Things I Will Always Thanks For Them

1418950601541

  1. Thanks for accepting my introvert side
  2. Thanks for make me feel so special
  3. Thanks for always lift me higher, even when I drown myself down.
  4. Thanks for always appreciate my blog posts
  5. Thanks for all those memories for these 4 years
  6. Thanks for always count on me
  7. Thanks for seen my flaws and told me, while others usually hide it
  8. Thanks for remember what kind of song I want to sing when we go out for karaoke
  9. Thanks for choose not-contain-meat-menu when we chill in restaurant
  10. Thanks for remember my birthday; it must be hard for extrovert like you all 😀
  11. Thanks for always believe that I can, and I start to believe myself too
  12. Thanks for always say “have a safe flight” when I come back home
  13. Thanks for realize and understand when I need to be alone
  14. Thanks for all those #pagiinspirasi which inspire me to write something
  15. Thanks for always make sure that I reach my boarding house when we hang out till midnite
  16. Thanks for not asking me to be like other people but myself
  17. Thanks for all those “congratulations” when I’m on top and “keep your chin up” when I’m down
  18. Thanks for stay when others leave with some reasons
  19. Thanks for all those deep conversations; it’s fed my soul for sure
  20. Thanks for those jokes-I-might-never-heard-from-other-friends
  21. Thanks for food we shared, time we spent, and song we sang together
  22. Thanks for everything we listed in ours, hope we can make it all come true someday
  23. Thanks for show me your up and down; it made me learn that life always be like that
  24. Thanks for everytime you tried to cheer me up without say good thing about me haha at least you’re not tell a lie
  25. Thanks for caricature you gifted on my Master graduation, even though my parents ask me who the hell is that girl wkwkwk
  26. Thanks for coming into my life; it will never be the same ‘me’ again
  27. Thanks for always motivate me, especially for my first job
  28. Thanks for make me feel like extrovert for a while
  29. Thanks for share your dream, it make me brave to tell mine too
  30. Thanks for hard and good times we’ve been through; they’ll create our story for years
  31. Thanks for hundreds experiences about many things, even the unbelievable ones
  32. Thanks for several escape journeys, and I’ll wait for the next trip
  33. Thanks for time when we’re apart; it realize me that you guys are meaningful for me
  34. Thanks for our togetherness and I hope it will last forever

“Memories Need to be Shared”, They Said

Sore di Sabtu itu, Di datang menjemputku dan kami berkeliling sejenak. Seperti biasa, kami sulit menentukan akan kemana, dan akhirnya berujung pada makan es krim di sebuah kedai yang terkenal dengan es krim tradisionalnya di bilangan Monas. Sempet ketawa liat ibu penjualnya yang galak, kami akhirnya duduk lesehan di depan sebuah toko karena kedai itu tak cukup menampung semua pengunjung. Di mulai bercerita tentang kuliah Magisternya yang dimulai di awal minggu itu. Tentang kesulitannya mengatur waktu di sela-sela kesibukannya di kantor, hingga kekhawatirannya tentang perjalanan kuliahnya. Seandainya di sana ada Dal, ceritanya mungkin bisa lebih seru. Terutama di part Di cerita tentang teman-teman sekelasnya hha.

Tak terasa es krim itu cepat sekali habis dan kami beranjak ke second place. Kali ini kedai kopi di dekat kosanku di daerah Kebon Sirih (kemudian aku mikir niat juga ini anak jauh-jauh dari Depok ke sini buat ngobrol doang). Di sana kami banyak diskusi tentang metode studi kasus yang jadi santapan wajib kuliah S2. Mulai dari caranya sampai istilah-istilah yang bikin aku sedikit nostalgia tahun 2014 ketika aku ada di posisi yang sama dengan di saat ini. Masa-masa kuliah yang menyiksa tapi aku bersyukur bisa melewatinya. Tak lama setelah perbincangan serius itu berakhir, Di mulai bertanya tentang blog ku ini. Tentang materi-materi yang kutulis dan cerita yang kuposting. Di kemudian berkata bahwa Dal juga menulis hal yang sama dengan apa yang kutulis setelah pertemuan bersama kami di Bandung akhir bulan Agustus lalu. Akupun teringat bahwa mereka punya blog yang dibuat sekitar dua tahun lalu. Sepulang dari pertemuan dengan Di, aku pun browsing tentang blog mereka itu.

Postingan pertama mereka menjadi menarik untuk kubaca. Dengan judul “Memories Need to be Shared”, tulisan itu bercerita tentang pengalaman mereka setelah menonton sebuah film. Yang menarik adalah cara mereka menginterpretasikan esensi dari film tersebut, yang membuatku juga berpikir hal itu masuk akal. Bahwa dunia akan jauh lebih indah dengan adanya berbagai memori yang berasal dari pengalaman buruk dan baik.

Hari-hari kita penuh dengan serangkaian kejadian, entah yang terjadi pada kita, karena kita, pada orang lain, maupun karena orang lain. Serangkaian kejadian itu kemudian menjadi pengalaman, yang oleh sebagian orang dianggap menyenangkan dan sebagian yang lain menganggapnya menyakitkan. Bagiku, pengalaman menyenangkan akan menjadi cerita yang dapat dengan mudah untuk disampaikan, dan pengalaman menyakitkan akan menjadi cerita yang aku simpan. Yang aku simpan sampai aku memahami bahwa pengalaman itulah yang suatu hari nanti menjadikan aku lebih baik dan pada saat yang tepat akan jadi cerita yang sama menyenangkannya.

Pada tulisan Di dan Dal itu, aku menemukan sebuah kutipan sederhana tapi bermakna : “the worst part of holding the memories is not the pain. It’s the loneliness of it”. Aku membenarkan kata-kata itu. Semua yang terjadi, baik atau buruk, benar atau salah, menyenangkan atau tidak, semuanya layak untuk disampaikan kembali. Entah untuk dicontoh atau mencegah orang lain melakukan hal yang sama. Dan bagiku, setiap orang punya perspektif sendiri tentang bagaimana memaknai sebuah cerita, sebuah memori. Dan ketika itu semua tertulis, mendiskusikannya kembali akan memberikan tambahan perspektif baru, yang memperkaya cerita itu sehingga menyenangkan bagi setiap yang membaca.

Four Years and Still Counting

“Friends are an indispensable part of a meaningful life. They are the ones who share our burdens and multiply our blessings. A true friend sticks by us in our joys and sorrows. In good times and bad, we need friends who will pray for us, listen to us, and lend a comforting hand and an understanding ear when needed”

Berbicara tentang perjalanan kami selama empat tahun ini, up and down pasti ada. Lebih-lebih karena sebenarnya circle ini berawal dari sebelas orang ketika kami membentuk MMB. Parasenior, begitu kami menyebut pertemanan kami ketika itu. Seiring berjalannya waktu, satu per satu dari mereka pamit dari Bandung untuk meniti karir yang telah mereka pilih. Manusiawi memang dan dulu kami berjanji untuk tetap menjaga komunikasi, paling tidak untuk tetap sama-sama membesarkan MMB. Jarak kemudian menjadi barrier kami dan tak lama setelahnya, tak lagi terdengar jokes dan celotehan mereka. Tersisalah kami berenam di Bandung dan dimulailah perjalanan circle ini.

Berawal dari sebelas, berkurang menjadi enam. Gak lama kemudian, Di dan Dal pamit ke Jakarta karena kerja di sana. Jadilah aku, Gos, Ul, dan Bim tersisa berempat. Saat itu kami disibukkan dengan persiapan project Toys for Kids yang akhirnya bisa terealisasi di akhir tahun 2014. Seringkali ketika kumpul berempat, kami saling mempertanyakan gimana kabar temen-temen yang lain. Semacam kangen yang gengsi kami ucapin haha.

Di masa-masa menghilangnya Di dan Dal (yang alasan pastinya baru ku ketahui beberapa bulan terakhir ini), kegiatanku, Gos, Ul, dan Bim gak jauh-jauh dari sosialisasi & ambil mainan ke sekolah-sekolah, survei desa, atau CFDan. Dan di masa-masa itu pula bisa dibilang kami lagi kesulitan keuangan. Aku belum kerja, Gos belum terima rapelan gajinya, Ul dan Bim hemat-hemat juga banyak keperluan. Dulu kami saling bayarin dulu kalo lagi pas ga ada duit. Inget banget slogan Bersatu Kita Teguh jadi tagline selama masa sulit itu haha. Pesen minum yang paling murah, teh tawar atau air putih yang gratis. Suka ketawa kalo inget-inget waktu itu.

Di masa itu pula, banyak hal coba kami bangun untuk mewujudkan satu demi satu mimpi bersama yang kami pegang. Salah satunya berbisnis. Yah, walaupun pada akhirnya ide tersebut tak berjalan lama dan sebatas trial, setidaknya saat-saat trial snack rice krispies itu banyak meninggalkan memori bagi kami, bagiku. Mulai dari survei harga bahan bareng Ul, berburu marshmallow kemana-mana, sampe berkali-kali nyoba resep yang pas untuk rice krispies kami di rumah Gos. Eksperimen yang pada akhirnya kami nikmati sendiri haha.

Masa-masa berempat itu kemudian berakhir ketika bulan Februari aku dinyatakan lulus seleksi penerimaan karyawan di sebuah BUMN Telekomunikasi. Kalo ditanya rasanya, campur aduk. Satu sisi seneng penantian panjang itu berakhir sesuai harapan. Di sisi lain, aku memikirkan bagaimana MMB nantinya, ketika kami baru akan mulai serius lagi. Pengumuman itu keluar di saat kegiatan TFK di Desa Girimukti akan dilangsungkan. Aku inget banget, di antara mereka berlima, orang yang pertama kali aku beritau adalah Ul. Responnya kala itu sudah bisa aku tebak : “Yahhh Maarr, trus MMB gimana?”

Sejak hari itu, setiap kali kami kumpul, rasanya seperti kami ga akan ketemu lagi. Sebisa mungkin disempetin kumpul. Walau hanya makan malem bareng, walau hanya sejam-dua jam. Bahkan ketika H-1 aku berangkat pelatihan, kami berempat menghadiri anniversary organisasi riset kami. Setiap ada kesempatan untuk mengabadikan momen, maka setiap saat itu pula kami meminta siapapun yang lewat untuk mengambil foto kami. Seolah itu saat-saat terakhir kami bisa bareng. Wajar, bahkan akupun gatau apakah kami bisa seperti itu lagi ketika hari itu berakhir. Aku ga pernah tau apakah kami bisa kumpul sesering saat itu ketika aku sudah mulai kerja. Bahkan aku kerja di kota mana pun aku juga ga bisa mastiin. Sedih banget rasanya ketika pulang dari acara itu. Ketika Ul, Gos, dan Bim ngucapin sampe ketemu lagi. Maklum, sebulan pelatihan aku gak bisa berkomunikasi karena memang tidak diperkenankan.

Yang lebih mengejutkanku adalah apa yang aku dapet setelah pelatihanku berakhir. Ketika aku memperoleh kembali smartphone ku dan mendapati ratusan pesan masuk sekaligus. Yang menarik perhatianku pastinya Whatsapp group dimana ada aku, Gos, Ul, dan Bim. Grup yang dulu kami buat khusus untuk membahas rice krispies kami haha. Mereka menuliskan banyak pesan dengan tagar #HariKexxTanpaMar . Bacanya antara pengen ketawa dan terharu juga karena bisa-bisanya mereka so sweet kayak gitu haha. Tapi aku lega, seenggaknya aku tau mau dimana pun aku, se-gimana-gak-bisa-dihubunginya-aku, mereka tetep inget. Yah, walau bertahan delapan hari doang itu pesan-pesannya haha.

Seiring berjalannya waktu dan kepastian dimana aku menjalani pekerjaan di ibukota yang notabene dekat dengan Di dan Dal, semuanya berangsur membaik. Di berbagai kesempatan, aku berhasil ‘membujuk’ mereka untuk sesekali nengokin Ul, Gos, dan Bim di Bandung. Agak canggung memang awalnya waktu kami kumpul berenam lagi, tapi it’s okay lah, toh kami udah kenal deket hampir empat tahun. Termasuk part dimana tiap kami dateng ke Bandung selalu ditampung di rumah Gos, dicurhatin sama ibunya plus selalu disiapin makan yang bikin kami antara sungkan tapi enak jugak lah mayan #eh.

Susah seneng bareng selama empat tahun ini yang jadi cerita unik yang bikin ketawa setiap kali ngumpul. Kadang kalo lagi gak ada kegiatan saat weekend, kalo lagi gak memungkinkan ngumpul bareng mereka, pasti ada rasa kesepian yang mampir. Masalahku mungkin ga selesai kalo ketemu mereka, tapi ada semangat baru yang selalu dateng tiap abis ngumpul bareng. Uniknya, cara mereka bikin aku semangat tuh gak kayak kebanyakan orang lakuin. Mereka hanya menunjukkan kalo mereka yakin aku bisa, dan itu cukup bikin aku yakin kalo aku bisa. Entah gimana mereka ngelakuin itu, tapi itu selalu berhasil.

This Too Shall Pass

Minggu pagi pukul 10:00 , ketika aku terbangun kedua kalinya (yang pertama hanya untuk mematikan alarm yang entah kenapa berbunyi saat weekend begini huft), sudah ada puluhan chat Line yang masuk di smartphoneku. “Oh, ga ada japrian” pikirku. Tapi pandangan mataku kemudian tertuju pada salah satu chat room tertulis tagar #pagiinspirasi (yang sudah kuduga pasti Gos yang kirim). Kali ini medianya Youtube, gak seperti postingan sebelumnya yang berupa gambar atau tautan artikel. Kali ini dengan video. Karena penasaran, aku berselancar menuju source video tersebut, dengan tetap berlindung di balik selimutku haha mager.

Ada dua tautan video yang Gos berikan untuk kami, dan aku lebih tertarik pada yang kedua. Ketika tautan tersebut aku klik, muncul video yang diberi judul “I Was Depressed for a Long Time”. Menarik nih, kataku dalam hati. Video berdurasi 3 menit ini sebagian besar mengulas tentang mengapa orang-orang merasa depresi, sedih, dan terpuruk untuk waktu lama disaat sebenarnya tidak ada hal yang akan terus sama setiap kali terjadi.  Never think bad times will last forever. This too shall pass, begitu yang diucapkan berulang kali oleh Prince EA, yang menjadi pemateri (entah apa sebutan yang pas) pada video tersebut. Sederhana, tapi kalau mau merenung sejenak, pasti kita akan sepakat dengan kalimat tersebut untuk beberapa kondisi yang telah kita alami.

Kata-kata dalam video tersebut membuatku teringat pada masa-masa sebelum pekerjaanku sekarang. Tepatnya ketika aku menjalani kuliah Master-ku dua tahun lalu. Pada salah satu mata kuliah yang terkenal dosennya suka out of the box cenderung sulit ditebak, aku pernah berpikir untuk udahan aja kuliahnya. Maklum, dengan jadwal kuliah 8 pagi – 5 sore ala orang kantoran bikin pusing – yang sampai sekarang aku ga paham gimana aku bisa lewatin itu semua haha – sangat sedikit waktu santai yang aku punya, khususnya Senin – Jumat. Pun punya waktu Sabtu dan Minggu, rasanya udah lelah mau ngapain juga. Aku ingat mata kuliah itu ada di triwulan kedua, dan historis menyebutkan bahwa di kelas sebelumnya terjadi fenomena banyak mahasiswa yang gak lulus. Ini yang bikin tambah hufftt lagi. Gak lulus di salah satu mata kuliah sepanjang ambil program ini sama aja ngulang setahun. Bahkan beberapa kali setelah kelas si Bapak, aku nangis saking ga kuatnya hahaha ampun dah. Kata-kata yang makna nya serupa dengan “This too shall pass” kala itu aku dapat dari grup chat Rempongers, grup chatku dengan empat orang adik kesayanganku. Dan yah, antara pasrah dan gatau harus apa selain jalanin, kuliah itu kemudian berlalu dengan nilai yang gak mengecewakan. Entah bagaimana, itu menjadi pembuktian “this too shall pass” pertama yang bener-bener kurasain.

This too shall pass kedua yang kurasain adalah ketika masa pengangguran setelah lulus S2. Berat banget rasanya punya titel Master tapi belum punya kerjaan. Antara malu, pengen segera balik modal biaya kuliah, pengen ngerasain punya penghasilan sendiri, dan pastinya pengen berkarya dengan segala bekal yang didapet selama kuliah, semuanya campur aduk dan bikin tambah pusing. Belum lagi tinggal di Bandung dengan biaya bulanan dari orang tua di rumah, beban banget rasanya. Pernah berpikir akan pulang aja, tapi terlalu takut untuk ninggalin semua mimpi yang aku tau akan lebih sulit aku perjuangkan ketika aku memutuskan untuk pulang. Dengan usaha di tiap tahap tes seleksi dan kesabaran selama gak kurang dari setengah tahun, akhirnya kerjaan pertama itu aku peroleh. Sekali lagi, this too shall pass benar-benar aku buktikan.

Pekerjaan yang sekarang aku rasakan menjadi tantangan paling berat. Yang bikin aku mikir apa yang kualami saat kuliah dulu belum ada apa-apanya dibandingkan dengan yang ini. Sebagai introvert yang lebih menyukai ketenangan, tidak nyaman dengan terjadinya dinamika, mudah lelah jika harus berhadapan dengan banyak orang, pekerjaan di bidang Marketing ini menjadi tantangan tersendiri. Belum lagi target yang mungkin agak kurang rasional. Setiap hari rasanya pengen banget langsung weekend. Entah mungkin karena terbiasa cepat menemukan pola untuk solving problem di kondisi yang dihadapi sebelum-sebelumnya, kemudian sekarang menghadapi kondisi yang begitu unpredictable, aku sempat merasa bahwa aku gak bisa di bidang ini. Di akhir triwulan kedua sejak aku ada di pekerjaan yang sekarang, aku seringkali berkeluh kesah tentang pekerjaan. Bahkan tiap kali ketemu Di, Dal, dan Bim di Jakarta atau Gos dan Ul di Bandung, mereka kerap memintaku untuk menceritakan bagaimana perkembangan di kantor. Jika pada dua kali masa sulitku berhasil membuktikan “This too shall pass”, maka aku percaya untuk kondisi sekarang pun akan ada saatnya aku berkata demikian juga.

Tapi terlepas dari kejadian-kejadian itu, This Too Shall Pass yang ga ingin aku percayai adalah ketika (nantinya) itu terjadi pada circle kami berenam. Kami pernah mengalami bagaimana terpisah, dari awalnya sebelas, kemudian enam, sempat menjadi empat, hingga kembali berenam. Sebelas ketika kami membentuk Muda Mudi Berbagi, enam ketika kami memulai circle ini, empat ketika Di dan Dal mulai berkarir di Jakarta, hingga kini berenam lagi setelah kami sama-sama menyadari circle ini terlalu spesial untuk ditinggalkan.

Atau justru this too shall pass itu sebenarnya merupakan jawaban dari masa-masa ketika kami berkurang jadi empat? Ketika dulu sering kumpul bareng Gos, Ul, dan Bim, dan di berbagai kesempatan kami sering bertanya-tanya kenapa Di dan Dal jarang main ke Bandung atau kapan mereka bisa ikut kumpul lagi kayak yang sebelumnya. Dan berawal dari pindahnya aku ke Jakarta, aku paham kenapa Di dan Dal ga bisa sering-sering nengokin kami di Bandung ketika itu. Yah, semua orang punya masa-masa sulitnya masing-masing. Yang terpenting adalah gimana melewatinya. Dan ketika itu terlewati, setidaknya kami bisa jalan berenam lagi sekarang.

Tidak ada hal yang bisa berlangsung selamanya. Bahkan hidup kita pun ga bisa selamanya. Begitu juga dengan masa sulit. Tidak ada masa sulit yang tidak berakhir. This too, shall pass .

 

Life Changes, We Change, and That’s Okay

Suatu malam di penghujung pekan, sebuah notifikasi grup Line masuk ke ponselku. Gos (seperti biasa) mengirim sebuah tautan kepada kami. Tautan yang samar-samar dapat aku pastikan berisi untaian quotes seperti yang sering ia kirim. Dalam tautan tersebut tertulis 50 Sentences Will Convince Change Life. C-H-A-N-G-E.

Beberapa menit setelah kiriman tautan itu, Gos kembali muncul di grup, menanyakan apakah kami sudah membaca artikel yang ia kirim. Sepi memang grup kala itu karena menunjukkan pukul 22:50 WIB. Aku menjawab bahwa aku hanya sekilas membaca artikel tersebut, karena ‘change’ bukanlah topik yang aku sukai. Gos meyakinkanku bahwa itulah mengapa aku memerlukan artikel itu untuk dibaca. Pemaksaan halus rupanya haha.

Tautan itu memuat artikel tentang 50 kalimat yang mencoba meyakinkan pembaca bahwa perubahan itu perlu. Satu persatu poin aku baca, dan rasanya ada sejumlah resistensi dalam diri sepanjang kucermati artikel itu. Perubahan bagiku memang hal yang cukup ‘mengerikan’. Seringkali perubahan tidak bersahabat dengan kenyamanan yang selama ini aku rasakan. Dalam banyak hal.

Contoh sederhananya mulai dari teman yang mulai berubah sikapnya, keadaan yang mulai berubah dari sebelumnya, perjalanan yang berubah arahnya, dan perubahan-perubahan lain yang seringnya datang tanpa pertanda. Tak jarang perubahan itu menimbulkan konflik dalam diri. Tak nyaman rasanya. Dan seringkali sama seperti itu.

Tapi apa yang kurasakan beberapa bulan terakhir membuatku memaksa diri untuk merenung sesaat. Ketika si introvert ini mulai menghadapi dilema pekerjaan yang menurutnya bukan yang selama ini ia bayangkan. Ketika pekerjaanku saat ini mulai membuatku berpikir sejenak tentang ‘sesuaikah ini untukku?’ Duniaku tak pernah sama sejak itu. Duniaku berubah. Sedangkan aku? Pada awalnya aku belum bisa terima. Sampai akhirnya Dhe – salah satu adik kesayanganku – menenangkan segala keluhanku dengan berkata bahwa pekerjaanku saat ini boleh jadi sangat diharapkan oleh banyak orang di luar sana dan betapa orangtuaku pasti bangga pada pencapaianku saat ini. Kata-kata Dhe saat itu membuatku tersadar betapa kurang bersyukurnya aku selama ini. Sejak itu aku berkomitmen untuk mulai belajar ‘menerima dan menjalani’ apa yang telah Tuhan siapkan untukku saat ini.

Pada poin ke 36 artikel yang Gos kirim tertulis “Your greatest enemy is your endless list of rules and expectations for how life is supposed to be lived”. Bahkan hanya membaca kalimat ini pun, resistensi dalam diriku kembali muncul. Perubahan bagiku memang sulit, menakutkan, dan (seringnya) sebisa mungkin kuhindari. Perubahan bagiku mengubah tatanan sistematis yang selama ini aku bangun, entah itu tentang prinsip diri, cara melakukan sesuatu, cara pandang, maupun sikap. Tapi membaca artikel tersebut hingga poin terakhir membuatku berpikir ulang tentang makna perubahan dan bagaimana menyikapinya.

Aturan seyogyanya dibuat untuk memastikan segala sesuatu berjalan sebagaimana mestinya, dan harapan tercipta berdasarkan kondisi ideal yang kita pikir kita miliki. Ketika keadaan sekitar mulai berubah, aturan lama seringkali menjadi tidak relevan. Dalam kondisi tersebut, perubahan eksternal menjadi uncontrolable variable, sedangkan aturan yang dibuat menjadi controllable variablenya. Demikian pula dengan ekspektasi atau harapan, yang sebaiknya disesuaikan dengan kondisi pasca terjadinya perubahan. ‘Disesuaikan’ mungkin bahasa yang lebih halus versiku, ketimbang menyebut ‘diubah’. Tapi apapun bahasanya, bergeser dari kondisi existing ke kondisi yang diinginkan (atau kondisi yang diharuskan? ) akan selalu membutuhkan keberanian, sekecil apapun itu.

Viktor Frankl, yang telah mengalami begitu banyak kejadian mengerikan dan penderitaan luar biasa di kamp tahanan Nazi, sampai pada kesimpulan bahwa kebebasan terakhir manusia adalah ia bebas memilih bagaimana menyikapi setiap keadaan yang terjadi. Kita selalu punya pilihan tentang bagaimana menjalani apapun di berbagai kondisi yang kita hadapi. Berubah, beradaptasi, atau menyesuaikan diri, atau apapun istilah lainnya, merupakan satu pilihan yang perlu kita ambil ketika kita merasa keadaan di luar sana tak lagi sama dengan keadaan sebelumnya. Life changes, we change, and that’s okay

Mengenal Mereka

Dan setelah Truth or Truth effect kemarin, aku pengen nulis tentang siapa sih Gos, Ul, Di, Dal, dan Bim yang kusebut-sebut di beberapa tulisan sebelumnya. Nama singkat itu adalah panggilan akrab di antara kami, dari nama mereka yaitu Bagus (Gos), Aul (Ul), Adi (Di), Ihdal (Dal), dan Ubim (Bim). Setelah empat tahun mengenal mereka, sedikit yang bisa kusampaikan tentang mereka kutuliskan sebagai berikut :

  1. Gos, si Visioner yang Kurang Fokus
  • Gos adalah teman yang menurutku paling ekstrover di antara lima yang lain di circle ini. Dan selayaknya nature dari personality extro-intro, Gos adalah yang bikin aku cepat lelah dan kehabisan energi kalo banyak interaksi dengannya. Suka berisik gitu kalo lagi di keramaian haha suka banyak ocehnya. Gos adalah presiden kabinet kami saat di kepengurusan dulu. Selayaknya kebanyakan orang berzodiak Leo, Gos punya aura dan sense seorang leader. Kemampuan verbal dan persuasifnya bisa dengan mudah memberikan influence bagi seseorang. Gos yang kami kenal adalah pribadi yang visioner. Sejak kami sering bicara tentang kehidupan, ia selalu bisa menyampaikan mimpinya secara clear. Seolah dia sudah pernah ada di tujuannya itu sehingga ia bisa menjelaskan secara detail tentang apa yang ada di sana termasuk bagaimana akan ke sana. Sebagai seorang visioner dengan banyak hal yang ingin dicapai, Gos termasuk yang kurang fokus terutama saat tahap eksekusi. Sering kami bercandain dengan bilang wishlist nya selalu bertambah tanpa satupun yang terealisasi. Mungkin faktor extrovertnya memainkan peran di sini, yang sudah jadi rahasia umum kalau extrovert biasanya sulit fokus. Satu hal yang aku salut dari Gos adalah keberaniannya untuk menyampaikan semua mimpinya dan optimismenya bahwa semua itu mungkin diraih.
  1. Di, si Banyak Mau yang Selalu Ada
  • Aku kenal Di lebih dekat ketika Di menjadi ketua acara kompetisi eksternal kampus akhir tahun 2012. Di kami kenal sebagai yang sering banget chat mellow dan identik dengan kalimat “asalkan bareng kalian”. Di termasuk yang paling bersemangat ketika kami diskusi tentang kehidupan. Di selalu menyampaikan mimpinya tentang banyak hal, termasuk untuk bisa punya usaha sendiri sambil kerja kantoran dan kuliah S2. Di buku yang pernah aku baca, seseorang akan optimal dalam menyalurkan fokusnya pada paling banyak dua hal saja. Lebih dari itu, kadar fokus akan berkurang dan cenderung membuyarkan fokus yang lain. Kami ingat betul bagaimana Di menyampaikan keinginannya untuk menjadi entrepreneur dan mengelola bisnis sendiri, kami juga ingat keinginannya untuk sekolah lagi. Tapi dengan sama-sama pentingnya kedua hal tersebut, ditambah statusnya sebagai karyawan saat ini, memilih yang prioritas untuk dijalani menjadi hal penting yang harus ia definisikan. Namun terlepas dari itu, Di menjadi sosok yang selalu available, selalu ada untuk kami. Gak heran kalau di grup dia selalu jadi yang bertanya bagaimana kabar kami, sedang sibuk apa saat ini, sedang apa di waktu senggang kami, atau apakah kami sedang ada masalah. Di juga jadi yang selalu rutin ngajak main, ngajak liburan, dan kalo pergi tanpa dia rasanya banyak part yang hilang dari kami.
  1. Ul, si Pelupa yang Lovable
  • Kalo ada yang sering ngeselin di chat karena mikirnya lama, Ul lah yang paling sering jadi sasaran empuk haha. Apalagi kalo lemotnya kumat pas chat sama Bim, habis udah dibully itu sih. Belum lagi kebiasaan lupanya. Daya ingatnya kurang bisa diandalkan, apalagi untuk hal-hal yang sepintas lalu. Di antara kami berlima, Ul adalah yang paling fashionable dalam segala suasana. Ga peduli mau hiking atau camping, Ul tetap tampil dengan outfit trendy yang kadang bikin kami penasaran gimana bisa dia tracking sejauh 5 km dengan medan yang lumayan hanya dengan sandal di saat kami pake sepatu kets aja udah sakit-sakit kakinya haha. Ul bagiku adalah sosok yang akan sangat mudah disukai orang karena komunikasi interpersonalnya sangat mumpuni. Kalo inget lagi kejadian yang udah-udah, rasanya ga pernah kebayang gimana bisa aku dan Ul ada di circle pertemanan yang sama, terlepas dari kami rekan satu organisasi. Orang yang belum kenal Ul pasti ngira dia jutek, karena memang ekspresinya sepintas menunjukkan itu. Sebagai seorang extrovert, Ul tergolong paradox karena ia tipe yang tertutup. Ul termasuk yang jarang bercerita tentang pribadinya maupun masalahnya. Ul juga tipe cewe yang sangat mandiri. Semasih dia bisa lakuin sendiri, pasti dilakuinnya sendiri. Terlepas dari ambiguitas personality nya, sekali lagi, Ul punya sesuatu yang bikin dia jadi sosok yang lovable banget, sosok ideal untuk jadi seorang teman baik.
  1. Dal, si Konsisten yang Kurang Percaya Diri
  • Entah gimana si-yang-paling-muda ini bisa jadi bagian dari circle kami. Dal adalah yang paling berubah signifikan dari yang pertama kali kami kenal. Entah karena dulu kami belum kenal deket atau gimana, yang pasti kami selalu bilang Dal yang sekarang telah berubah. Dulu, diantara dua rekan setimnya saat lomba debat, Dal yang paling diam. Bahkan dia yang paling jarang merespon SMSku saat aku jadi pendamping tim mereka. Dal yang sekarang selalu bisa bikin suasana jadi rame dengan jokes nya yang out of the box. Jangan coba-coba sembunyiin informasi dari Dal, dia bahkan bisa tau lebih dulu dari orang yang bersangkutan haha update banget sama berita-berita di sosmed. Sebagai personal, Dal juga punya clear vision tentang apa yang ingin dia capai. Dan dalam perjalanan mencapai tujuan tersebut, dia punya fokus dan konsistensi yang harus diacungi jempol. Seberapapun dinamika yang terjadi, dia akan konsisten pada apa yang udah dia tetapin. Hanya saja terkadang dia bisa jadi gak percaya dengan kemampuannya. Dia selalu bilang kalo dia gak percaya diri dengan kemampuan komunikasinya dan terang aja langsung kami tanggapi sinis haha mengingat gimana bercandaan-bercandaannya selama ini yang sangat memerlukan permainan kata-kata. Walau Dal seringkali berisik dengan jokes-jokesnya itu, tapi di saat serius, Dal jadi teman tuker pikiran yang oke banget.
  1. Bim, si Misterius yang Pantang Menyerah
  • Bim menurutku pribadi paling rumit untuk dipahami dari mereka berlima. Sebagai sesama introvert aku bisa memaklumi itu karena aku pun tergolong orang yang rumit. Tapi Bim ini special case dan kayaknya hanya satu temanku yang punya tipe seperti ini. Dengan sosok pendiamnya, Bim tergolong paradox juga seperti Ul karena ia justru terlibat di banyak organisasi selain organisasi riset kami. Bim paling dekat dengan Ul, mungkin karena mereka adalah teman sekelas ketika kuliah dulu. Bim termasuk yang sangat misterius karena banyak aktivitasnya yang tidak kami ketahui yang pada akhirnya ketahuan setelah effort kepo kami di sosmed #eh. Bim juga ahli menggunakan kode-kode implisit bahkan untuk keperluan simpel kayak mau makan bareng atau sekadar nongkrong. Si-yang-gak-bisa-makan-makanan-pedes ini juga moody parah dan suka bikin bingung kalo udah kumat. Tapi terlepas dari itu,  saat kuliah Bim terkenal sebagai mahasiswa dengan segudang prestasi dari banyak bidang. Bim punya semangat pantang menyerah yang mengantarkan ia pada pencapaian-pencapaian di tiap lomba yang diikuti. Tentang hal itu, aku inget banget Bim pernah bilang “orang hanya liat seberapa sering aku berhasil, tanpa tau aku gagal lebih sering”

Itulah Gos, Di, Ul, Dal, dan Bim, lima orang unik yang (tampaknya) akan sering aku tulis kisahnya di tagar #pagiinspirasi ini . Kenapa? Karena setiap hal yang kami perdebatkan satu sama lain selalu menarik untuk dibahas. Dan suatu saat ketika kami sudah melangkah jauh, tulisan yang tertinggal di sini akan menjadi checkpoint kami untuk melihat seperti apa kami dulu, sekarang, dan nanti.

Truth or Truth : Awal dari Flashback untuk Future

Selepas selebrasi late surprise untuk ultah Gos yang ke 25, perbincangan tentang kehidupan dimulai kembali. Sudah lama rasanya kami tidak secara intens diskusi dan update tentang perkembangan yang terjadi pada kami dan hari-hari kami. Dan cara kali ini pun ga biasa. Kami membiarkan arah putaran pulpen untuk menentukan siapa yang akan menjawab apa via Truth or Truth.

Pertanyaan demi pertanyaan bergiliran dilontarkan dan dijawab. Mulai dari yang sederhana hingga yang sulit dijawab. Bukan karena tidak tau, tapi kadang jawaban atas pertanyaan tentang sesuatu tidak bisa dijabarkan dengan kalimat tapi hanya bisa dirasakan oleh siapa yang merasakan. Sejumlah pertanyaan flashback hingga masa yang akan datang silih berganti dan jawabannya pun membuatku menyadari betapa beruntungnya aku ada di antara teman-teman terhebatku itu.

Seperti pertanyaan Dal pada Gos tentang apa yang membuatnya bertahan di circle kami sekarang, pertanyaan menggelitik Gos tentang kenakalan paling parah yang pernah Di lakuin, pertanyaan Ul  tentang sisi positif dan negatif dari kami masing-masing menurut Dal, atau pertanyaanku tentang apa yang akan Ul sampaikan pada kami jika seandainya hari ini adalah hari terakhir kami semua dapat bertemu. Seandainya Bim bisa join di permainan kemarin, pastinya akan banyak pertanyaan yang ia dapat mengingat selama ini dia yang paling misterius di antara kami haha 😀

Setiap jawaban, baik itu yang berkaitan dengan personal maupun tentang circle kami, membuatku lebih mengenal Di, Dal, Ul, dan Gos, bahkan Bim, termasuk perspektif mereka tentang banyak hal. Selama ini aku pikir aku cukup tau tentang mereka, tapi ternyata tidak sebanyak itu. Ada sisi lain dari sosok masing-masing yang baru dapat aku pahami setelah permainan kemarin. Dan ada perasaan yang tak tergambarkan ketika kami bisa saling jujur tentang apa yang kami rasakan tentang pertemanan kami selama ini.

Pertemanan kami dimulai sejak awal 2011 ketika kami pertama kalinya bekerja sama sebagai panitia acara kompetisi internal kampus. Aku bergabung setelah Gos mengirim SMS invitation untuk join di kepanitiaan itu (padahal  saat itu aku belum kenal Gos). Bersama Di dan Ul, kami berempat pun akhirnya menjadi bagian dari kepanitiaan yang diketuai Gos, dan di sana pertama kalinya kami mengenal Dal sebagai adik angkatan yang menjadi peserta lomba. Bim, yang mana adalah teman sekelas Ul, juga ikut di kompetisi itu sebagai peserta. Di sana pertama kali kami berada di lingkungan yang sama, yang kemudian berlanjut ketika kami sama-sama menjadi pengurus organisasi riset di kampus.

Circle ini menjadi semakin erat ketika memasuki akhir kepengurusan di organisasi tersebut. Kami mulai sering bercerita tentang mimpi-mimpi kami setelah masa kuliah selesai. Satu persatu kemudian lulus, dan kami tak ingin kehilangan momen yang pernah kami rasakan ketika masih di kepengurusan dulu. Mulailah kami menemukan apa yang bisa membuat kami untuk tetap bersama melalui Muda Mudi Berbagi yang kami rintis bersama lima kawan kami lainnya. Banyak dinamika sejak status mahasiswa kami habis masa berlakunya. Mengutip yang sering disampaikan Gos, bahwa tidak semua kapal berlabuh di pelabuhan yang sama, kami mulai mendefinisikan ulang cara kami mencapai mimpi-mimpi kami.

Bagiku, circle ini spesial karena tak banyak bisa kutemukan orang-orang yang memahamiku sepenuhnya. Sejauh perjalananku selama ini, begitu banyak yang datang dan begitu cepatnya mereka pergi. Tapi di sini, aku tak pernah merasa ditinggalkan. Walau kami tak selalu dapat bertemu, tapi aku bisa merasakan kalau mereka selalu ada. They don’t accept me as I am ; they help me accept myself as I am. Itu lebih dari sekadar cukup dan aku tak bisa meminta lebih dari itu untuk pertemanan kami ini. Mereka telah menyentuh kehidupanku dan memberi banyak perubahan positif padaku dan cara pandangku. Ul dan Gos juga punya cara pandang sendiri tentang circle ini. Menurut Ul, circle ini berbeda dari kebanyakan circle lain karena cara kami memaknai sesuatu lebih dewasa seiring berjalannya waktu. No more drama. Sedangkan Gos, ketika ditanya tentang kenapa ia tetap bertahan di circle ini, menyimpulkan bahwa perjalanan kami selama ini terlalu precious untuk ia lepaskan.

Truth or Truth semalam menyadarkan kami bahwa perjalanan kami meninggalkan banyak jejak untuk kami kenang, tentang masa lalu maupun tentang yang akan datang. Punya mereka yang menemani perjalanan selama setidaknya empat tahun terakhir ini menjadi salah satu hal yang paling berharga yang tak hentinya aku syukuri dan kuharap akan selamanya begini. Aku teringat pada penutup jawaban Ul atas pertanyaanku kemarin : “semoga kita semua bisa tetap saling menjaga”. Yah, setidaknya kami masih punya satu sama lain 🙂

Nobody can Play Your Role Better than You

Suatu pagi, setahun lalu ketika masa depan masih terasa sangat jauh dan jalan menuju kesana seolah belum juga nampak, Gos membuat ponsel berdering sesaat. Sebuah notifikasi pesan instan muncul dengan bertuliskan “Never change your personality for sake of others. Be yourself. Nobody can play your role better than you. You are the best at who you.” Tagar #pagiinspirasi pun tertulis di akhir kalimat tersebut. Sejak saat itu, entah bagaimana, tagar #pagiinspirasi – yang paling sering dikirim oleh Gos – menjadi sarapan bagi jiwa kami yang disibukkan dengan jutaan mimpi yang coba kami bangun.

Ketika itu, aku ingat, kehidupan kami tak lagi sama dengan bulan-bulan sebelumnya saat kami lulus kuliah. Sebagai anak muda dengan segala mimpi yang telah kami bangun sebelumnya, realita kadang tak sejalan dengan apa yang kami pikir akan kami alami. Kami tau kemana kami akan menuju, setidaknya itu yang paling kami tau saat itu. Idealisme yang kami yakini saat itu, keyakinan kami tentang tujuan akhir kami nanti, membawa kami pada satu pemikiran bahwa apapun yang ingin kami capai nantinya tak akan mengubah kami menjadi kami yang lain. Kami akan tetap menjadi pribadi yang bebas, bebas untuk berpikir dan bertindak menuju destinasi yang telah kami tentukan. Semua terasa sangat mungkin saat itu.

Setahun berlalu, quotes itu kembali muncul ketika aku menemukan kumpulan capture pesan instan di grup kami terdahulu. Menengok sedikit ke belakang, banyak hal ternyata yang terjadi hanya dalam kurun waktu satu tahun. Perubahan status dari ‘mahasiswa’ menjadi ‘belum kerja’ kemudian akhirnya ‘punya penghasilan’, perubahan dari tadinya mau jajan masih pake uang orang tua jadi udah bisa pake duit sendiri. Menyenangkan? Tentunya. Tapi apakah ini yang menjadi persinggahan terakhir kami? Belum tentu. Bahkan mungkin, tentu saja bukan.

Aku dan Dal kini bekerja di perusahaan yang birokrasinya cukup rigid, Di meniti karir medianya di sebuah rumah produksi, Gos dan Ul bahkan bekerja di satu kantor start up yang sama, dan Bim sedang part time sembari menunggu kepastian beasiswa masternya. Banyak yang bilang bahwa posisiku sangat menguntungkan saat ini. Menjadi bagian dari perusahaan telekomunikasi terbesar di negeri ini, yang bahkan tak sempat terpikirkan ketika aku kuliah dulu. Aku masih ingat, setahun lalu ketika kami berkumpul untuk bercerita tentang mimpi kami, mereka mendengarku bercerita tentang keinginanku untuk menjadi pengajar. Tak hanya aku yang saat ini menjalani hal berbeda, Gos yang kami tau sangat ingin berkecimpung di dunia sosial sebagai sociopreneur, saat ini baru saja bergabung dengan sebuah start up game developer. Dua contoh yang cukup menjelaskan bahwa tujuan dan jalan yang kami pilih untuk mencapainya tidak selalu beririsan secara langsung.

Lalu apakah itu berarti kami melupakan mimpi kami? Tentu tidak. Terkadang jalan memutar memberikan perspektif lain dalam perjalanan kita, yang memperkaya pemahaman dan pengalaman untuk kita ceritakan nanti. Tak masalah jalan mana yang ingin dan akan kita pilih, sepanjang tujuan kita, mimpi kita tetap disana. Dan tak masalah ketika kita tidak melihat mimpi kita tetap di tempat semula, asalkan ia bergerak naik, perlahan terbang ke atas, dan membuat kita harus sedikit melompat untuk menggapainya kembali. Khawatir tidak cukup tinggi untuk itu? There are some kind people who always be here to lift us up.  We just need to define our dream, choose a role, play that game, and believe someday we’ll win it. Because nobody can play your role better than you.

Tentang Masa OJT

Setelah masa OS berakhir pada 29 April 2015, kami menghadapi satu tahap baru yaitu On Job Training (OJT). Masih teringat bagaimana khawatirnya kami semua ketika menjelang akhir pendidikan di Corpu, khawatir tentang penempatan OJT kami. Sebagian besar dari kami berharap kota penempatan kami adalah kota asal kami, ya walaupun kami tau itu agak mustahil langsung terwujud. Rasa penasaran kami terjawab di hari penutupan masa OS ketika diumumkan lokasi OJT periode pertama kami hanya sebatas Witel di Regional 2 (Jabodetabek) dan Regional 3 (Jawa Barat) saja. Ketika itu diumumkan bahwa kami akan menjalani dua periode OJT, yang nantinya dirolling menjelang bulan ketiga.

  1. Lokasi OJT 1 : Witel Bekasi

Aku mendapat lokasi penempatan di Bekasi, bareng  Bertha, Bimo, Devi,  Eka, Kak Firdha, Fathan, dan Suhe. Berangkat ke Bekasi tanpa tau Bekasi itu kayak apa, berangkat dari Bandung siang dan sampe Bekasi langsung cari kosan bareng Bertha Devi dan Bimo, dibantu Suhe yang emang orang Bekasi. Lumayan waktu itu setelah cari-cari akhirnya dapet kosan yang bersih dan nyaman walau agak mahal. Keuangan cukup terbantu karena kami masing-masing memutuskan untuk sekamar berdua. Aku bareng Bertha, Devi bareng Kak Firdha, Bimo bareng Fathan.

First Day OJT Witel Bekasi

First Day OJT Witel Bekasi

Ketika kami diberi alamat untuk melapor ke kantor yang di Jl. Rawa Tembaga, kami pikir kami akan ngantor disana bareng-bareng selama OJT. Setelah ketemu Pak Laksi, Manajer HR Witel Bekasi, kami diberi lokasi OJT kami masing-masing yang disesuaikan dengan jurusan kuliah kami. Aku ditugaskan di unit Payment Collection yang berkantor di STO Kranji, which is itu paling jauh diantara temen-temen yang lain. Tapi sumpah enak banget OJT di unit itu. Setiap hari bisa naik angkot, jalan kaki, makin sehat.

 

 

 

 

 

Beberapa hal yang paling aku inget tentang OJT Bekasi :

a. Angkot 05 A

Angkot warna oranye ini adalah kendaraan paling berjasa nganter ke kantor dan balik kosan setiap harinya. Tiap hari kerja aku nunggu angkot ini di deket jembatan penyeberangan depan RS Mitra untuk berangkat ke kantor. Bahkan kadang penumpang angkotnya sama, yang paling kuinget itu bapak-bapak penjual kelapa, yang selalu berhenti di deket toko yang ada kulkas gak kepake, sebelum belok ke jalan Pemuda. Gitu juga dengan pulang ngantor, aku naik angkot ini lagi, berhenti di simpang Kemakmuran untuk kemudian jalan kaki sampe kosan. Ongkosnya 4000 sekali jalan, bahkan kadang dikasi 3000.

b. Nasi Goreng pinggir kali

Seberang gang kosan kami itu ada kali gitu mayan gede. Di sekitarnya banyak yang jual makanan kalo sore, tepatnya deretan seberang RS Hermina. Mulai dari sate, pecel ayam, sampe yang biasa aku beli itu nasi goreng yang enaaakkk banget dan harganya masih Rp 10.000. Entah siapa nama mas-mas yang jualan itu, yang biasanya kesal kalo bayarnya pake uang Rp 50.000 karena dia gak ada kembalian haha. Kalo beli makan di sana enakan bungkus, makan di sana sama aja jadi sasaran nyamuk. Namanya juga pinggir kali ._.

c. Gap Usia yang terlampau jauh

Hal pertama yang aku rasain selama penempatan di Witel itu adalah berasa kerja sama orang tua sendiri. Pasalnya, hampir sebagian besar karyawan di sana punya NIK 60an alias kelahiran tahun 60an. Gap usia yang terlampau jauh ini gak lantas bikin suasana kerja jadi gak asik. Aku malah enjoy banget dan nyaman sama lingkungan kerja di kantor itu, berasa ada yang ngajarin, yang gak keberatan bagi ilmunya, yang ngayomin ngingetin makan, yang care banget kayak orang tua sendiri.

d. SKJ tiap Jumat

after SKJ

after SKJ

Entah kapan terakhir kali ikutan SKJ sebelum itu, lupa saking udah lamanya. Semenjak di Bekasi kami rutin ikut SKJ di kantor Ratem tiap Jumat. Awalnya ngerasa “apaan sihh ini olahraganyaa” tapi lama kelamaan jadi asik juga mayan olahraga. Dan yang enak sih sebenernya after that, soalnya kadang ada sarapannya walau hanya sekadar buah-buahan. Sebagai anak kosan penjunjung asas “Apapun asal gratis”, Jumat itu kesempatanku untuk berhemat haha.

 

 

 

 

 

e. Report ke GM

Ini pengalaman kerja pertamaku dan ketika Pak Laksi bilang per dua minggu bakal ada presentasi ke GM tentang temuan kami di lokasi OJT masing-masing, kemudian rasanya kayak mau sidang lagi. Beruntung GM kami, Pak Firman,  orangnya baik banget, mau sharing pengalamannya, ngasi masukan dan motivasi ke kami sepanjang masa OJT. Bahkan seneng banget rasanya di akhir masa OJT di Bekasi, Pak Firman secara langsung minta bantuan untuk dibuatkan tulisan sesuai dengan topik yang beliau minta. Namanya bikinin tulisan untuk orang nomer satu di kantor pasti nervous, tapi setelah beberapa kali revisi, tulisan itu akhirnya bisa selesai tepat di hari terakhir aku ngantor di sana.

f. Last Day

Ketika hari terakhir masa OJT periode 1 kami di Bekasi, aku berpamitan ke kantor Kranji. Kebetulan beberapa hari sebelumnya aku ngantor di pusat karena ada kerjaan yang harus diselesaiin di sana. Pas bilang ke bapak ibu di sana kalo aku bakal pindah, rasanya nyesek aja. Gak pernah nyangka ternyata sedih juga pamitan sama bapak ibu di sana. Pas salaman satu-satu, mereka pesen supaya aku hati-hati dan jaga diri di tempat yang baru, dan didoain supaya betah dan sukses di sana. Sedih rasanya ninggalin kantor itu.

Last Day

Last Day

 

 

With GM Bekasi

With GM Bekasi

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  1. Lokasi OJT 2 : Divisi Enterprise Service (DES)

Senin, 29 Juni 2015 keluarlah Nota Dinas yang mencantumkan lokasi OJT periode 2 kami. Sebagian besar masih tetap di Witel, sisanya yang jurusan Manajemen, Teknik Industri, Hukum, Komunikasi, DKV, dan Akuntansi pindah ke divisi dan Direktorat yang sesuai dengan latar belakang pendidikannya. Aku gak pernah kebayang rasanya kerja di Jakarta, tapi penugasan itu membuatku harus merasakan ibu kota seenggaknya selama tiga bulan sisa masa OJT. Bersama 29 rekan lainnya, kami berkantor di Menara Multimedia Jalan Kebon Sirih, Jakarta Pusat. Dua puluh lima orang di DES, sedangkan lima sisanya ditarik ke Divisi Government Service (DGS). Gausah ditanya apa rasanya dari Witel pindah ke DES, beda banget.

a. Education Management Service (EMS), Lantai 13

Selama OJT di DES, aku ditempatkan di segmen EMS. Ketika diumumkan pembagian segmen di hari pertama kami ngantor, aku excited kebagian segmen edukasi soalnya nanti berhubungannya dengan kampus. Aku masih belum bisa move on dari dunia perkampusan, dan di segmen ini aku bisa tiap saat ngerasain atmosfer pendidikan. Segmen EMS menempati lantai 13 bersama segmen MAS. Pikirku, tumben ya ada gedung yang ada lantai 13 nya hehe

Part of EMS

Part of EMS

b.  Tenggo ? It’s impossible

Setiap jam 5 sore lagu Hymne Telkom dikumandangkan dan (seharusnya) itu jadi penanda waktunya pulang. But, guess what? Gak ada satupun yang beranjak dari tempat duduknya. Di hari pertama ngantor di sini aku pikir “Oh mungkin nunggu magrib” , ternyata engga juga. Bahkan sampe jam 7 pun personilnya masih lengkap. Beda banget sama Witel yang jam 5 pada solid langsung pulang. Mungkin itu bedanya kerja di area dan di pusat ya.Bahkan di kantor ini aku jadi sering lembur. Pulang ketika langit masih keliatan warna birunya itu udah ajaib namanya. Rekor sementara pulang termalem sampai saat ini adalah jam setengah sebelas malam du du du du~

c. Bootcamp AM di Desa Wisata TMII

Bootcamp EAM DES Batch II 2015

Bootcamp EAM DES Batch II 2015

Penugasan kami di DES sejak awal diarahkan untuk menjadi Account Manager (AM). Fyi, AM itu adalah orang yang bertugas melayani corporate customer dan membina hubungan jangka panjang dengan PIC di perusahaan yang ditanganinya dengan harapan semakin banyak solusi atau produk kita yang dibeli atau digunakan oleh customer kita. Istilahnya consultative sales lah, semacam jadi konsultan customer untuk kebutuhan IT nya. Untuk meningkatkan pengetahuan dan kapabilitas kami sebagai calon AM, diadakanlah bootcamp selama 4 hari yaitu 10 – 13 Agustus 2015 di Desa Wisata TMII. Ketika bootcamp kami dilatih untuk selalu cepat merespon situasi, tetap solid dalam tim, dan pastinya fokus pada tujuan. Banyak games yang dimainkan selama bootcamp itu, dan yang bikin kaget diawal adalah keberadaan kang Nanang dari Wanadri di sana. Kami udah berpikiran bahwa pelatihan ini mirip Wanadri ketika di Corpu dulu, ternyata gak juga. In class training lebih mendominasi ketika bootcamp ini. seru nya lagi kita sekamar itu 10 orang ramean, tidurnya pun kayak di asrama ada tempat tidur yang tingkat gitu. Di akhir bootcamp, kami masak-masak bareng. Seru pokoknya.

d. Visit ke kampus

Yang paling aku nikmati selama OJT di DES EMS ini adalah ketika aku diajak visit ke kampus sama AM di EMS. Kampus yang pernah aku kunjungi itu Trisakti, UI, IPB, UPN Veteran Jakarta, dan UNJ. Aku belajar gimana berinteraksi sama pihak kampus, gimana cara gali informasi kebutuhan IT mereka, dengerin ada isu apa di kampus itu, dan yang paling penting jalan-jalan keluar kantor haha. Abisan suntuk kan kalo ngantor terus, kalo kerjanya sambil jalan-jalan kan enak. Paling enak itu pas visit ke UI soalnya naik KRL kan, dan guess what, ketika di UI aku disangkanya mahasiswa yang mau masuk sana -.-“

e. Mengenal Jakarta

@ Museum Nasional Indonesia

@ Museum Nasional Indonesia

Ditempatin di Jakarta otomatis membuatku berusaha mengenal ibukota negara ini. Mulai dari belajar transportasi umumnya macam KRL, Busway, Bajaj, dan Gojek, belajar daerah-daerah sekitar kantor, rute ke Pura, sampe mengenal tempat main yang affordable secara cost. Jakarta juga mempertemukanku dengan temen-temen kuliah, khususnya temen-temen New Wave. Waktu itu secara dadakan pernah main bareng Adi, Ihdal, Mega, Wahyu, Uty, Ayulia, dan kebetulan Bagus waktu itu lagi di Jakarta. Gak lama kemudian juga aku pergi lagi sama Adi Ihdal Ayulia mengunjungi museum dan naik city tour bus. Yah, so far Jakarta not bad lah.

 

Walau kedua lokasi dan penugasan selama OJT yang aku jalani, ada satu persamaan keduanya, sama-sama ada evaluasinya. Evaluasi OJT periode pertama dilakuin di pertengahan bulan Juni, sedangkan evaluasi OJT periode kedua sekitar pertengahan bulan Agustus. Rasanya sama, namanya juga diuji di depan expert. Bahkan sidangpun kalah degdegannya. Tapi syukur selama dua kali evaluasi itu aku selalu kebagian evaluator yang baik banget. Dan jangan lupain satu part penting selama OJT, keberadaan mentor. Mentor kami di Witel Bekasi adalah Pak Andi Hermawan, yang kemudian jadi mentor kami sepanjang masa OJT sekaligus evaluatorku di eval kedua. Baik banget bapaknya, selalu ngasi motivasi ke kami, dan gak ragu buat sharing pengalamannya selama di Telkom. Liat Pak Andi, bahkan sejak in class training di Corpu dulu selalu bikin aku pengen nantinya bisa sharing kayak gitu juga, jadi expert.

Setelah OJT ini masih ada satu tahap lagi sebelum kami menjadi karyawan tetap, yaitu masa percobaan selama tiga bulan. Khawatir tentang penempatan pasti ada, tapi khawatir mendapat penugasan yang membuatku gak nyaman mungkin lebih bikin kepikiran. Tapi apapun keputusan di SK nanti, semoga kami bisa menjalankan tugas kami dengan baik.

Tentang Masa Orientasi Sarjana 1 (OS1) Telkom 2015

Bagi calon karyawan Telkom yang sudah dinyatakan lolos seleksi tahap akhir, perjuangan panjang sesungguhnya baru saja dimulai. Perjuangan pertama adalah melewati tahap Orientasi Sarjana (OS). Tahun 2015 ini, pelaksanaan tahap OS yang biasanya berkonsep Pembinaan Mental (Bintal) dimodifikasi menjadi konsep Pembentukan Karakter. Jika angkatan-angkatan sebelumnya merasakan sulitnya sekian minggu di markas TNI, tidak demikiannya dengan kami, OS 1 2015 yang merasakan masa-masa OS di Telkom Corporate University (Corpu), Gegerkalong. Hampir enam bulan sejak hari pertama kami dikarantina, kenangan tentang masa OS tetap melekat. Berikut 15 fakta tentang OS 1 Telkom 2015 :

  1. Jumlah 113 orang, 3 pleton, 5 kelas
OS 1 2015 day 3 134

Pembukaan Pelaksanaan Orientasi Sarjana Angkatan 1 Tahun 2015

Jumlah total siswa OS 1 2015  adalah 113 orang (57 perempuan, 56 laki-laki) yang berasal dari sejumlah kampus, seperti UI, UGM, ITB, Tel-U, ITS, Unpad, Maranatha, Unpar, sampai Unhas. Ada juga yang berasal dari S2 kampus luar negeri, yang pelatihannya digabung dengan periode kami. Dari jumlah tersebut, kami kemudian dibagi ke dalam tiga pleton yang masing-masing terdiri dari 38 dan 37 orang. Kami juga dibagi dalam lima kelas, dari A sampai E. Tiap pleton dipimpin oleh komandan pleton dan untuk kelas dipilih masing-masing satu orang wali kelas sebagai penanggung jawab.

 

 

 

 

  1. Para Pelatih dari Pusdikhub
OS 1 2015 day 1 4

Para Pelatih Pusdikhub

Pelatih adalah sebutan untuk mereka yang merupakan sersan dari Pusdikhub dan bertugas mendampingi kami selama pelatihan di Corpu. Ada total lima orang pelatih yang berinteraksi secara intensif dengan kami. Ada Letnan Tri Hendratmoko, Sersan Kepala Iswanto, Sersan Engkus Kusnadi, Sersan Taufik, dan Sersan Army. Yang paling kami ingat adalah ekspresifnya pelatih Tri kalo lagi ngomong, lawakan-lawakan pelatih Is, tersiksanya mesti push up sit up dan sikap perahu kalo olahraga pagi diawasi pelatih Engkus dan pelatih Taufik, dan yang gak kalah penting kalimat “Kurangi suara sendoknya ~ “ dari pelatih Army saat sarapan, makan siang, maupun makan malam terutama di awal masa pelatihan kami. Kami juga diajarkan beberapa lagu penyemangat yang selalu kami nyanyikan ketika mobilisasi dari satu tempat ke tempat lain. Dari pelatih kami belajar bahwa semua ada porsinya, ada saatnya serius ada saatnya bercanda. Harus selalu disiplin dan mengutamakan keselamatan. Terimakasih pelatih ! 😀

  1. Mess, Kamar, dan Jaga Serambi
Hesti & Indah, room mate 210 :)

Hesti & Indah, room mate 210 🙂

Selama hampir sebulan menjalani pelatihan di Corpu, kami tinggal di mess Widyaloka dekat gedung Indigo. Untuk yang perempuan menempati lantai dua, sedangkan yang laki-laki di lantai tiga. Satu kamar ditempati oleh tiga orang yang udah diatur berdasarkan absensi. Kamar pun harus selalu bersih, gaboleh ada makanan di dalamnya khususnya permen (walaupun kadang sembunyi-sembunyi kami bawa kue yg ga sengaja disimpen buat dicemilin malem hari). Bahkan pengaturan posisi baju di lemari dan lipatan selimut pun diatur. Semuanya harus teratur dan rapi. Kalo gak? Siap-siap aja mendapati semuanya diacak-acak pelatih kalo tiba-tiba ada sidak.

Jaga serambi adalah aturan yang mulai diberlakukan di minggu kedua pelatihan. Setiap satu jam sekali, akan ada empat orang yang bertugas jaga serambi. Tujuannya untuk mastiin keadaan aman dan cepat tanggap kalo ada temen yang sakit di malam hari. Teorinya sih gitu. Kenyataannya? Pindah tidur doang dari kamar ke sofa ruang tengah haha :p

  1. No telecommunication device :’)

Pernah ngerasain ketinggalan handphone pas lagi keluar rumah? Mati gaya gak? Kami merasakan selama hampir sebulan tanpa alat komunikasi, tanpa berhubungan dengan dunia luar. Di hari kedua pelatihan, handphone kami dikumpulkan dan dimulailah hari-hari primitif kami selama pelatihan. Tujuan sebenernya baik, supaya kami fokus pada pelatihan kami yang jadwalnya emang padet banget. Tapi satu hal positif yang aku sadari dengan aturan ini adalah interaksi kami satu sama lain jadi intens karena komunikasi yang kami punya hanya komunikasi antarkami masing-masing. Baru pada minggu kedua kami bisa sesekali berkirim kabar ke keluarga ketika kami diberi akses internet melalui laptop. Sesekali berkirim email maupun chat Line, itu udah bahagia banget rasanya haha.

  1. WANADRI !
OS 1 2015 day 4 31

Karena Wanadri lah yang bikin kami semakin akrab …

Wanadri adalah organisasi penjelajah rimba dan kakak-kakak Wanadri jadi pelatih kami selama empat hari di hutan konservasi Gunung Masigit Karembi, Cicalengka. Selama empat hari itu kami selalu dibagi ke dalam regu-regu yang diganti tiap hari dan tugas yang beda-beda per harinya. Mulai dari bikin atribut, jelajah hutan, diriin bifak, masak, bikin dapur umum, games, dan hal lainnya untuk latihan team building. Kegiatan inilah yang bikin kami makin mengenal satu sama lain, bikin kami makin deket. Susah seneng bareng, ketawa bareng, capek bareng. Hidup seadanya selama empat hari. Mulai dari minum air mentah, nyeduh Energen satu dibagi sekian orang, saling bantu selama jelajah hutan, saling ngasi semangat satu sama lain. kebersamaannya berasa banget.

 

 

 

  1. Company Visit
Telkom Infra Company Visit

Telkom Infra Company Visit

Company Visit dilakukan ke beberapa anak perusahaan Telkom, yaitu Telkomsel, Telkom Infra, Ad Medika, dan Telin. Kami dibagi ke dalam empat keberangkatan selama dua hari, dimana satu kelompok mengunjungi satu lokasi. Aku kebagian ke Telkom Infra, dan saat itu kunjungan dilakukan ke Telkom di Slipi, Jakarta Barat. Presentasi dari anak perusahaan yang tergabung di Telkom Infra, seperti Mitratel, Telkom Access, dan Telkom Property menambah wawasan kami tentang bisnis Telkom, khususnya yang terkait dengan infrastruktur. Begitupula dengan covit kelompok lainnya. Di minggu ketiga, masing-masing kelompok presentasi tentang apa yang mereka dapet dari company visit itu, jadi wawasan kami makin bertambah gak cuma tentang satu anak perusahaan.

 

 

  1. Pembinaan Rohani (Binroh)
OS 1 2015 day 9 2

Suasana kumpul sebelum binroh

Setiap harinya, kami semua diwajibkan untuk mengikuti pembinaan rohani (binroh) setiap subuh. Masing-masing, baik yang Islam, Kristen, maupun Hindu didampingi pembimbing yang juga karyawan Telkom untuk menanamkan aspek-aspek spiritual pada kami. Selama sebulan pelatihan, kami difasilitasi dengan waktu dan tempat untuk beribadah. Tiap jam 3 subuh kami dibangunkan untuk mobilisasi ke tempat masing-masing sampai menjelang jam 5 subuh. Mungkin gak sedikit dari kami yang tertidur selama sesi binroh ini, apalagi sejak diberlakukan jaga serambi haha. Tapi positifnya, jadi semakin religius sejak pelatihan di Corpu.

 

 

  1. In class training
Classmate, Kelas C

Classmate, Kelas C

Selain aktivitas rutin di lapangan, kami juga mendapat in class training dengan berbagai materi tentang Telkom, mulai dari bisnisnya, industrinya, budayanya, sampai informasi-informasi anak perusahaan. Ada juga materi tentang personality dan creative thinking. In class training ini ada yang dikemas dengan kelas terpisah (kami dibagi dalam lima kelas), maupun kelas gabungan. Instrukturnya beragam, mulai dari para expert Corpu yang punya pengalaman sekian tahun di Telkom sampai Guru Militer dari Pusdikhub yang berbagi tentang Pilar Kebangsaan.

 

 

  1. Sleep away? Yes, We Did !

Selama masa pendidikan dari TK sampe S2, baru pendidikan di Corpu aku ngerasain yang namanya ketiduran di kelas. Entah itu dua detik, sepuluh detik, atau mungkin lebih lama dari itu, tetep aja ketiduran judulnya. Apalagi kalo kebagian jadwal jaga serambi jam terakhir, udah paling mantap ngantuknya. Gak heran kalo waktu yang ditunggu itu adalah waktu Coffee Break. Atau kalo udah liat ada yang bolak balik keluar masuk kelas, pasti itu yang pada ngantuk. Da kami mah pasrah anaknya, suruh berdiri kalo ngantukpun kami nurut ~

 

  1. Caraka Malam
Suasana Caraka Malam

Suasana Caraka Malam

Kegiatan ini kami ikuti di akhir minggu kedua. Waktu itu kami dibawa ke tempat latihan para pelatih di daerah Cimahi. Inti kegiatannya adalah nyampein pesan yang dikasi di start ke finish tanpa membocorkan informasi itu ke siapapun. Dalam perjalanan dari start ke finisih, petunjuk jalannya hanya seutas tali rafia yang memang terhubung dari start ke finish. Keliatannya sederhana, tapi ga semudah itu. Gak ada penerangan apapun kecuali sinar bulan. Setiap keberangkatan terdiri dari tiga orang dengan pesan yang berbeda-beda. Dan gausah ditanya apakah perjalanan baik-baik aja atau gak. Sepanjang perjalanan ada beberapa pos dengan tugas berbeda, mulai dari interograsi, cari identitas nama, sampai nebak binatang melata apa yang udah disiapin di tiga ember di pos terakhir. Belum lagi ditakut-takutin kayak tiba-tiba ada kain yang lewat, ada pelatih yang pake kostum-kostum serem, lumayan nguji nyali dan mental.

  1. PBB,Yel-Yel, dan Games
OS 1 2015 day 21 50

Demonstrasi PBB Pleton 2

Peraturan Baris Berbaris (PBB) adalah hal rutin yang kami lakukan selama pelatihan di Corpu. Hampir ga ada pagi yang kami lewatkan tanpa latihan PBB, tepatnya sebelum apel pagi. PBB ini biasanya dilakukan per pleton, dimana satu pleton terdiri dari 38 atau 37 orang. Karena jumlah kami ada 113 orang, maka dibagi ke dalam tiga pleton, sesuai urutan absensi. Begitupula dengan yel-yel yang harus dibuat per pleton. Tapi bedanya, untuk yel ini selain yel pleton ada pula yel batalyon. Batalyon itu gabungan dari ketiga pleton yang ada. PBB dan Yel-Yel kemudian dilombakan di beberapa hari sebelum pelatihan berakhir. Pleton dua sapu bersih juara di dua lomba itu yeaayyyyy !

 

 

Kelompok 4

Kelompok 4

 

Games dilombakan sehari sebelum lomba PBB dan Yel. Ada tiga games yang dimainkan ketika itu. Air Suci, Bola Buta, dan Lumpur Panas. Seru banget ketiganya, intinya kerjasama, komunikasi, dan percaya sama tim kita. Pelajaran yang akan bermanfaat sampai kapanpun dan situasi apapun.

 

 

 

 

 

12. Olahraga Sore

Olahraga 'santai' sore hari

Olahraga ‘santai’ sore hari

Olahraga bisa jadi merupakan aktivitas yang jarang aku lakuin selama kuliah. Tapi gak ketika di Corpu. Olahraga tiap jam lima subuh itu wajib, bahkan di minggu kedua olahraga pun dilakukan di sore hari. Entah mau jogging aja, atau main basket, atau main bola, atau apapun lah yang bisa dilakuin bareng sambil nunggu waktu magrib. Pernah suatu hari kami olahraga sore dengan have fun senam ala-ala dan diakhiri beberapa gerakan yoga. Pernah juga kami satu kelas karaoke bareng, dan makin berasa kebersamaannya justru di akhir masa pelatihan. Satu sisi seneng, satu sisi sedih juga.

 

 

  1. CSR Ke Panti Asuhan
OS 1 2015 day 24 240

CSR Tim 2 di PSAA Ciumbuleuit

Sebelum pelatihan berakhir, kami diberi project CSR dan ketika itu kami mutusin untuk CSR dengan bikin perpustakaan di tiga panti asuhan di Bandung. Gak cuma bikin perpustakaan, kami juga mengadakan acara bareng adik-adik di panti. Ada games, ada juga presentasi tentang apa yang jadi cita-cita mereka kelak. Kegiatan ini mendapat apresiasi positif para pengurus panti dan antusiasme yang luar biasa dari adik-adik di sana. Selalu ada kebahagiaan yang ga bisa diungkapin ketika kita bisa berbagi apapun yang kita punya untuk mereka yang membutuhkan 🙂

 

 

 

 

  1. Mitigasi Bencana dan Renungan Suci
OS 1 2015 day 20 147

Simulasi Gempa

Pernah bayangin gak tengah malem pas asik tidur tiba-tiba ada sirine kenceng dan ada suara-suara teriak “Gempa Gempa !” ? itu terjadi di minggu ketiga pelatihan kami. Sebenernya udah mulai curiga ketika habis makan malam ada materi tentang mitigasi bencana, dan sebelum bubar pelatih bilang “Kalo seandainya nanti terjadi, siapin makanan secukupnya, berkas-berkas penting, dan baju di satu tas yang gampang dibawa”. Untung sebelum tidur udah disiapin. Bahkan beberapa dari kami tidur dengan baju olah raga lengkap dengan kaos kaki. Dan bener aja, sekitar jam 11 kami dibangunkan oleh sirine itu dan dikumpulin di lapangan.

Setelah itu dilanjutkan dengan renungan suci. Kami diingatkan dengan keluarga kami, dan apa yang akan kami jalani setelah pelatihan selesai. Diingatkan dengan tanggung jawab kami, tidak hanya untuk Telkom, tapi untuk Indonesia.

OS 1 2015 day 20 212

 

 

 

 

 

 

 

15. Closing Ceremony

OS 1 2015 day 25 35Hari penutupan pelatihan mungkin adalah hari yang kami nantikan ketika awal pelatihan. Tapi kenyataannya, ada rasa sedih yang tertinggal ketika kami menyadari bahwa kedekatan kami satu sama lain justru baru terbangun di hari-hari terakhir. Ketika itu rasanya deg-degan juga ketika harus menghadapi pengumuman penempatan OJT kami. Beruntung, kami masih disebar di sekitar Regional 2 dan 3. Setidaknya masih berdekatan dan belum tersebar jauh. Closing ceremony saat itu membuat kami berbaur, tidak hanya siswa OS, tapi juga pelatih dari Pusdikhub dan management Corpu. Saat itu juga disebutkan bahwa akan ada inaugurasi di akhir masa OJT kami sekitar bulan Oktober.  Malam itu ditutup dengan nyanyi dan joget bareng. Dan keesokan paginya, satu persatu dari kami meninggalkan mess. Berpisah untuk sementara, menuju tempat OJT masing-masing.

 

OS 1 2015 day 25 4