lain yang lebih baik dari yang pernah kita bayangkan

L (essons)        : memberikan pelajaran untuk menghadapi tantangan baru lainnya

E (verywhere) : menyadarkan kita bahwa tidak ada satupun yang luput dari kesulitan

M (essages)     : sebagai pesan penanda dari sebuah kesulitan yang lebih besar

S (olvable)       : mengingatkan kita bahwa selalu ada solusi untuk setiap permasalahan

 prob

Ada sebuah ilustrasi unik yang terdapat dalam bagian Masalah pada buku tersebut. Seorang ayah sedang mencoba menjelaskan cara memandang sebuah masalah untuk anak perempuannya yang bertanya tentang hal tersebut. Alih-alih memberikan wejangan berjam-jam atau kata-kata motivasi yang menyejukkan, sang ayah malah pergi ke dapur dan ingin sang anak mengamati yang ia lakukan. Sang ayah memanaskan wadah berisi air dan menunggu air tersebut mendidih. Setelah air telah cukup mendidih, sang ayah mengambil tiga benda, yaitu wortel, telur, dan bubuk kopi, yang kemudian dimasukkan ke masing-masing wadah. Sang ayah berkata “Masalah bisa saja melemahkan yang kuat, menguatkan yang lemah, atau memberikan manfaat baru bagi siapapun yang mengalaminya.”

Air mendidih bisa membuat lunak wortel yang keras, sama seperti masalah yang kerap membuat nyali dan keyakinan kita yang awalnya teguh menjadi ciut. Air mendidih juga mampu membuat telur yang awalnya rapuh ketika jatuh, menjadi lebih keras dan tetap tidak berubah bentuk setelah jatuh, sama seperti masalah yang terkadang membuat kita mampu lebih tegar, lebih yakin setelah pembelajaran yang kita dapat dari kesulitan tersebut. Dan di sisi lainnya, bubuk kopi yang diberikan air mendidih dapat menjadi sebuah minuman yang dapat kita nikmati, sama seperti masalah yang terkadang mampu memberikan manfaat yang positif di balik sisi gelapnya.

Cara kita memandang masalah terkadang menjadi masalah sebenarnya. Berhenti membanding-bandingkan masalah kita dengan masalah orang lain akan cukup membantu kita untuk tidak terus meratapi kesulitan yang kita alami. Sebagian dari kita juga kerap membesar-besarkan masalah yang kita hadapi, seolah dunia akan berakhir di penghujung masalah tersebut. Dengan meresapi definisi masalah yang coba diungkapkan oleh Maxwell, setidaknya kita bisa menyadari bahwa dalam setiap hal yang kita anggap negatif, selalu ada pembelajaran untuk membawa kita ke sisi positif yang terkadang tidak pernah kita duga sebelumnya. Kita hanya perlu memahaminya.